Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

People and Process

Diskusi dengan orang yang kenyang makan asam garam kehidupan, sangat menyenangkan. Apalagi sembari ngopi. Santai tapi bermakna.

Kala itu topik yang hangat adalah bagaimana menjadikan pabrik lebih efisien dan timnya juga lebih produktif.

Ngopi sore itu, beliau menyimak cerita saya yang diberi amanah memimpin pabrik.

Wis bener iku, fokus o nang pipel karo proses (sudah pas, fokus pada perbaikan orang/sdm dan proses)”, tukasnya senior saya ini dengan cepat dan lugas.

Saya terperangah atas timpalan yang tanpa tedeng aling-aling itu. Saya pun manggut-manggut. Maklum sepanjang hidupnya ia memang berkecimpung di dunia pabrik. Usia yang sudah melewati 60 tahun, beliau belum lepas dari dunia manufaktur. Ia lulusan terbaik pada masanya di Teknik Mesin Universitas Brawijaya. Kangmas satu ini juga pernah mengenyam pendidikan lanjut di negara yang kompetisi sepak bolanya jadi panutan dunia.

“Developing your people”.
Manusia adalah mahluk yang bersumber daya. Mudah beradaptasi. Namun, kompetensinya harus digodok dan diarahkan dengan benar. Acapkali, dihadapkan pada sumber daya yang apa adanya. Situasi ini bukan membuat menyerah. Tapi dicari gapnya, dilatih, dimentoring, dicoaching. Digembleng. Namun, kalau masih ndableg (tidak mau berkembang), terpaksa dicari gantinya. Sehingga, setidaknya SDM yang dimiliki mampu menghasilkan produk bermutu. Memnuhi syarat minimal. Pada perjalanannya, mereka menjadi pendekar pilih tanding. Menjadi aset yang tak tertandingi. Dilirik banyak kompetitor

“The right process will produce the right results.”
 Proses produksi harus sempurna. Bagaimana urutan proses yang benar. Meminimalkan pemborosan atau waste. Mesin produksi dipelihara dan dipastikan kapasitasnya. Dan tentunya tidak henti melakukan inovasi dan perbaikan berkesinambungan. Pada akhirnya produk yang dihasilkan, bermutu tak terkalahkan.

Wejangan yang disampaikan sangat menarik. Ide atau masukan atau wejangan yang besar akan menjadi benar-benar besar dan berdampak, ketika dieksekusi alias dilaksanakan.

Sebelum diskusi semakin berat, saya pun menyeruput kopi sembari menikmati Roti Moho.

Mantap.

Cost Killer Membuat Bahagia dan Bangga

Bapak saya almarhum adalah seorang purnawirawan. Kegiatan beliau setelah purna tugas adalah menjadi Ketua LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) dan juga merangkap Ketua RW. Tradisi perayaan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan atau lebih populer disebut Águstusan adalah salah satu kegiatan yang menjadi kesibukan beliau setiap tahun.

Tahun itu seperti biasa kecamatan mengadakan lomba karnaval, gabungan antara karya seni, atraksi dan gerak jalan antar desa. Oleh kepala desa, Bapak diberi amanah sebagai ketua tim desa. Beliau tertantang. Masalahnya, ternyata dana yang disediakan pihak desa tidak banyak, alias cekak. Ingin tampil bagus tapi uang tidak ada. Yah… nasib.

Bapak tidak menyerah. Beliau memutar otak, mencari jalan. Dikontaknya salah satu kenalan beliau, seorang dosen IKIP Malang untuk membantu. Namanya Pak Oediono. Dari hasil berdiskusi dengan Pak Oediono muncullah ide untuk membuat miniatur Burung Garuda. Ukurannya lumayan besar, lebih dari tinggi badan saya ketika itu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SMP.

Bahan utama rangka burung Garuda dari bambu. Isi dan kulitnya dari kertas semen yang direndam air dan diberi kanji, tepung tapioca yang dicairkan dengan air panas bisa menjadi lem perekat. Alasnya juga dari bambu. Setelah jadi miniatur burung garuda itu terlihat sangat gagah, tetapi ringan tidak berat. Untuk membawanya cukup dipanggul oleh 4 orang.

Untuk tim gerak jalan pesertanya adalah tim ibu-ibu. Pelatihnya, Bapak sendiri. Penghematan. Untuk baju seragam tim gerak jalan dicari baju yang paling banyak dimiliki. Tentu saja paling banyak dipunyai adalah atasan warna putih dan bawahan hitam. Biar tidak terlalu polos maka disepakati menggunakan asesoris tambahan. Dan pilihlah hasduk atau dasi pramuka yang merah dan putih yang biasa dipakai anak-anak sekolah.

Yang tak kalah menarik adalah sutau ketika saya dibonceng Bapak dengan Zundaap (motor roda 2 yang bisa dikayuh seperti sepeda) untuk menemui waker. Waker adalah orang yang diberi amanah menjaga kebun tebu. Kebun itu milik salah satu pabrik gula ternama di Malang. Beliau ternyata meminta tebu sekira 100 batang dari waker. Tebu dipilih yang lurus. Alhamdulillaah diluluskan, bahkan diberi lebih.

Saya bersama beberapa kawan diminta Bapak untuk mengangkut dari kebun tebu ke halaman rumah. Sepanjang jalan kami pun bertanya-tanya untuk apa batang-batang tebu ini. Kebingungan kami semakin menjadi, ketika tebu-tebu itu dibersihkan dan dipotong 1,5 meter-an.

Kami anak-anak memperhatikan tanpa berkedip. Ujung tebu itu selanjutnya dilancipkan dengan memakai pisau besar yang di kampung saya disebut bodeng. Setelah bersih dan rapi batang tebu itu kemudian diberi bendera dari kertas minyak berwarna merah dan putih.

Kami pun melongo.  Oooo… bambu runcing. Bedanya bambu ini dari tebu. Kami semua tertawa ceria melihat bambu runding dari tebu itu.

“Le, nanti kalau kalian haus. Bisa dimakan itu tebunya ya. Tapi kalau bisa, hausnya ditahan setelah panggung kecamatan,” begitu pesan Bapak sambil tersenyum.

Saya baru paham. Bapak melakukan terobosan agar tidak perlu repot menyediakan minuman dan makanan kecil bagi para peserta karnaval. Jika kami haus saat usai karnaval, ‘bambu runcing’ itu bisa kami makan. Caranya dengan dikerokoti (baca: dikupas dan dipotong pakai gigi). Tebu memang berenergi. Rasanya manis dan menyegarkan. Wah…. benar-benar cost killer yang cerdas.

Masalah belum selesai. Pakaian saat defile bagaimana? Kata Bapak, karena konsepnya perang gerilya, maka teman-teman seusia saya atau paling besar masih SMA, diminta memakai baju sehari-hari. Tidak perlu seragam. Paling ditambah sarung atau asesoris yang ada di rumah. Rakyat berjuang ketika itu memang nggak pakai seragam toh? Benar juga.

Tahun itu desa kami juara karnaval se-Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.  Seingat saya tiga tahun berturut-turut desa kami juara karnaval se-kecamatan.

Bapak saya almarhum melakukan cost killer dengan menyiasati resources yang minim. Hasilnya justru di luar dugaan. Alih-alih sekedar meramaikan Agustusan, kami malah jadi juara dan perhatian se-Kabupaten Malang. Kami bahagia dan bangga.

Catatan:
Mengenang Almarhum Kapten (Purn.) Djohariman, veteran Perang 10 November 1945, Operasi Dwikora 1964, dan Operasi Trisula 1968.

Mengasah Diri dan Tak Mudah Menyerah

“I trained 4 years to run 9 seconds. People don’t see results in 2 months and give up.”
__Usain Bolts, Pemegang Rekor Dunia 100m dan 200m. Peraih 8 medali emas Olimpiade
.
Usain Bolt memberi pesan bahwa berlatih selama 4 tahun untuk bisa lari 100m dengan catatan 9 detik. Saat itu rekor lari dunia masih di atas 10 detik. Sedangkan kebanyakan orang saat mencoba sesuatu masih 2 bulan saja dan tidak melihat hasilnya, sudah berhenti dan menyerah.
.
Mari kita cermati, bagaimana Usain Bolts memperoleh hasil gemilang itu.
.
Usain Bolts lahir dari keluarga pedagang toko kelontong di sebuah kota kecil berpenduduk 1.500 orang di Jamaika. Ia menderita skoliosis, (tulang belakang melengkung) yang membuat kaki kanannya 13 mm lebih pendek dari kaki kirinya. Kondisi ini menyebabkan langkahnya tidak rata, dengan kaki kirinya tertinggal lebih lama di tanah dibandingkan kaki kanannya, dan membentur tanah dengan kekuatan yang lebih kecil. Secara teori ada hambatan fisik untuk menjadi pelari hebat.
.
Kondisi itu tidak menyurutkan niat dan keinginannya menjadi pelari cepat/sprinter.
.
Ia memulai ikut lomba lari sejak usia 15 tahun. Saat usia 18 tahun ia ikut Olimpiade 2004 di Athena, ia gagal. Saat usia 19 tahun, ia ikut Kejuaraan Dunia Atletik tahun 2005. Ia boleh dibilang gagal lagi.
.
Pada tahun 2007, ia mendapat Medali Perak saat lomba 200m. Pada lari 100m ia berhasil mencatatkan waktu 10,03 detik.
.
Pada Mei 2008 ia berhasil mempercepat larinya menjadi 9,76 detik untuk 100m. Saat September 2008, ia menorehkan waktu 9,72 detik. Ia mengalahkan juara dunia 100m ketika itu, Tyson Gay.
.
Ia butuh waktu 4 tahun untuk membuat catatan waktu 9 detik.
.
Pada Olimpiade 2008 ia meraih medali emas 100m dengan catatan 9,69 detik. Satu tahun berikutnya di Berlin, ia menajamkan rekor lari 100m menjadi 9,58 detik dan menjadi juara dunia.
.
Rekor itu hingga saat ini masih belum terpecahkan.
.
So, dari sekelumit sejarah itu, ada benang merahnya, Usain Bolt berlatih selama 4 tahun untuk bisa lari 100m dengan catatan 9 detik. Saat itu rekor lari dunia masih di atas 10 detik. Sedangkan kebanyakan orang saat mencoba sesuatu masih dalam hitungan pekan atau bulan, tidak melihat hasilnya,  menghentikan usahanya dan menyerah.
.
Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang mudah menyerah.

