Momen Perubahan

Hari ini bagi sebagian manusia atau organisasi merupakan hari istimewa. Termasuk PT. Elnusa Tbk. yang memperingati hari ulang tahunnya yang ke-47.

Momen istimewa seperti ini acapkali dibarengi dengan kegiatan positif. Tidak jarang, orang melakukan resolusi. Momentum perubahan. Perbaikan diri dan organisasi.

Perubahan perlu penggerak. Dalam kontek Indonesia, penggerak utama sejatinya adalah umat Islam. Kenapa ? Karena penduduk muslim di Indonesia dominan, 87% .

Mari kita coba retas sedikit saja dari salah salah satu ibadah yang dijalani. Satu saja, hikmah shalat berjamaah.

Saya yakin di dalam suatu masjid, dengan atau tanpa adanya tanda shaf (tanda shaf : tulisan sebagai tanda barisan sholat), jamaah berbaris rapi. Begitu iqamah dikumandangkan. Tertib. Kalau pun ada yang mencong, sebelahnya mengajak meluruskannya. Baik dengan kode. Tak jarang dengan tarikan kecil pada sarung atau celana rekan di sebelahnya.

Pernahkah melihat tayangan film atau foto atau bahkan sahabat mengalaminya sendiri ? Sholat berjamaah di Masjid Haram Mekkah. Saat tawaf, crowded, penuh sesak, bukan ? Bisa puluhan ribu jumlahnya. Tapi, begitu dikumandangkan adzan, jamaah pun mulai berbaris rapi. Tertib. Terlihat Indah. (catatan : Tawaf adalah berjalan/berlari kecil mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah).

So, ajaran untuk tertib sudah ada sejak sholat diajarkan kepada kita. Ajarannya luhur. Tak disangsikan lagi.

Namun, sangat disayangkan apa yang terjadi dewasa ini, ketika keluar dari masjid budaya tertib itu seakan hilang. Wuusss…. hampir tak berbekas.

Kita masih membatasi diri dalam beberapa hal. Sholat adalah urusan ibadah. Urusan di luar masjid menjadi hal lain. Kita tidak total membumikan ajaran Rasulullaah. Belum merasuk penuh dalam kehidupan sehari-hari. Belum kaffah. On-off terus. Putus Sambung

Contoh kejadian yang sering dijumpai, bahwa ketertiban itu nampak hilang di luar masjid  yang patut kita renungkan bersama, adalah :

R2 atau roda dua, melawan arus. Mangambil lajur jalan orang atau pengendara lain. Pas di persimpangan, kendaraan bertumpuk. Macet. Terkunci. Perlu waktu relatif lama mengurainya. Parahnya, tidak jarang berombongan. Banyak yang mengikuti aksi itu. Tak jelas siapa yang memulainya.

Bagaimana dengan roda empat atau R4 ? Idem ditto. Setali tiga uang. Sebagai contoh sederhana, berkenadara di jalan tol. Sudah ada larangan menggunakan bahu jalan. Bahu jalan hanya untuk darurat. Jalan untuk ambulan, polisi, keperluan darurat lainnya. Tapi apa yang terlihat ? Bahu jalan seperti jalan tol di dalam jalan tol. Dipakai dengan laju yang tidak pelan pula. Tak peduli kelas mobilnya. Bus, angkutan umum, mobil pribadi pun turut masuk. Pas ada kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, penanganan lambat. Lha wong, bahu jalannya dipakai tidak semestinya. Ambulan, polisi, mobil derek pun terlambat tiba.

Kalau sudah ada kondisi darurat seperti itu, jalan jadi macet. Penanganan lambat, seperti kasus Brexit (baca : Brebes Exit) pada Lebaran lalu. Pengguna jalan muring2. Ngedumel. Marah. Parahnya turut ngomeli pejabat yang berwenang pula. Bisa jadi aparat sudah berusaha maksimal. Kita sebagai user yang tidak disiplin.

Praktek yang ditemui, masih ada yang berusaha menjadi baik. Tidak jarang ada yang peduli dengan kejadian seperti itu. Mencoba memberi teguran atau mengingatkan. Eeee… kalau diingatkan malah lebih galak.

“Sok tertib, Lu !”

“Kapan nyampe’ nya. Bisa telat ini masuk kerja, kalau ngikuti aturan”.

Jawaban yang sering dilontarkan.

Banyak alasan mengemuka. Pembenaran. Justifikasi.

Apakah terpikirkan oleh kita ? Bisa jadi, karena itulah kita tertinggal dari bangsa lain. Bahkan dari umat yang kita bilang tak mengenal Tuhan sekali pun. Kita memang dalam tataran kajian, namun prakteknya masih harus ditingkatkan.

Ijinkan saya mengemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan juga termuat dalam kitab hadits yang riwayatkan oleh Ibnu Majah.

“Barang siapa memulai dalam agama Islam perbuatan yang baik, maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut. Dan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa memulai dalam Islam perbuatan yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang mengikuti setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”

Akankah kita menjadi bagian dari itu ? Orang yang memikul beban dosa karena suatu aksi tidak baik yang kemudian diikuti orang lain ?

Patut menjadi renungan bersama.

Menjadi insan yang taqwa perlu perjuangan. Penuh cobaan. Perlu keteguhan. Dan yang lebih penting lagi adalah dimulai dari aksi yang kecil.

Janji Allah SWT sangat jelas, seperti termaktub dalam Surat At Talaq ayat 2-3 :

“…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Karena kita berjumlah besar. Dominan. Ini lah yang saya sebut kita menjadi penggerak utama. Seyogyanya kita yang jadi motor. Karena ajaran Rasulullaah adalah luhur. Kita yang perlu membumikannya. Menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Saya yakin kita ingin terhindar dari dosa yang berantai dan tak berujung. Dosa karena aksi yang tidak baik dan diikuti banyak orang.

Mari kita bumikan ajaran Rasulullaah. Kita praktekkan. Kita bawa dan menempel pada keseharian tindak tanduk kita. Di mana pun kita berada.

Karena kita adalah wajah umat Islam. We are the face of Islam.

Semoga berkenan.

(Catatan ini disaripatikan dari Khutbah Jumat, 9 September 2016 di Masjid Baitul Hikmah Elnusa, Cilandak, Jakarta)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *