Tenang yang Menghanyutkan

inventory

 

Apakah sahabat suka masak sendiri di rumah ? Jika ya. Bagaimana perasaannya ketika persediaan bahan baku siap sedia di kulkas ? Atau bahkan  lebih dari cukup ?

Tenang ? Yup, karena tidak takut kehabisan. Ingin makan apa, tinggal ambil resep. Comot bahan dan mulai memasak. Tidak perlu waktu lama untuk menikmati hidangan hasil olah tangan sendiri. Menyenangkan, bukan ?

Tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan risiko bahan yang berubah mutu ? Tidak segar. Cepat layu. Bahkan mudah membusuk ? Ya tentu saja, ini jadi bagian yang tidak mengenakkan. Memisahkan raw material yang tak layak. Itu butuh waktu. Perlu perlakuan khusus pula. Ada risiko bahan tidak terpakai. Waktu memasak tambah molor. Pemborosan. Ada uang yang terbuang.

Ilustrasi tadi ketika dibawa ke ranah bisnis, bisa berabe. Kadang kita punya satu barang berlebih. Tak jarang, justru pas ketika yang dibutuhkan, malah tidak kita miliki.

Bagaimana mengatasinya ?

Kita bisa menggunakan sistem blanket order. Apa itu ? Blanket berarti selimut. Order punya arti pesanan. So, pesanan kita dibungkus selimut. Dicover dengan baik.

Ini sistem pembelian dengan cara memberikan informasi perencanaan kebutuhan ke depan. Ada kurun waktu tertentu, selama 6 bulan atau setahun. Harga satuan disepakati bersama. Pengiriman juga sesuai kebutuhan pembeli. Dan yang lebih penting, persediaan ada di gudang pemasok.

Sebagai gambaran ketika kita punya hobi memasak, maka perencanaan menu menjadi penting. Planning selama, katakanlah, 6 bulan. Kita jabarkan menu yang akan dimasak. Kebutuhan bahan mentahnya diketahui jumlahnya. Rencana jumlah bahan selama 6 bulan tersebut yang ditawarkan kepada vendor. Termasuk di dalamnya, kapan waktu pengiriman. Tentunya, harga per satuan juga difinalkan. Serta ada kesepakatan bahwa jumlah itu akan diserap oleh kita sebagai pembeli. Boleh juga diberikan allowance plus minus, sebagai contoh 5%.

Apa itu maknanya ? Jika ada rencana kebutuhan 100 kg pada item wortel contohnya, maka selama 6 bulan ke depan, jumlah 100 kg wortel dapat dibeli dengan harga yang sama. Jika suatu saat ada pengurangan, maka 95 kg sebagai batas bawah. Kalau kurang dari itu, selisihnya tetap harus dibeli. Atau ada diskusi ulang, renegosiasi. Demikian juga, ketika kita ternyata ingin menambah pembelian. Jumlah 105 kg adalah batas atas, supplier berkomitmen untuk menyediakan. Bagaimana jika lebih dari itu ? Harus dilakukan negosiasi ulang juga.

Metoda pembelian BO akan menurunkan jumlah persediaan kita. Kita ambil ketika dibutuhkan. Inventory bisa melenakan kita. Semakin banyak persediaan, justru memperkecil kemungkinan memiliki barang yang dibutuhkan. Tenang yang bisa menghanyutkan. Begitulah nasihat Taiichi Ohno, yang menemukan dan mengembangkan Toyota Production System atau juga dikenal dengan Lean Manufacturing.

“The more inventory a company has, the less likely they will have what they need”

(Taiichi Ohno)

Pemasok apa tidak rugi ? Tidak juga, ia pun punya keuntungan. Setidaknya sejumlah barang sudah ada pembelinya. Ada kepastian penjualan untuk item wortel setidaknya dalam 6 bulan.

 

Tertarik untuk mencoba ?

Atau ingin diskusi lebih rinci ?

 

Silakan kirim email ke : ariwijaya@gmail.com atau mengikuti diskusi dalam Facebook Group : “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis”

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/

 

Salam hangat dan terus berkarya…

This is AriWAY

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *