Boros itu . . .

waste 1

Saya pernah leha-leha di dalam pabrik alias bersantai tapi tetap dibayar perusahaan. Enak tenan. Ngobrol ngalor ngidul sambil leyeh-leyeh (baca : santai benget). Tahu-tahu sudah hampir shift berganti. Bayaran pun utuh.

Apakah sabahat pernah mengalami hal yang serupa ? Enak, bukan ?

Untuk sesaat bisa jadi itu mengasyikkan. Tapi secara jangka panjang bisa berakibat sebaliknya.

Kejadian itu terjadi sekira tahun 1997, saat saya berkarya di salah satu pabrik yang terletak di kawasan Pondok Cabe. Saat ini masuk wilayah Kota Tangerang Selatan. Tidak menunggu lama, kami tim produksi, terkena evaluasi dari pimpinan. Tamparan keras yang disampaikan dengan gaya santai. Intinya, kami tidak performed ! Tidak dapat mencapai target. Sales bisa turun. Bisa-bisa, gaji tidak naik. Bonus menguap!

Benar memang. Lha wong, beberapa orang saat itu memang tidak ada load. Kebetulan bagian sebelumnya belum tuntas melakukan tugasnya. Ia harus menyediakan barang yang siap kami proses. Sepertinya tidak ada yang salah, bukan ? Parahnya, itu kejadian baru diketahui pas hari Sabtu siang. Saat overtime. Saya sebagai orang baru tidak tanggap. Ternyata hal seperti itu sudah biasa. Kejadian berulang.

Saya bersama rekan sejawat duduk bersama. Proses bisnis dibedah kembali. Walau awalnya sulit, alhamdulillaah, kami menemukan adanya ketidakseimbangan input dan output pada masing-masing bagian. Bottleneck ada pada bagian persiapan. Sehingga diputuskan hanya bagian persiapan yang kerja lembur pada shift tertentu. Akibatnya, ada beberapa tim yang tidak perlu overtime. Ada sih, penolakan pada awalnya. Karena kerja lembur sudah semacam ‘sama rata, sama rasa’. Namun, dengan panjang lebar kami kemukan alasannya. Tuntas. Leha-leha siang pun, tak tampak lagi. Kinerja produksi naik. Kebutuhan produk untuk sales  team terpenuhi.

Imbalance seperti itu ternyata juga salah satu pemborosan. Pemborosan waktu yang berujung pada rupiah. Kami berhasil melihat waste yang selama ini mengaburkan kami. Alhamdulillaah, kami sadar meski terlambat.

Shigeo Shingo, salah satu pakar teknik industri di dunia, pernah mengemukakan :

The most dangerous kind of waste is the waste we do not recognize.

Tentunya, sahabat tidak ingin terjerumus dalam kondisi seperti yang pernah saya alami, bukan ?

Mari kita cermati proses bisnis. Area mana yang masih luput dari pandangan kita. Luput karena kenyamanan. Padaha masih ada peluang perbaikan.

Yuk, diskusi bersama via Facebook Group :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Atau kontak via WA saya di : 081 1166 1766

Selamat berakhir pekan. Tetap berkarya untuk negeri, Indonesia !

Salam terobosan !

This is AriWAY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *