Pendapatan Turun, Laba Naik

dampak biaya terkendali

Cita-cita setiap perusahaan didirikan setidaknya untuk dapat bertahan dalam persaingan bisnis. Itu pasti. Saya yakin, foundernya berkeinginan perusahaannya berkesinambungan. Tidak layu sebelum berkembang. Ia mendapatkan untung, bertahan, dan berkembang. Malah diharpkan menjadi satu konglomerasi usaha, suatu saat nanti .

Jika berbicara laju pertumbuhan, ada yang cepat tumbuh, menggurita bisnisnya, atau ada juga yang stagnan, jalan di tempat, bahkan ada yang merugi,  itu cerita yang lain lagi.

Dalam situasi saat ini, kebanyakan bisnis tidak berkembang sesuai prediksi. Upaya bisa bertahan saja sudah patut disyukuri. Salah satu kunci pertahanan adalah mengoptimalkan biaya dan utilisasi asset. Biaya dapat dilakukan dengan melakukan penghematan pada pos biaya pokok produksi atau harga pokok penjualan (atau cost of goods sold) atau HPP.

Penghematan yang dilakukan bisa berdampak mempertahankan bahkan sedikit meningkatkan profit/keuntungan bersih. Bahkan itu terjadi ketika pendapatan secara keseluruhan sedikit menurun. Efek positif lainnya adalah memberikan remunerasi yang lebih baik. Misalkan masih ada pos untuk kenaikan gaji karyawan. Bahkan pemberian bonus. Ehm… sebagai orang yang terlibat di dalamnya, mendengar kata bonus, wajah bisa sumringah (baca; cerah). Tentunya itu berita yang menggembirakan. Bisa menjadi salah satu pemicu motivasi yang berlipat ganda. Produktivitas bias tambah baik.

Gambar pada bahasan kali ini, semoga memudahkan perbandingan dan pemahaman kondisi tersebut.

Benefit secara internal dapat juga membawa aksi positif kepada mitra kerja, pemasok dan pihak luar lainnya. Pada sesi yang singkat ini, saya akan membahas pada akitivitas dan dampak internal. Fokus diskusi juga pada HPP.

Bagaimana caranya ?

Ada 2 industri dengan karakter berbeda. Industri manufaktur dan industri jasa. Pada industri yang berbasis memproduksi barang jadi, salah satu penyumbang HPP terbesar adalah biaya raw materials (RM). Sedangkan pada industri jasa, terlebih yang labor intensive, biaya tenaga kerja punya kontribusi utama.

Banyak jalan untuk melakukan penghematan. Perkenankan saya mengemukakan kepada sabahat, 3 cara yang sering saya lakukan. Lebih khusus lagi dalam pengadaan bahan baku. Saya sebut this is AriWAY.

  1. Komunikasi dengan pemasok.

Ini masih bisa ditekan dengan melakukan komunikasi awal dengan vendor. Peran fungsi pengadaan sangat dominan. Buyer dapat mengutarakan kondisi yang dihadapi. Kondisi penjualan yang menurun. Plus juga memberikan kabar baik, bahwa perusahaan ingin tetap survive. Ini penting. Hal ini agar ketika diskusi ada focus bagaimana cara utuk mewujudkannya. Alternatif-alternatif solusi yang ditawarkan. Bagaimana pun, jika perusahaan bertahan tidak tergerus persaingan, pemasok juga punya probabilitas bertahan.

  1. Review cara pengadaan.

Meninjau ulang cara pengadaan raw material. Jika selama ini dilakukan dengan pembelian on the spot (baca : ketika ada rencana kebutuhan, baru melakukan pembelian). Pengadaan dalam jangka pendek. Direview untuk melakukan purchasing dalam jangka panjang. Buyer membuka seluruh kebutuhan dalam jangka waktu tertentu. Ditetapkan jadwal pengirimannya. Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah negosiasi harga. Beda tentunya ketika kita beli sesekali dengan beli sekaligus dalam jumlah besar. Lho ? Kalau beli sekaligus, persediaan kan jadi menumpuk ? Tidak juga. Karena dalam proses tersebut kita juga menyepakati jadwal pengirimannya. Kita memberikan komitmen membeli dalam jumlah tertentu dengan kurun waktu tertentu.

  1. Mencari alternatif bahan (baku maupun setengah jadi).

Alternatif bahan baku bisa dilakukan dengan mencarikan substitusi yang setara. Biasanya pakai merek A, kita coba merek B. Atau biasanya menggunakan bahan C, kita ganti dengan bahan D.

Atau dengan mencari sumber atau source yang lain. Biasanya beli di tempat X, kita coba pindah ke tempat Y.

Langkah ini effort-nya jauh lebih besar. Terlebih pada industri Food & Beverages (makanan dan minuman). Keterlibatan tim R&D (research and development) plus quality control sangat diperlukan. Acapkali, ide alternatf material berasal dari mereka. Hasil uthak-athik (baca : uji coba) di laboratorium disodorkan kepada tim pengadaan untuk mulai membuka radar baru. Membuka komunikasi bahkan dengan vendor baru.

Jika para sahabat telah melakukannya, atau punya cara lainnya, silakan di share pengalamannya di sini. Terima kasih sebelumnya, karena tentunya akan memperkaya wawasan saya dan sahabat lainnya

Bagaimana jika belum ? Tidak ada salahnya, mulai dicoba, bukan ?

Pendapatan turun tapi laba masih bisa naik. Upaya yang dilakukan bisa jadi sederhana, simple. Itu pastinya keren.

Saya jadi teringat juga dengan kata mutiara Benjemin Franklin, mantan presiden negera adi daya dan juga sosok multi talenta.

Beware of little expenses. A small leak will sink a great ship.

(Benjamin Franklin)

Saya yakin, saya juga sahabat baik sebagai pengusaha maupun karyawan tidak ingin itu terjadi.

Salam hangat,

This is AriWay

www.ariwijaya.com

Jika sahabat memperoleh manfaat dari buah pena ini, silakan dibagikan kepada relasi, kolega lain.
Silakan juga bergabung pada Facebook Group “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis” dengan klik link ini : 
https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts
Bisa juga menikmati pada Facebook Fanpage “Cost Killer Trainer” dengan klik link ini :
https://www.facebook.com/AriWijayaDj/?ref=aymt_homepage_panel
Follow twitter @AriWijayaDj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *