Ganti Bahan, Buah Simalakama

Ganti Bahan, Buah Simalakama

Ganti Bahan, Buah Simalakama

 

Banyak persaing baru adalah tantangan. Apalagi bagi pemain bisnis skala mikro. Galibnya, siapa pun ingin menang. Paling tidak bisa bertahan. Keniscayaan. Sering dijumpai, jualan produk yang sama, setidaknya sama judul. Saus sambal, misalnya. Harganya bisa beda lumayan besar. Nama merek juga beragam. Bagi pedagang bakso, mie ayam, siomay, saus sambal semacam pasangan abadi. Jualan mereka tanpa saus sambal, pasti nggak lengkap. Bisa-bisa penjual kelabakan kalau tiba-tiba saus sambal habis. Meski pendamping, harga saus sambal juga mempengaruhi harga jual produk mereka. Mereka harus pintar memilih saus sambal sesuai dengan pasar yang disasar.

Sebantar, itu tadi lho? Kok harga saus sambal bisa beda gitu? Mari kita bahas dari kacamata pembuat saus sambal. Sisi produsen. Kita cermati bahan baku saus sambal hasil produksinya. Dimana kita melihatnya? Pada kemasan, baik sachet, botol, atau kemasan pouch. Pasti ada. Kalau tidak ada, seharusnya tidak boleh beredar oleh pemerintah. Ada kolom yang bertuliskan: “Komposisi” atau “Ingredient”.

Sekarang coba dijejerkan beberapa merek saus sambal. Jika sudah, yuk dicari kata kunci: “komposisi”. Bagaimana sudah ketemu? Betul. Selain beriis air, agram, dll. Ada yang perlu kita focus. Tulisan CABE. Ada yang mencantumkan cabe 16%, 20%, 25% ada pula 30%. Ada bahan lain yang menarik: pengental nabati, ada yang tertulis pati termodifikasi, atau pati tapioca. Bahan ini punya fungsi yang sama untuk memberikan kekentalan si saus sambal. Mari dicek bahan lain: penguat rasa (alias micin atau vetsin). Menarik bukan?

Mari kita bedah satu persatu. Cabe menurut Kementrian Pertanian, dibagi dalam 3 jenis besar; cabe besar, cabe rawit dan cabe hibrida. Ada pendapat ahli yang menyatakan dan memasukkan cabe hibrida ke dalam golongan cabe besar. Pernah dengar cabe rawit keriting? Ya, itu masuk golongan cabe besar. Panjangnya sekitar 6-8 cm. Harga pada kondisi normal antara Rp. 48ribu-78ribu per kg.

Sedangkan cabe rawit ukurannya antara 2-4 cm. Kecil mungil. Ada yang berwarna hijau, kuning, oranye, atau merah. Tentu saja cabe rawit ini relatif lebih pedas dari cabe besar. Harga pada situasi normal, tidak ada cuaca ekstrim atau bencana lain, pada kisaran: Rp. 60ribu-100ribu. Pada kondisi normal, range harga tentu saja dipengaruhi jumlah yang dibeli dan tingkat kesegaran cabe (freshness). Lebih banyak, lebih murah, itu juga lumrah.

Terus apa hubungannya dengan bahan tadi? Ini menariknya, produsen menyatakan dalam komposisinya adalah CABE. Di samping karena jumlah cabe dalam satu adonan memang berbeda, ada juga perpaduan cabenya. Sang pembuatm tidak spesifik memberikan pembeda, cabe keriting atau cabe rawit. Perpaduan ini juga menjadi kunci harga. Ini juga rahasia produsen. Mereka akan melakukan kombinasi. Harusnya, semuanya cabe dan bumbu, namanya saus sambal. Kalau semua saus isinya cabe, harganya bisa melangit. Tinggi banget.

Lha terus bagaimana agar tetap kental? Oleh karenanya, ditambah pati tapioka. Dikenal juga tepung aci atau tepung kanji. Produsen mengganti sebagian besar cabe dengan tepung ini. Cabe kan warnanya merah. Tepung warnanya putih. Putihnya kebanyakan, warnanya kok tetap merah kayak cabe. Tentu saja agar warna tetap merah, ada tambahan pewarna makanan. Ada penguat rasa agar tetap nyos.

Ganti bahan memang bisa untuk memangkas biaya. Kalau kita cek di pasar, tepung tapioka harganya Rp. 12ribu-25ribu per kg. Lagi-lagi harag pada saat situasi normal. Perbedaan harga biasanya karena jumlah pembelian dan mutunya. Bandingkan dengan harga 1 kg cabe. Lumayan besar bukan?

Ganti bahan memang bisa menurunkan mutu. Jika kita bisa menyiasatinya dengan baik, maka mutu saus sambal tetap dapat dijaga. Mari kita ingat, bahwa mutu itu suatu kriteria yang sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Maksudnya, ketika memang dibutuhkan penjual sioamy misalnya, saus sambal yang sesuai harga jual produk yang didukungnya tidak terlalu mahal, maka saus sambal dengan cabe 16% juga bermutu. Ganti bahan memang seperti buah simalakama. Ada pilihan sulit, dengan kosekuensi yang sama berat, tapi harus dipilih.

Nha, sekarang sudah bisa menjawab, kenapa harga saus sambal berbeda pada mereka yang berbeda?

Silakan disesuaikan dengan strategi penetapan harga jual produk kepada pelanggan. Tentu saja juga disesuaikan dengan pasar yang dibidik.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

16 + one =