Tenaga Kerja Asing

Tenaga Kerja Asing

Saya pernah mendapatkan kesempatan mengisi jabatan yang boleh dikatakan prestisius. Kesempatan yang dibuka sama kepada seluruh karyawan di negara mana pun perusahaan beroperasi. Ini memang perusahaan consumer goods dengan merek ternama. Saya ketika itu adalah utusan dari manufacturing alias manajemen operasi. Tawaran yang sangat menarik. Jika lolos seleksi akan mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Negeri Paman Sam selama 18 bulan. Pelatihan di kantor pusat perusahaan tempat saya berkarya. Saya pun mengikuti tahap penyaringan hingga seleksi tahap akhir. Wakil Asia Tenggara tinggal 1 lagi. Ketika itu pabrik di Kawasan Asia bagian Tenggara yang masih berjalan normal tinggal Indonesia. Lainnya tidak beroperasi karena strategi perusahaan.

Apa daya, ternyata 2 posisi lowong jatah Asia Pasifik, dua-duanya diisi oleh kandidat dari negeri Tirai Bambu. Proses sebelumnya, 1 tempat diisi dari Asia Tenggara. Suka tidak suka, dalam hal ini saya kalah bersaing. Apa pun alasannya. Nyeseklah pokoknya.

Tapi hikmahnya, saya menemukan bidang yang secara spesifik saya perdalam dan tekuni hingga kini.

Karir saya terpaksa berakhir, ketika perusahaan itu dinyatakan ditutup. Seluruh operasional manufakturnya di pindah ke Shanghai, RRC. Mesin yang masih terbilang berteknologi baru di kirim ke pabrik lain di Mexico. Sedangkan sisanya, dihancurkan. Dipotong jadi beberapa bagian kecil agar tidak ditiru orang. Menghindari product counterfeit. Mitigasi risiko atas upaya pemalsuan produk. Tak mengherankan, banyak pekerja yang menangis sembari memotong mesin-mesin itu. Dapat dimengerti, mereka ada yang telah membersamai mesin selama 28 tahun.

Fenomena tenaga asing lebih unggul, juga terlihat ketika saya bergabung dengan perusahaan bahan material. Saya beberapa kali ke kantor manajemen yang berada di bilangan Damansara, Kuala Lumpur. Ada rapat-rapat koordinasi yang mendadak maupun yang terjadwal. Masa itu saya sebagai pemangku jabatan bagian pengadaan di Indonesia punya atasan yang bermarkas di KL. Perusahaan ini tempat para professional lintas negara bergabung. Memang selayaknya perusahaan multi nasional.

Sebagai gambaran, di kantor manajemen yang satu lantai dengan saya itu, hanya ada 2 orang asli Melayu. Dominan adalah India, Chinese, beberapa dari Eropa. Saya bukan bicara masalah SARA. Mohon maaf, jangan sampai salah paham.

Saya salut sama mereka. Kemampuan sebagai manusia berkelas dunia, ada pada diri mereka. Penguasaan bahasa asingnya, utamanya Bahasa Inggris, bisa dibilang excellence. Layaknya mother tounge. Bahasa Ibu. Sedikit dari mereka juga menguasai Bahasa Perancis. Penguasaan teknologinya juga jempolan. Saya tidak melihat mereka gagap teknologi. Setidaknya itu saya lihat saat saya berinteraksi di ruangan kerja maupun di tempat rapat. Teleconference seperti ‘sego jangan’. Biasa dan rutin. Presentasi? Materi dan caranya ciamik. Content dan context-nya padu padan, lengkap. Di perusahaan itu saya merasa seperti orang lama. Saya tidak canggung. Mereka banyak membantu. Mereka menyambut dengan baik kedatangan saya, meski biasanya hanya kenal via surat elektronik. Mereka juga sering mengingatkan waktu sholat. Ini semua membuat saya lebih cepat berbaur, walau saya hanya berada di kantor itu paling lama 3 hari.

Saya kadang merenung. Manggut-manggut menyetujui gejala itu. Kualifikasi sekelas itulah yang membuat mereka bisa melanglang buana.

Lain lagi, saat saya berkesempatan berkunjung dan berdiskusi di Bangalore, India. Saya masuk ke pusat penelitian dan pengembangan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alfa Edison. Saya bertemu dengan tim yang berisi para peneliti dan praktisi, kebanyakan bergelar Doktor. Kebetulan juga di kota itu ada kawah candradimuka calon doktor yang terkenal di Asia dan bisa jadi dunia. Indian Institute of Science. Sejak berdiri tahun 1909, sekolah itu telah menelorkan 3 ribu lebih Master dan Doktor dari berbagai disiplin ilmu eksakta.

Saya pun mulai menelisik, bagaimana bersemangatnya anak muda di sana mengambil studi lanjut. Beberapa teman di Gedung Riset itu saya ajak mengobrol. Mereka kebanyakan bukan anak orang berada. Apalagi ada sistem kasta di India.

Mereka rela menyisihkan uang saku untuk belajar Bahasa Inggris. Dari situlah, mereka bisa membaca literatur berbahasa Inggris. Mereka mengambil juga kesempatan mendapatkan bea siswa belajar ke luar negeri.

Jika mengamati sepak terjang kualitas sumber daya negeri di Asia Selatan ini, patut kita acungi jempol. Mereka kebanyakan menggeluti bidang system informasi dan/atau teknologi informasi. Beberapa nama mereka tercatat sebagai pimpinan puncak perusahaan multi nasional. Bisa dikatakan berkelas dunia. Saya yakin sahabat bisa menyebutkan beberapa nama yang sangat populer.

Bagaimana dengan kita ?

Mari berbenah.

Jack Welch, ‘Manager Abad Ini’, pernah memberi petuah :

“Control your own destiny or someone else will”.

2 Replies to “Tenaga Kerja Asing”

  1. Kalau sy jawab TAKUT. Berapa gaji pribumi di perusahaan asing dg *kompetensi* yg sama dg wna? Berapa gaji pribumi di perusahaan milik wni turunan china? Berapa upah buruh kasar pribumi dibanding unskilled china?

    Yg terakhir itu mustinya tdk terjadi, tapi kini terjadi.

    Harus ada paket kebijakan yg berpihak pada pribumi, sehingga pribumi makin berdaya.

  2. Sebenarnya skill orang Indonesia tidak kalah dengan orang asing, akan tetapi perlu kebijakan dalam negeri yg berpihak kepada bangsa sendiri mengingat bangsa kita lemah dalam berbahasa Inggris. Selain itu kultur juga sangat berpengaruh, bangsa cina dan india itu sejak lahir sudah dididik dg persaingan yang keras sedangkan bangsa Indonesia khususnya Sunda, Jawa, Bali tingkat bersaingnya lbh rendah dibanding suku2 luar Jawa.
    Tetapi suku Sunda Jawa Bali sangat tinggi skill nya dibidang seni bangunan dan ketrampilan bahkan mengalahkan bangsa2 di dunia.
    Coba amati lbh dalam karakter suku2 di seluruh dunia, mereka punya kelebihan masing2 dan itu sebenarnya yg bs membuat mereka mendunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *