Pendidikan Sang Pendongkrak

education

Apa yang banyak ketahui tentang Australia ? Kanguru, binatang berkantong itu ? Bisa jadi. Senjata tradisional mereka, bumerang. Boleh juga. Suku aboriginnya. Tak salah juga. Tetangga yang sering berantem opini dengan Indonesia. Itu juga jawaban.

Bagaimana perekonomian Australia ? Banyak yang mengatakan, negeri ini termasuk salah satu negara maju. Tahun 2015 PDB per kapita mereka USD 52.400. PDB totalnya USD 1.200 Triliun. Tercatat 70% disumbangkan oleh sektor jasa, termasuk pendidikan.

Pendidikan atau lebih tepatnya higher education penyumbang PDB ? Ya, betul. Siapa yang tidak kenal dengan universitas ternama di Negeri Kanguru itu. Data tahun lalu, 8 universitas di Australia masuk 100 besar perguruan tinggi di dunia. Mereka disebut Group of Eight (Go8). Itulah daya tariknya. Sehingga pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara mau bersusah payah menggali ilmu di Australia. Meski biayanya pun tidak murah. Tercatat 600ribu mahasiswa dari luar Australia yang belajar di sana. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemasukan penting. Tahun 2014 tercatat USD 16 Milyar masuk ke kantong pemerintah Australia.  Logis jika sektor pendidikan menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto.

Pengalaman negeri tetangga kita itu yang ingin saya kupas untuk ditiru.

Apakah kita punya potensi itu ? Punya. Saya ambil contoh Kota Malang. Sebuah kota di tengah Provinsi Jawa Timur.

Kenapa Malang ? Sebagai gambaran, Malang dianugerahi julukan Kota Pendidikan. Ini juga julukan yang pas. Jumlah perguruan tinggi di Malang tercatat lebih dari 50. Perguruan tinggi negeri saja, banyak pilihannya seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian.

Perguruan tinggi swasta diantaranya : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara.

Jika kita berkaca pada Australia, maka modal dasar telah dimiliki Kota Malang. Jika perguruan tinggi yang disebutkan tadi bisa membuka kelas internasional. Tidak perlu semua program studi. Jurusan tertentu yang disiapkan. Selektif dan bersinergi. Dampak atas inisiatif itu akan menjadi efek domino.

Program Studi Ekonomi Syariah dibuka kelas internasional di UIN Maliki dosen utama dari UIN Maliki dengan dosen tamu dari UB, UM, UIN Maliki, UMM. UIN Maliki punya sumber daya yang mumpuni ketika bicara tentang syariah.

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dibuka di UM dengan dosen tamu bekerja sama dengan UIN Maliki, UMM, Unisma. Mengapa UM ? Institusi ini punya catatan moncer dalam pengembangan tenaga pendidik.

Program Studi Teknologi Pertanian diinisiasi di UB dengan dosen tamu melibatkan Unmer, UMM, ITN. UB punya resources dan reputasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan ini.

Program studi Penyuluh Pertanian dibuka di STPP dengan dosen tamu UB, UIN Maliki. STTP sudah terkenal punya output tenaga penyukuh handal yang tersebar di negeri ini.

Bisa jadi jurusan lainnya. Masih terbuka. Rektor dan pimpinan yang lain insya Allah lebih tahu program studi yang punya potensi.

Bagaimana kualitasnya ? Saya yakin saat ini perguruan tinggi di Malang berlomba untuk meraih akreditasi yang paripurna. Assessment dilakukan oleh Kementrian Ristek dan Dikti, tapi juga lembaga internasional. Itu juga pondasi yang sangat baik.

Siapa pasarnya ? Pasar utama ditujukan di negeri seputaran Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Dapat menggunakan lobbying solidaritas negara ASEAN atau Konferensi Asia Afrika.

Sejarah mencatat, Negeri Jiran, Malaysia, sesuai sejarah, pernah mendatangkan tenaga pendidik Indonesia ke negerinya. Pun mengirim putra-putri terbaiknya ke Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi ternama.

Masih ingatkah pada jaman Pak Harto (Presiden Soeharto), bahwa petani terbaik dari beberapa negara di Afrika untuk belajar pertanian dan peternakan di negeri kita.

Bagaimana efeknya ? Pendapatan daerah kota Malang sesuai APBD 2016 adalah sebesar Rp. 1,73 Triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya Rp. 370 M. Baru 21%. Pemko Malang punya keinginan meningkatkan PAD. Apa dampaknya jika jasa pendidikan tadi semakin mendunia ?

Inilah yang sejalan. Tempat tinggal tentunya akan lebih banyak dibutuhkan. Rumah tinggal, guest house, hotel, dan apartemen akan naik demand-nya. Ini sumber penghasilan bagi daerah. Belum lagi expenses mereka. Belanja mahasiswa juga diharapkan meningkat. Bandara Abdul Rahman Saleh frekuensi penerbangannya bisa lebih banyak. Ia lebih ramai setidaknya pas liburan semesteran. Perputaran uang relatif lebih besar. Peluang usaha menjadi lebih terbuka. Ya, efek domino.

Pendidikan yang bisa memperkuat perekonomian daerah. Ia jadi sang pendongkrak. Bukan tidak mungkin mengubah dunia, setidaknya Kota Malang.

Bagaimana Abah Anton, Walikota Malang ? Insya Allah, ide ini bisa digodok lebih matang. Dikembangkan lebih luas. Tentunya melakukan sinergi dengan para pimpinan perguruan tinggi di Malang.

Semoga ide kecil ini dapat turut serta memberikan sumbangsih upaya peningkatan pendapatan asli daerah.

Semoga Pak Walikota berkenan.

Salam satu jiwa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *