Beraksilah !

 

Jari jemari saya mengetik nama Bung Hatta. Nampaknya, Allah SWT memberikan saya waktu untuk mengenang beliau. Menapaktilasi sejarah panjang sepak terjang beliau. Meski saya tidak pernah mengalami langsung interaksi. Tapi rasa itu membawa saya seakan berada di dalamnya. Saat saya membaca beberapa artikel tentang beliau.

Apalagi ditemani lagu ciptaan Bung Iwan Fals. Lagu dan lirik yang didedikasikan untuk mendiang Mohammad Hatta.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

Saya mencoba memahami pesan-pesan beliau. Pesan yang tentunya mengena dan tepat di mana pun kita berada. Apa pun peran kita. Salah satu quote Bung Hatta adalah :

“Apa yang DILAKUKAN oleh orang SETELAH mendengar suatu KHOTBAH, jauh LEBIH PENTING dari apa yang DIKATAKANNYA tentang khotbah itu”

(Mohammad Hatta | 12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980)

Bapak bangsa kita itu, mengajarkan tentang aksi ! Berperan serta. Singsingkan lengan baju. Kerja nyata ! Tidak sekedar berteori. Saur manuk (baca : debat kusir) tanpa ada simpulan.

Diskusi boleh ? Boleh saja. Tapi yang lebih penting adalah mewujudkan hasil diskusi. Apalagi ketika berbicara mengenai kemaslahatan ummat. Termasuk di dalamnya berhubungan dengan pelanggan.

Siapa yang tidak kenal konsep-konsep beliau ? Tapi siapa juga yang tidak mengenal aksi-aksi beliau ? Sangat seimbang, bukan ?

Saya punya anggota tim. Ketika ada komplain dari pelanggan, ia berpikir keras. Jika ini meluas, maka ia bisa kehilangan pelanggan. Apalagi situasi seperti sekarang, pelanggan belum banyak. Itu artinya pemasukan juga masih minim.

Komplain bisa jadi dipandang sederhana. Ada tamu mengunjungi pelanggan kami. Pelanggan itu adalah penyewa ruang di gedung kami. Sang visitor kebingungan mencari lokasi ruang yang ia tuju di gedung yang kami bangun. Tidak ada penunjuk jalan di tembok pas dekat lift. Kebetulan, front line officer (baca : penerima tamu yang merangkap tenaga pengamanan) juga belum ada. Tamu bingung sehingga ia kehilangan waktu.

Ia langsung melakukan aksi. Dia mendesain bagan penunjuk jalan. Setelah jadi dan akan dipasang. Signage tadi ternyata tetap membingungkan ketika diuji. Beberapa rekan kerja, ketika diminta menerjemahkan arti tanda arah tersebut, masih menunjukkan tidak sesuai arah yang diinginkan pembuat. Ia pun agak kecewa.

Apakah sepertinya itu sia-sia ? Sama sekali, tidak ! Dia action ! Itu yang terpenting. Jika ada yang belum sesuai harapan, ada peluang perbaikan. Setidaknya aksi pertamanya menjadi tolok ukur membuat desain revisi.

Beraksilah. Meski kadang itu belum tepat. Jangan takut salah. Itu jauh lebih bermakna, daripada hanya sekedar menyampaikan atau meneruskan berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *