Utamakan Allah

Dr. Amir Faishol Fath pada suatu kesempatan di Masjid Baitul Hikmah Elnusa pernah mengatakan :

Utamakan Allah maka Allah akan beresin urusan kita.”

Ada peristiwa penting yang menunjukkan kepatuhan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih anaknya, Ismail, karena memenuhi perintah Allah SWT. Kesediaan ini menunjukkan tingkat kehambaan Nabi Ibrhaim  yang menempatkan Allah SWT di tingkat tertinggi dalam lubuk hatinya. Ia telah membuktikan kepada dunia bahwa tuntutan Allah lebih ia utamakan daripada menuruti perasaan, ego dan emosinya sendiri. Karena sikap inilah kemudian Allah memberinya gelar khalilullah (kekasih Allah).

Hikmah dari peristiwa tersebut yaitu seyogyanya setiap muslim mendahulukan Allah daripada nafsu dan egonya. Pengorbanan sejati belum dapat diraih selagi kita belum mempersembahkan sesuatu yang paling kita cintai untuk Allah SWT.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Katakanlah, jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri dan keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang fasik.” 

(QS at-Taubah: 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala  memerintah Nabi-Nya untuk mengingatkan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang mengedepankan cintanya terhadap delapan hal di atas, hingga lalai menjalankan amalan yang diwajibkan oleh Allah.

Sebenarnya hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat yang luar biasa dalam hal kecintaan mereka kepada Allah. Begitu pula generasi berikutnya dari kalangan tabi’in dan seterusnya. Mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan, para sahabat meninggalkan tempat tinggal dan keluarga mereka untuk menjalankan kewajiban hijrah pada masa itu.

Perkara ini memang berat pada awalnya. Namun jika hal itu kita lakukan dan istiqomah menjalankannya, sedikit demi sedikit kemanisan iman akan terbit di hati.

Seseorang akan berat berpuasa ketika semua orang makan, bangun tahajud saat semua orang tidur. Demikian juga menjaga lisan sangat berat ketika semua orang sangat ringan membicarakan aib orang lain. Namun bagi orang beriman, ia akan memilih berbeda dengan orang lain demi kecintaannya kepada Allah.

Berkata Ubay bin Kaab:

Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, melainkan Allah SWT akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari sumber yang tidak disangka-sangka.”

Balasan lain yang telah disiapkan bagi orang yang meninggalkan nafsunya karena Allah yaitu ia akan mendapat ganti yang lebih baik daripada perkara yang ia tinggalkan.

 

Temukan inspirasi lainnya pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *