Belajar dari Kuliah Tamu

Dalam sebulan ini ada 3 event memberikan sharing experience and knowledge di kampus yang berbeda. Materi yang disampaikan adalah sesuai dengan expertise dan experience pembicara. Saya pun mengajukan topik mengenai strategic sourcing. Pokok bahasan yang masih asing di telinga mahasiswa. Tantangan lainnya adalah waktu yang diberikan memaparkan materi hanya 1 jam atau semolor-molornya 75 menit. Sesi tanya jawab diberikan tambahan 30-45 menit.

Materi ini sudah ada bangunan intinya. Ibarat rumah pondasi dan dinding , sudah siap. Seperti biasa dan sesuai ajaran guru, saya menanyakan profil peserta, waktu dan tempat. Tentunya tidak lupa menggali apa yang diharapkan dari event tersebut. Hal ini untuk memperkaya materi plus membuat sisipan yang sesuai dengan kondisi peserta. Kalau rumah, ini ibarat desain interior dan perabotnya. Hal ini saya maksudkan agar lebih mudah dipahami dan sesuai harapan audience.

Rumah besar materi itu adalah manajemen operasi. Di dalamnya ada manajemen rantai pasokan atau supply chain management. Pada rantai tersebut ada manajemen pengadaan. Disempitkan lagi ke manajemen pengadaan atau pembelian. Terus strategic sourcing ada di mana ? Ia nyempil di dalam salah satu manajemen pengadaan yang sub bahasannya pun juga luar biasa banyak. Sedangkan strategic sourcing ada beberapa versi. Saya mengambil yang siklusnya mempunyai 6 step. Tiap tahapan ada beberapa caranya. Masya Allah, itulah luasnya salah satu ilmu yang diberikan Allah SWT kepada hambaNYA untuk mengelola dunia.

Kenapa tantangan dalam menyampaikannya ? Luasnya materi, audience’s background yang beragam dan tentunya waktu yang terbatas. Strategi yang saya lakukan adalah membahas 1 tahapan dengan 3 cara utama. Namun, bahan bacaan dan presentasi tetap saya buat utuh dan saya kirimkan terlebih dahulu. Maksud hati, agar peserta mempunyai bekal awal. Setidaknya dan harapannya ketika hadir telah memiliki daftar pertanyaan untuk memperjelas hasil pengetahuan awalnya.

Upaya persiapan seperti itu, ternyata masih saja ada yang tidak sesuai dengan harapan. Lho kok bisa tahu ? Bagaimana cara mengeceknya ? Saya melakukannya dengan meminta pendapat mahasiswa peserta secara random atas hasil sesi tukar pengetahuan dan pengalaman ini. Ketika ada yang menjawab berbeda dengan harapan semula, maka materi dan cara membawakannya tidak ditangkap dengan baik. Ini harus ada perbaikan.

”Bukankah itu tergantung dari tingkat pemahaman peserta ? Atau manusianya sendiri ?”, timpal salah seorang dosen, ketika usai acara ketika kami melakukan evaluasi singkat.

Menurut hemat saya, justru ketika pembicara tampil, maka tugas utamanya adalah menyampaikan materi yang dapat dipahami dan sesuai harapan peserta. Apa pun sesinya, ini bukan sekedar memberi tahu si pemateri mempunyai pengetahuan ini atau pengalaman itu. Tapi bagaimana peserta dapat menangkap sesuai tujuan awal sesi kuliah tamu diadakan.

Itu terjadi pada sesi pertama, nampak separuh dari perwakilan peserta memberikan pendapat yang berbeda dengan tujuan awal. Ini tentunya kegagalan bagi saya. Materi dan delivery saya belum sesuai harapan peserta. Berawal dari pengalaman ini, introspeksi dilakukan. Pada sesi berikutnya di kampus yang berbeda saya melakukan improvement. Alhamdulillaah ada peningkatan. He.. he.. he…setidaknya, yang memberikan penangkapan berbeda jauh berkurang.

Sesi kuliah tamu pun menjadi ruang belajar bagi saya. Insya Allah akan terus memicu saya untuk terus berbenah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *