Pemasaran Seni (Mengenang Alm. Didi Kempot)

Pemasaran Seni (Mengenang Alm. Didi Kempot)

Seni menawarkan pengalaman yang kaya bukan hanya kepada seniman dan konsumen, tetapi juga untuk pemasar seni dan peneliti. Bidang pemasaran seni sangat beragam dan masih berusaha untuk mendefinisikan identitas dan peran dalam disiplin pemasaran sebanyak yang dipahami secara luas seperti halnya produksi dan konsumsi budaya.

Pemasaran seni (Arts Marketing by Krzysztof Kubacki & Daragh O’Reilly, 2009) terletak dalam kerangka produksi dan konsumsi budaya yang lebih besar. Fokus utamanya adalah pemasar dalam hal seni. Hubungan antara seni dan pasar sangat kompleks, yang berarti bahwa pemasar seni perlu memperhatikan masalah yang mungkin tidak muncul dengan cara yang sama, atau pada tingkat yang sama, seperti halnya yang dijumpai pada pemasaran produk konvensional.

Danto (1964) memberikan pandangan Socrates yang menyatakan ‘seni sebagai cermin yang dipegang teguh oleh alam’. Sama seperti yang juga didapat melalui poster Andy Warhol yang terkenal ‘seni adalah apa yang bisa Anda dapatkan’ (art is what you can get away with). Hal ini untuk memberikan tanggapan atas pendapat Morris Weitz yang mengatakan bahwa seni tidak dapat didefinisikan karena merupakan konsep terbuka.

Di sisi lain, definisi memang beragam dan tidak clear. Justru uniknya, kondisi itu membuat orang lebih kreatif. Ketidakkonsistenan definisi seni dan seniman membawa dampak pada beberapa aspek termasuk bagaimana mendefinisikan pemasaran seni. Studi terkait pemasaran seni juga melakukan dengan patern yang berbeda. Hal ini membawa dampak positif. Banyak pihak yang membuat definisi sendiri dan melakukan aksi sendiri. Kreativitas justru lebih terdorong.

Industri kreatif dan budaya (CCI, culture & creative industry) bermunculan. Seni angklung yang biasanya dinikamati oleh sekelompok orang, saat ini sudah mendunia. Dan dimainkan dengan patren tertentu. Contoh Angklung Ujo. Saat ini, dimainkan dengan cara berbeda. Peminat baik yang ingin memainkan dan menikmatinya juga berbeda. Bahkan, dampaknya luar biasa, mendunia. Belum lagi, ada desa dengan tradisi tertentu yang tertutup dari dunia luar, saat ini dibuka dan bisa mendongkrak perekonomian lokal bahkan nasional. Desa wisata di Jambi, Banten, Bali bahkan di Nusa Tenggara dan Papua. Kehadiran mereka menstimulus industri lainnya. Industri restoran, transportasi, perhotelan, dan lain-lain.

Keberpihakan terhadap seni, seniman dan pemasaran seni, dilakukan terpusat dan integral. Indonesia sebagai contoh membuat Badan Otonomi di bawah Presiden, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang saat ini menjadi Kementerian Pariwisata dan Eknomi Kreatif. Tentu saja hal ini menujukkan concern pemerintah terhadap perkembangan seni, seniman dan potensi ekonomi yang dikreasikan seniman. Bekraf pun berperan sebagai pemasar seni.

Sejumlah seniman juga berani memberikan label atas musik yang dikembangkan. Sebut saja, Campur Sari, ini adalah kesenian tradisional gamelan Jawa sebagi instrumen utamanya. Namun, tidak saja mendendangkan lagu tradisional seperti lazimnya. Tapi, ditambahkan lagu pop dan dangdut. Bahkan genre musik lainnya. Alat musiknya pun ditambahkan dari kesenian lain (drum, biola, dll).

Didi Kempot adalah salah satu merek seni Campur Sari. Sempat tenggelam, karena musiknya dianggap sebagai konsumsi seni kaum tertentu (kalau boleh di bilang kaum marjinal). Namun, dalam beberapa bukan terakhir dapat dianggat kembali dengan konsep yang berbeda. Layaknya konser musik pop. Tentu saja dengan gaya pemasaran seni yang berbeda. Alhasil, konser Campur Sari tersebut menyedot perhatian publik dan mengangkat citra genre Campur Sari. Pelanggannya pun sudah tidak mengenal batas. Sebagian besar lagu yang digubahnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Saat ini justru populer dengan komunitas loyalnya: Sobat Ambyar. Konon, banyak diantara pengagumnya adalah orang-orang yang mengalami  patah hati, hatinya ambyar. Didi Kempot pun mendapat julukan “The Lord of Broken Heart”.

Pemasar seni menjadi pekerjaan idaman generasi saat ini. Mereka mempunyai kebebasan waktu dan finansial. Terlebih bisa juga mereka menjadi self employee. Bekerja tergantung kepada dirinya sendiri.

 

Catatan :

  1. Mohon izin, tulisan ini untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan Alm. Didi Prasetyo (Didi Kempot) yang wafat di Solo, 5 Mei 2020. Semoga karya dan karsa beliau menjadi amal jariyah. Allaahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
  2. Tulisan ini adalah cuplikan dari paper terkait Pemasaran Seni. Mata Kuliah: Teori Isu-Isu Kontemporer Pemasaran, Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya (Dosen Pengampu: Andriani Kusumawati, S.Sos., M.Si., DBA)
Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

1 × three =