Pahlawan Itu…

Teringat ketika saya masih duduk di bangku SD hingga baru awal masuk SMP sekira 30-an tahun lalu.
Sering berjalan bersama Bapak, tangan ini tak pernah lepas dari gandengan beliau. Bapak ingin memastikan bahwa saya dalam pengawasan beliau. Genggaman erat itu menjadi tanda tersendiri.

Momen itu beliau sempatkan ketika pulang dari sekolah. Tak jarang ketika beliau mengunjungi beberapa tempat. Saya diajak serta menyusuri Jalan Ngguyangan atau sekarang dikenal dengan Jalan Tlogo Indah.

Maklum, beliau adalah ketua RW juga. Di samping, sehari-hari sebagai kepala provos (sekarang propam) di Polwil Malang. Nama polwil saat ini juga telah dilikuidasi. Dulu, wilayah kerjanya meliputi se-eks karesidenan. Satu polwil bisa membawahi 4-6 polres. Beliau selalu ingin dekat dengan warga dan team yang di bawah tanggung jawabnya.

Ketika bertemu orang, beliau berhenti menyapa dan menanyakan beberapa hal. Bahkan, pertanyaan yang remeh temeh, menurut saya. Menanyakan keadaan kesehatan atau sekedar perkembangan anaknya.

Satu hal yang dilakukan Pak Ju, begitu sapa orang kepada bapak saya, adalah selalu menyingkirkan sesuatu yang bisa berpotensi membahayakan orang lain di jalan. Itu membekas sekali dan Alhamdulillaah masih saya teruskan tradisi itu.

Kadang carang (baca : ranting pohon bambu yang berduri/ada ranting tajamnya), pecahan tapal kuda, pecahan beling (baca : kaca) atau pecahan besi. Beliau ambil dan dimasukkan ke dalam tempat sampah. Jika tidak menemukan didekatnya, beliau bawa terus. Benda itu pun ditenteng hingga menemukan tempat sampah atau tempat aman untuk membuangnya. Dan semua itu dilakukan dengan tetap menggandeng tangan saya. Seakan beliau memberi pesan kuat, berbuat untuk orang lain tapi tetap memperhatikan keluarga.

Tak jarang beliau memberikan wejangan sembari melakukan aksinya :

“Ini aksi kecil, Le (baca : nak). Coba bayangkan kalau ada orang kena pecahan besi teyeng (karat). Bisa tetanus. Bahkan kalau dianggap remeh, bisa berakibat fatal. Dengan kita menyingkirkannya, setidaknya kita punya sumbangan mengurangi hal itu”.

“Teruslah berbuat untuk orang lain, walau itu kecil, Le !’

Pesan beliau sangat mendalam. Insya Allah, saya praktekkan terus, Termasuk kepada keluarga saya.

Bapak, kau menolak halus, ketika memberikan wasiat untuk tidak dimakamkan di TMP. Saya tahu, bapak ingin tetap dekat dengan masyarakat. Bapak, kau mengajarkan bahwa menjadi pahlawan memang tidak harus melakukan hal yang besar. Aksi kecil itu pun, insya Allah menjadi catatan tersendiri. Bapak menjadi pahlawan kami. Aksi kecilmu menginspirasiku untuk terus menggelorakan Gerakan 1 Jam per Pekan untuk Melayani Masyarakat.

Tentunya, kami tiada hentunya untuk mendoakanmu. Aksi kecilmu menjadi catatan amal sholeh di hadapan Illahi robbi, Tuhan Yang Maha Pengampun.

#MemaknaiHariPahlawan.
Persembahan kepada Kapten (Purn.) Djohariman (1924 – 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *