Daya Tarik, Kemasan Menarik

Daya Tarik, Kemasan Menarik

Daya Tarik, Kemasan Menarik

 

Suatu saat ada rekan berjualan nasi rames. Ia memberikan pengumuman ke beberapa WA Group. Ia mengemasnya dengan bungkusan ketas coklat berlapis tipis plastik. Kebetulan masjid yang biasa menyelenggarakan acara kajian pagi, memesan nasi ramesnya. Kajian rutin setiap akhir pekan yang ditutup dengan sarapan bersama. Beberapa jamaah yang membuka bungkusan dan melahapnya. Ada yang dihampar dilantai dengan alas kertas bungkus. Ada yang dibuat seperti pincuk. Ada yang sibuk mencari piring ke ruang marbot. Ada yang mengurungkan sarapan bersama dan ijin membawa bungkusan sarapan ke rumahnya. Kemasan kertas itu pun ditenteng,. Jika ada tas plastik, ada yang membawanya dengan tas.

Pemandangan itu memancing beberapa diskusi. Menariknya, pemilik usaha juga ada di tengah-tengah peserta. Evaluasi juga dilakukan setelah acara usai. Beberapa panitia berkumpul sejenak. Salah satunya adalah terkait konsumsi. Diskusi dimulai dari porsi makanan dan ragam makanan.

Salah satunya yang mengernyitkan dahi pemilik usaha adalah perubahan packaging. Dia diminta mengubahnya, pakai kemasan kotak kertas atau plastik. Dilengkapi dengan sendok. Kenapa dahi berkerut? Jelas itu menambah biaya. Apalagi jika harga dipatok sama. Diskusi singkat diputuskan, bahwa kemasan diubah dan biaya kemasan ditanggung panitia. Penggantian ini bukan tanpa alasa. Ini memudahkan orang menikmati makanan. Potensi makanan berserakan di lantai diharapkan berkurang.

Pekan selanjutnya, makanan pagi itu hadir dengan beda penampilan. Hampir semua jamaah menyambut baik. Berdecak kagum atas peningkatan yang diberikan. Makanan di dalamnya pun tidak ambyar. Ada yang membawa pulang ke rumah juga dengan mudah. Ditenteng dengan mudah.

Dua hari berselang, Mas Bagus, sang pemilik bercerita setelah Sholat Maghrib tuntas.

“Pak, Alhamdulillaah, saya dapat order lumayan ini dari jamaah untuk acara mereka”, katanya mengawali obrolan dengan muka berbinar.

“Pemesan minta saya pakai kemasan kotak plastik seperti di masjid lusa. Katanya, menarik dan lebih rapi”, sambungnya.

Ternyata pelanggan itu melihat juga dari sisi estetika alias indah dipandang mata. Kemasan punya fungsi protektif dan juga promosional. Kemasan melindungi produk dari pergerakan saat berpindah tangan atau pindah lokasi. Kemasan untuk menarik perhatian kepada sebuah produk dan memperkuat citra produk. Ada juga memang dibuat dengan kombinasi kedua tujuan dari keduanya. Marketing dan logistik dimana kemasan menjual produk dengan menarik perhatian dan mengomunikasikannya. Hal ini yang ditangkap oleh salah satu jamaah tadi.

Philip Kotler, salah seorang Ahli Pemasaran di Dunia, pada bukunya Manajemen Pemasaran (1999) mengemukakan empat fungsi kemasan sebagai satu alat pemasaran alias marketing, yaitu :

  1. Potret Diri. Kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk yang ada di dalamnya.
  2. Pemikat Pelanggan. Konsumen dengan sukarela membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
  1. Citra Usaha. Perusahaan atau usaha dapat dikenal kekuatannya dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk.
  2. Inovasi. Kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen, seperti kemudahan saat dibawa atau dikonsumsi. Hal ini juga memberikan keuntungan bagi produsen.

Penambahan kemasan yang menarik, tentu saja menambah biaya. Tapi biaya tersebut bisa ditutup dari hasil penjualan yang meningkat. Adanya promosi dari kemasan itu sendiri. Bisa saja mengurangi biaya promosi. Karena kemasan yang dibawa kemana-mana atau sedang berpindah tempat, telah menjadikan orang lain tahu dan tertarik.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

3 × 2 =