Kenapa Harus Beli Produk Saya?

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Masa seperti sekarang ini, jamu gendong pun punya saingan. Ada beraneka ragam jamu dijual secara daring. Kemasannya juga ciamik. Kesan pertema bgitu menggoda. Dipandang saja sudah menggiurkan, apalagi rasanya. Belum lagi, kemasan dalam bentuk botol. Memudahkan saat ingin menikmatinya. Nggak pakai repot. Kocok, buka tutupnya, langsung tenggak. Suegeer. Ketemu langsung dengan penjual jamu menjadi prioritas nomor sekian. Itu ilustrasi untuk menggambarkan betapa persaingan pun sudah begitu terbuka. Bahkan pendatang baru terasa lebih bersahabat, inovatif, dan lebih menarik perhatian. Kondisi itu juga dirasakan oleh seluruh pengusaha skala mikro yang berhubungan dengan memanjakan perut.

“Lha, terus.. apa dong yang membuat pelanggan tetap suka sama produk saya. Mereka tetap mau membeli produk saya?” banyak pertanyaan serupa seperti itu.

Ada yang reaktif. Langsung meniru apa yang dilakukan pendatang baru. Tapi tak lama, dia pun nyonyor bin dlosor. Kelimpungan dan akhirnya tak bisa bertahan. Padahal kalau soal rasa. Jamu racikannya banyak dipuji orang.

Coba cek lagi apa sebenarnya apa yang dibutuhkan pelanggan. Biasanya tak jauh dari harga dan kepraktisan. Apalagi kondisi seperti ini, harga miring alias lebih murah bisa jadi pilihan utama. Meski kemasan juga menjadi daya tarik. Ada juga pembeli kecele.

“Rasa beda jauh. Keren di tampang doang”, kata beberapa orang yang kecele.

Tampang itu maksudnya, kemasan. Hasil curi dengar, pernah ada lontaran dari penikmat jamu saat ada produk baru. Mereka bergumam, sebenarnya ini jamu atau sirup. Muaniis pool. Jadi sebenarnya pelanggan meminta rasa jamu yang khas, komposisi pas, dan tentunya harga terjangkau. Nggak gampang memang. Kalau semua sudah pas, tentu menambahkan kebutuhan pelanggan. Kepraktisan. Menambah kemasan botolnya.

Jadi pelanggan setia selama ini karena rasa dan komposisi, kita tambah kemasan yang memudahkan mereka. Memang ada tambahan botol plastik, seakan-akan bisa ada tambahan biaya. Sehingga mempengaruhi harga jual. Perlu siasat khusus agar pelanggan tidak berpaling karena penambahan harga.

Begini salah satu caranya, harga jual dibuat tetap. Lho, kan bisa menurunkan keuntungan? Bisa merugi? Belum tentu. Bisa menggunakan strategi volume.

Jamu gendong dijajakan berkeliling. Ada yang benar-benar digendong. Ada juga yang pakai gerobak dorong.

  • Harga jual per gelas (perkiraan isi : 180 ml) : 3.000
  • Harga botol plastik 260 ml + label : 1.000.
  • Jamu yang dimasukkan botol, 240 ml : 4.000.

Jika harga ke konsumen (belum termasuk ongkos kirim) adalah 5.000, maka harga jamu ‘kelihatan’ naik. Namun, itu sama. Volume atau isi jamu yang ditambah. Nha, terus untungnya dimana? Tetap dari jamunya, masih sama dengan keuntungan sebelumnya. Jika dari komponen jamu sebelumnya bisa untung 20%, maka pas jualan dalam gelas, untung 600. Ketika pindah ke botol, untung 800. Itu istilahnya profit margin. Jadi kelihatan lebih untung jualan dalam botol, tapi sebenarnya tetap.

Apa ada potensi keuntungan lain? Ada, dari pembelian botol plastik. Bagaimana caranya? Misal 1 hari ditargetkan 100 botol, maka bisa juga pembelian dilakukan dengan perjanjian. Pembuat jamu bisa membicarakan dengan sang penjual botol, kalau beli banyak dapat diskon berapa? Lho, banyak itu berapa? Kok beli banyak, bukannya sehari cuma 100 pcs. Betul, kita buat peramalan berdasarkan data, jualan jamu optimis selama 6 bulan misalnya. Sebulan butuh, 3.000 botol.  Berarti. 6 bulan, butuh 18.000 botol. Jika beli sebanyak itu, berapa dapat potongan harga? Pengiriman misal setiap 5 hari, dikirim 500 pcs. Jika sepakat dan mendapat potongan harga, katakanlah Rp. 50,-, maka angka itu menjadi keuntungan tambahan. Tadinya, untung Rp. 800,- per botol menjadi Rp. 850,- per botol dalam kemasan. Itu setara dengan 17,5%. Penghasilan bersih per bulan bisa Rp. 2,6 juta. Angka yang patut disyukuri.

Gambaran ini perlu dihitung lebih rinci sehingga mendapatkan angka atau harga jual yang pas. Karena situasi kondisi di setiap daerah tentunya berbeda.

Dengan upaya itu, harapannya, usaha tetap jalan. Adaptif. Dan yang lebih penting adalah produk tetap bisa menjadi pilihan dengan cita rasa dan khasiat yang sama, namun dengan kemasan yang praktis.

Kocok, buka, dan mak glek.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

.

Silahkan share jika bermanfaat!

This Post Has One Comment

  1. Manarin Pak Ari, Terima kasih atas Sharingnya

Leave a Reply

20 − four =