Bapak

Semoga kita dapat meneladaninya. Para pria menjadi ayah yang dirindukan dan dibanggakan anak-anaknya karena kebaikannya.
____________

B. A. P. A. K

Oleh : Faris Jihady Hanifa

Lidah ini masih terasa kelu berbicara tentang Bapak. Jemari ini masih terasa kaku menulis tentang Bapak. Hati yang masih terus terguncang setiap kali teringat Bapak.

Suara Baritonnya masih lekat dalam ingatan. Suara yang terus melemah seiring dengan meringkihnya tubuh Bapak melawan penyakit yang dideritanya.

Bapak yang pejuang meyakini idealism dan kebenaran sejak usia mudanya, aktivis pergerakan Islam yang kokoh teguh di atas pendirian menentang kezaliman tirani di era 80an, hingga menjadi target penguasa. Cerita yang terus berulang disampaikan sejak kami kecil. Bapak yang mencintai AlQur’an sepanjang hayat, yang selalu berkata: “kalian boleh berprofesi jadi apapun, tapi AlQur’an harus yang paling utama”.

Di awal 90an Bapak seiring dengan era pendirian Gerakan Dakwah sering kali beri’tikaf di bulan Ramadan, kemudian berkeliling ke pesantren-pesantren untuk mendaftarkan kami menghafalkan Kitabullah.

Jarak yang tidak dekat ditempuhnya, meski beliau bukan orang yang berada, bergelantungan naik Bus Jakarta-Jawa Tengah ditempuhnya 1-2 bulan sekali untuk menengok kami. Kaki-kaki kecilku berlari membuncah gembira setiap telpon Bapak dan Ibu memanggil namaku, atau terdengar kabar bahwa Bapak atau Ibu menyambangi pondok.

Bapak yang mengalir dalam darahnya kesederhanaan, bersahaja, tidak membenci dunia, tapi sangat wara’ (berhati-hati) pada setiap harta yang dipegangnya. Sangat menghormati siapapun yang ditemuinya, tua, muda, senior, junior, semuanya diberi kesan terdalam.

Bapak yang memilih menjadi hamba Allah yang ingin lebih dikenal di langit dari pada di bumi, jabatan politik baginya hanya penugasan dan pelayanan, puritan tidak bergeming pada setiap godaan berat. Bapak yang seringkali mengembalikan uang dengan status “tidak jelas”.

Bapak adalah guru kehidupan, ia sangat mencintai ilmu, harta terbaiknya adalah ribuan judul buku. Wawasan luas, analisis yang tajam, kemampuan berpikir sistematis diajarkannya kepada kami dalam diskusi, buku, dan nasehat-nasehatnya.

Bapak yang cerita pada kami tentang Bosnia di tahun 1992, Palestina di tahun 1993, Intifadhah di tahun 1997, dan Afghanistan peroboh Uni Sovyet. Bapak yang fasih bicara politik global dan hukum positif, sefasihnya beliau mengajarkan AlQur’an kepada kami saat kami kecil.

Bapak yang tidak pandai berucap romantis, tapi tindaklakunya sarat dengan kasih sayang. Bapak yang selalu tenang dalam bicara, rasional dalam berpikir, sabar atas kekurangan anak-anaknya dalam berbakti.

Bapak yang kepeduliannya pada orang lain seperti menyatu dalam darahnya, setiap orang yang meminta tak pernah ditolaknya, Bapak yang selalu menanyakan keadaan siapapun yang berada dalam lingkaran perkenalannya, meski ia dalam keadaan sakit.

Bapak yang tidak segan terus belajar bertanya kepada anak-anaknya yang memiliki bidang akademik tertentu, bapak yang menjadikan kami partner dalam diskusi tentang apapun. Bapak yang sangat egaliter, mengedepankan musyawarah dalam hal apapun. Bapak yang mengajarkan kami mengenal dunia, mendorong kami belajar ke mana pun dan setinggi mungkin.

Bapak yang canda humornya berbobot, membuat kami tertawa, namun Bapak tidak tertawa terbahak-bahak, hanya terkekeh kecil saja.

Bapak yang: Sabbaqun fil Khairat (selalu unggul dalam segala lini kebaikan apapun), shalat malam yang tidak pernah putus, shalat berjamaah yang tidak pernah lupa.1 jam sblum adzan subuh sudah mengetuk pintu kamar anak-anaknya, bahkan dengan tongkatnya saat beliau sakit diiiringi suaranya yang parau. Bapak yang pelopor dalam menyambung tali silaturrahim. tak jarang bagi kami harus menemani beliau sampai kami bosan sendiri menemani kunjungan beliau dari pagi hingga larut malam. Bapak yang rajin menyambung tali kerabat hingga mereka yang tidak begitu mengenal. Bahkan mengunjungi mereka yang berada di luar kota.

Bapak yang tidak pernah beranjak dari duduknya setelah subuh hingga dhuha kecuali sudah menyelesaikan wirid Qur’aninya untuk hari itu. Bapak yang tidak melewatkan momen bertemu dengan siapapun kecuali menyelipkan nasehat.

Bapak yang: beriman kepada Fikrah (idealism) yang diyakininya, dan mendedikasikan seluruh komitmennya untuk merealisasikan idealism itu. Idealism tentang keluarga AlQur’an, idealism tentang perjuangan Islam, Idealisme tentang silaturrahim, idealism tentang sedekah dan kepedulian, idealism tentang memakmurkan masjidIdealism tentang politik yang bersih bermoral, yang membuatnya disegani kawan maupun competitor politik, idealism tentang semua kebaikan dengan prinsip: “jangan pernah menunda kebaikan”. Bapak yang disiplin menerjemahkan semua idealismenya dalam kesehariannya.

Bapak yang: selaras antara laku dengan kata. Jika bicara pendek-pendek. Tidak banyak berteori tapi tindakannya lebih dari cukup menjadi bukti.

Selamat jalan Bapak, insyaallah kita bertemu lagi. Cukuplah ribuan manusia menjadi syuhada (saksi)nya Allah bagi kebaikan Bapak di atas muka bumi, diiringi dengan cinta penduduk langit, insyaallah. Nilai, semangat, perjuangan, dan inspirasi Bapak akan tetap kekal dikenang sejarah dengan izin Allah.

Semoga Allah merahmati Bapak, dan kami hanya berkata apa yang membuat Allah ridha: “Innalillahi wa innailaihi rajiun”.

 

*) Faris Jihady Hanifa, Lc., MA. adalah putra ke-2 buah hati pasangan Alm. Mutammimul Ula, SH., MH. dengan Dra. Wirianingsih, M.Si. Salah keluarga yang dikenal sebagai keluarga penghafal Al Qur’an. Faris telah hafal Al Qur’an saat berusia 10 tahun. Allahu Akbar. Tahun 2018 lalu, berhasil menyelesaikan studi S2 di King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Tesisnya tentang Al Qur’an dan Politik Islam.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

5 × one =