Aku Harus Bagaimana?

Aku Harus Bagaimana?

Aku Harus Bagaimana?

 

Pendemi Covid19 mengagetkan banyak pihak. Tak terkecuali pelaku bisnis skala mikro. Usaha mikro ini bagian dari UMKM yang selama ini kita kenal. Ehm..bagaimana menggolongkan sebuah bisnis itu masuk skala mikro? Menurut beberapa ahli, sebuah usaha disebut mikro, jika omzet atau hasil penjualannya menthok di Rp. 50 juta per bulan. Tak jarang usaha ini dijalankan oleh 1 hingga 5 orang, biasanya anggota keluarga sendiri. Administrasi keuangan juga tidak dilakukan dengan baik dan tertulis. Acapkali, keuangan pun bercampur antara uang usaha dengan harta kekayaan yang dimilikinya.

Pandemi ini mengharuskan banyak orang mengubah cara belanja. Biasanya bisa langsung ke pasar. Tawar menawar di tempat. Bagi beberapa orang interaksi yang mengasyikkan bahkan semacam pembuktian. Ada negosiator ulung. Bagi yang buru-buru dan tidak pandai menawar, ingin kepastian. Ia meluncur ke supermarket sembari sedikit ngadem. Harga pas bandrol.

Situasi beberapa bulan ini jadi pembeda, pembeli bisa belanja lewat aplikasi. Paling banter kalau pun ada komunikasi lewat udara juga. Tak perlu tatap muka secara fisik. Transaksi daring, dalam jaringan atau on-line. Harga tetap, tak ada ruang negosiasi. Kalau pun ada fasilitas, seperti potongan harga, ongkos kirim gratis, itu semua diset-up oleh penjual. Pasrah bongkokan.

Belum lagi, pandemi membawa dampak tak kalah dahsyat. Banyak karyawan yang menjadi pedagang dadakan. Ada karyawan yang mulai ancang-ancang, bersiap diri. Mengantisipasi kondisi terburuk datang. Apalagi bekerja dari rumah memberikan banyak waktu yang bisa diatur secara mandiri. Tak jarang meski masih memegang posisi tertentu, mulai menekuni hobinya. Biasanya untuk dikonsumsi atau dinikmati sendiri. Kali ini mulai dijual. Suka masak, mulai meracik menu dan jadi olahan. Punya kegemaran kerajinan tangan, mengutak-atik sesuatu untuk bisa menghasilkan uang tambahan. Parahnya, ada yang terpaksa jadi pedagang, karena terkena PHK. Melamar ke perusahaan lain tak kunjung dapat panggilan. Padahal, dapur harus terus ngebul. Segala upaya dilakukan. Apa pun dilakukan menjual dan juga menjual barang. Awalnya untuk kalangan terbatas. Konsumen yang dibidik bisa di sekitar rumah atau teman dekat.  Penawaran melalui whatsapp grup. Tak ayal, komunikasi serius atau begejekan alias candaan, tak jarang diselingi postingan penawaran barang dan jasa. Ada yang terganggu, tak jarang memaklumi. Admin pun harus membuat aturan-aturan baru, Memang kita memasuki dunia baru.

Kondisi ini juga, di satu sisi membawa keuntungan. Selalu ada kebaikan di setiap kejadian. Allah SWT, Tuhan Maha Adil. Kali ini, pelaku usaha tak perlu repot lagi menyewa tempat usaha. Ia bisa berjualan dari rumah, kapan pun ia mau. Bisa  buat dan langsung jualan. Tak ada jeda pengurusan sewa atau bahkan beli ruko atau lapak di pasar/mall. Tak perlu lagi menjajakan dagangannya ke toko. Istilah kerennya, product listing. Biaya promosi juga relatif lebih rendah. Tak perlu mencetak dan menempelkan media promosi. Cukup daring.

Dengan segala hiruk pikuk itu, pengusaha mikro juga kelabakan. Bagaimana tidak? Ia juga harus mengubah cara berdagang. Mereka belum siap. Tergopoh-gopoh. Panik bagaimana kulakan alias membeli bahan baku. Banyak pasar yang jam operasinya dibatasi. Pedagang di pasar juga banyak yang memilih menutup lapak untuk sementara. Kalau pun dapat barang, menggunakan kontak telpon. Belum lagi, menjual pun tak bisa menjajakan langsung. Mereka mulai menjual secara daring. Tak gampang. Masih asing. Tapi tantangan di depan, mata, disadari atau tidak jumlah pedagang bertambah. Pedadang Dadakan Dampak Pandemi bermunculan. Banyak banget.

“Aku harus bagaimana?” Pertanyaan ini sering menggelayut pengusaha mikro hingga kini.

Wajar. Masa pendemi tak bisa diduga durasinya. Bulan-bulan ini pun masih saja meningkat jumlah penderitanya. Sedih. Karena dampaknya bisa lebih parah. Termasuk sector ekonomi.

Tentu saja, ada jawaban yang sangat klasik. Klasik tapi manjur. Harus tetap usaha. Karena kalau berhenti berarti mematikan pemasukan. Pasti itu. Bukankah jika usaha diteruskan, kalau kembang kempis alias tersendat, lama-lama bisa mati juga? Tidak salah anggapan itu. Tapi harus diingat, kalau berhenti, langsung mati. Nah, jika diteruskan masih ada peluang hidup. Potensi untuk tetap eksis bahkan berkembang. Tentu saja, kita harus menyesuaikan dengan kondisi. Adaptif. Tak bisa lagi berdagang dengan cara yang sama. Perlu perubahan.

Gusti Allah sudah berjanji dalam Surat Al-Insyirah ayat 6:

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Yuk, terus berupaya, adaptif dan berdoa. Tak ada kata menyerah. Selalu ada kebaikan pada setiap kondisi yang menurut kita, sangat buruk sekalipun.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

thirteen + eleven =