Meminta Ijin Bukan Urusan Sepele

Kemarin, saya mendapatkan peringatan yang sangat menohok. Air mata pun menggelayut di kelopak mata. Begitu berat mewujudkannya, sadar akan polah tingkah selama ini. Ini terkait tentang organisasi lebih khusus terkait kepemimpinan. Jika diskusi tentang leadership tentunya sudah sangat mudah ditemui dan dipahami. Namun, kali ini diskusi berlangsung tentang adab sebagai pengikut. Dengan kata lain adalah membahas hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang yang menjadi bagian dari team. Tata krama sebagai orang yang dipimpin. Saya menyebutnya followership.

Ada beberapa tata karma yang dilakukan follower kepada leader : seperti taat dan menjalankan perintah, percaya, menghargai dan menghormati, menasehati dengan sembunyi (tidak dengan terang-terangan), dan juga ijin jika ada keperluan.

Nampak adab yang sederhana, namun kadang acapkali kita terlupa dan berat menjalankannya. Saya mengambil kesimpulan ‘kita’, setidaknya kami yang mendengar saat itu mendapati hal yang serupa.  Bisa jadi karena telah terbiasa, terbawa oleh keadaan dan aturan umum yang bisa jadi belum tentu benar.

Saya menyoroti mengenai tata karma yang satu ini, ijin kepada leader ketika ada keperluan. Teori leadership dan juga followership banyak membahas urgent and important-nya adab ini. Kalau ingin melihat contoh yang nyata adalah dalam organisasi militer. Perusahaan pencari laba pun menginvestasikan dananya untuk membuat surat ijin on-line sebelum meninggalkan tempat kerjanya yang terkoneksi hingga tingkat kewenangan yang diperlukan. Itu semua  untuk membumikan betapa pentingnya arti pamitan itu.

Misalnya pabrik yang dijalankan pun harus tahu loading versus capacity-nya. Dengan adanya report absenteeism (baca : laporan berapa persen yang tidak masuk kerja) maka hasil produksi yang diprediksi dengan lebih tepat. Pemenuhan kebutuhan pelanggan dapat dilakukan dengan baik. Jika ada yang absen juga diketahui dan diinformasikan. Tenaga pengganti diberikan, jika diperlukan untuk kepentingan yang mendesak.

Nampak biasa bukan ? Tidak sesederhana yang dimaksud. Ternyata ini yang membuat kami yang mendengarkannya terperangah. Melongo.. Dalam agama yang saya yakini, terdapat satu ayat dalam surat An Nuur yang menyatakan hubungan meminta ijin dengan iman seseorang. Subhanallaah.

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nuur:62)

Lho itu kan jaman Nabi ? Itu organisasi jamaah dengan pemimpin ulama ? Tidak demikian menurut para ahli tafsir. Kondisi itu berlaku untuk semua organisasi. Ketika kita berkomitmen dalam suatu kumpulan, baik nirlaba maupun yang mencetak laba sekali pun.  Meminta ijin menjadi suatu hal yang sangat penting kedudukannya.

Seyogyanya  ijin dilakukan sebelum meninggalkan suatu urusan. Terbayang beberapa kejadian, adakalanya saya melakukan ijin ketika sudah di suatu tempat.

“Pak, mohon ijin, saya tidak masuk kerja, karena sedang ada urusan di kampung halaman”, begitu bunyi WA saya suatu ketika kepada leader saya.

Coba bayangkan, jika atasan meminta saya hadir, saya jelas tidak bisa mewujudkannya. Bisa berabe bukan ? Walaupun pada akhirnya disetujui, namun tentunya dengan rasa yang terpaksa.

Bagaiamana jika ada alasan mendesak dan penting dan di luar kendali kita? Itu hal yang sangat istimewa. Sehingga terjadinya pun dengan peluang terjadi 1 diantara seribu atau 2 diantara sejuta.

Sepulang dari kopdar itu, saya terkena macet hampir 45 menit. Momen balik ke rumah itu pun, menjadi ajang introspeksi untuk mengedepankan adab sebagai follower dalam berorganisasi. Membiasakan ijin ketika meninggalkan atau tidak hadir dalam pertemuan.

Satu lagi perbaikan yang harus saya lakukan agar saya pun dimasukkan dalam golongan orang mukmin.

Saya yakin, teman-teman sejawat juga banyak mengikuti organisasi atau kumpulan. Semoga dengan menjalankan tata krama yang nampak sepele ini dapat lebih mendekatkan diri kita seorang yang beriman kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *