Yuk Kenali Zakat

Yuk Kenali Zakat

Kenali Zakat (lebih lanjut) Yuk!

by: Teten Kustiawan*)

 

Zakat sebagai Rukun Islam

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma-, katanya, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Setiap muslim wajib meyakini dan memahami bahwa zakat merupakan salah satu dari 5 rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam Hadits Muttafaqun ‘alaihi tersebut. Pemahaman ini harus mencakup juga bahwa berlaku kaedah “siapa yang menunaikan zakat maka dia menegakkan agama dan siapa yang menolak/tidak menunaikan zakat maka dia merobohkan agama”. Inilah yang dipahami oleh Sahabat Rasulullaahu sholallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar r.a. sehingga Beliau mendeklarasikan perang terhadap orang yang tidak mau membayar zakat.

Sikap yang benar bagi seorang muslim sejalan dengan pemahaman bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam adalah:
1. Memiliki tekad yang kuat dan early warning system untuk selalu menunaikan zakat sesuai syariah dan tepat waktu.
2. Menunaikan seluruh jenis zakat yang menjadi kewajibannya dengan ridho dan ikhlas. Jangan cukupkan diri dengan menunaikan satu jenis zakat jika pada dirinya ada lebih dari satu kewajiban zakat, khususnya terkait zakat maal.

Pendekatan Ijmaali dan Tafsiili

UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada Pasal 4 menyatakan :

  1. Zakat meliputi zakat mal dan zakat fitrah.
  2. Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
    a. emas, perak, dan logam mulia lainnya;
    b. uang dan surat berharga lainnya;
    c. perniagaan;
    d. pertanian, perkebunan, dan kehutanan;
    e. peternakan dan perikanan
    f. pertambangan;
    g. perindustrian;
    h. pendapatan dan jasa; dan
    i. rikaz.

Ada dua pendekatan dalam memahami zakat maal, yakni pendekatan ijmaali dan pendekatan tafsiili. Pendekatan tafsiili adalah memahami langsung rinci per jenis zakat maal seperti yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2011 Pasal 4 ayat (2) di atas. Masing-masing jenis zakat tersebut kita pahami satu per satu, setidaknya, tentang pengertian, nishab, haul, dan kadarnya.

Adapun pendekatan ijmaali adalah memahami zakat maal secara umum, yakni dari pendekatan kategori obyek harta wajib zakat. Berdasarkan pendekatan ini, setidaknya dapat kita pahami zakat maal sebagai berikut:

  1. Ada dua kategori obyek harta wajib zakat, yakni asset (kekayaan) dan income (pendapatan).
  2. Contoh obyek zakat kategori aset yaitu emas, perak, perniagaan, dan hewan ternak. Adapun contoh obyek zakat kategori pendapatan yaitu pertanian, pendapatan dan jasa, dan rikaz.
  3. Selain hewan ternak, nishab obyek zakat kategori aset mengacu pada nishab emas. Adapun nishab obyek zakat kategori pendapat mengacu pada nishab pertanian atau emas.
  4. Haul obyek zakat kategori aset adalah 1 tahun hijriyah dan untuk obyek zakat kategori pendapatan adalah yauma hashoodih (saat panen).
  5. Kadar obyek zakat kategori aset hanya satu yakni 2,5%. Adapun kadar obyek zakat kategori pendapatan bisa 2,5%, 5%, 10%, atau 20%.
  6. Sumber informasi menghitung kewajiban zakat dari obyek zakat kategori aset adalah Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Adapun sumber informasi menghitung kewajiban zakat dari obyek zakat pendapatan adalah Laporan Laba/Rugi.

Memahami zakat maal dengan pendekatan mana pun, orang yang wajib zakat maal pada umumnya mempunyai lebih dari satu jenis zakat maal. Mari cek kewajiban zakat atas aset dan pendapatan kita.

Wallaahu’alam.
Semoga bermanfaat.

 

Catatan :
*) Teten Kustiawan adalah salah satu nara sumber nasional di bidang zakat. Saat ini, beliau diberi amanah sebagai Direktur Eksekutif/CEO, Baitul Maal Muamalat (BMM), Lembaga Amil Zakat Nasional.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

thirteen − twelve =