Ternyata Kekayaan Tidak Berpasangan dengan Kemiskinan

Di dunia ini Allah SWT Tuhan Yang Maha Adil selalu menciptakan sesuatu berpasangan, kecuali kemiskinan.

.
Nha lho..
Kok begitu?
.
Dari agama yang saya yakini, di dalam Al Qur’an ditemukan hal-hal berpasangan.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Najm terkait beberapa hal yang berpasangan.

“dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
__QSAn-Najm : 43

“dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.”
__QS. An-Najm : 44

“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. ”
__QS. An-Najm : 45

“dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN.”
__QS. An-Najm : 48

Ternyata dalam firman tersebut, Allah Tuhan Yang Maha Adil tidak memasangkan kekayaan dengan kemiskinan.

Sesungguhnya Allah HANYA memberikan kekayaan dan kecukupan kepada hamba-hamba-Nya BUKAN KEMISKINAN. Bisa jadi, seperti yang saya dan mungkin rekan-rekan sahabat semua sangkakan selama ini.

Ternyata yang menciptakan kemiskinan adalah diri kita sendiri. Kemiskinan itu selalu kita bentuk dalam pola pikir kita.

Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang pandai bersyukur walaupun hidup cuma pas-pasan, tapi ia tetap bisa tersenyum BAHAGIA. Sebab ia MERASA CUKUP, bukan merasa miskin seperti kebanyakan orang lainnya.

Semoga kita termasuk dari golongan orang-orang yang selalu merasa cukup dan selalu bersyukur dalam segala hal.
.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
__QS Ibrahim : 7
.
Semoga menggerakkan hati dan aksi kita semua. Semoga berkenan.
.
Ditulis di #serambimasjid #masjidassalaam #duri #bengkalis. Mengembil hikmah setelah sholat subuh berjamaah,

Perubahan Kecil, Berdampak Besar

Perubahan Kecil, Berdampak Besar
By Capt. Mike Abrashoff, Mantan Komandan Kapal Perang USS Benfold
.
I did something that had never been done before in the history of the navy.
.
I interviewed every sailor on the ship, INDIVIDUALLY. All of 310 of them, but in these interviews, I said to my sailors, I don’t care what your age is, I don’t care what your rank, I don’t care how long you have been here. You can come to work every day, and you can CHALLENGE every aspect of our operation and if you have an idea how to improve a process 1%, I want to hear from YOU.

I said to them, we can not change the rest of the navy, it is 320.000 people. but you know what we can do? we can make our own little piece of it. the BEST and the SAFEST that we possibly can and if we were 1% BETTER today than we were yesterday and 1% BETTER tomorrow than we are today NOBODY’S going to touch us. And what happened they started taking OWNERSHIP of the ship.

They started working together BETTER as a team and morale improved and they started collaborating BETTER.

And in 15 months, the same crew that was performing near the bottom was awarded the SPOKANE TROPHY which was an award started in1908 by President Theodore Roosevelt and given annually to the BEST ship in the Pacific Fleet. And in years three and four after that USS Benfold won the award for BEST ship in the ENTIRE US Navy.

And its because what we instilled was something that we weren’t VICTIMS but instead we were going to be intellectually curious and do whatever we can to put ourselves in a position to control our own DESTINY.
.
_____
Saya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah Angkatan Laut.

Saya mewawancarai setiap pelaut di kapal, SECARA INDIVIDU Sebanyak 310 orang. Tetapi dalam wawancara ini, saya berkata kepada seorang pelaut, saya tidak peduli berapa usianya, saya tidak peduli pangkatnya, saya tidak peduli sudah berapa lama dia disini. Anda dapat datang bekerja setiap hari, dan anda dapat MENANTANG setiap aspek operasi kami dan jika anda memiliki ide bagaimana meningkatkan proses 1%, saya ingin mendengarnya dari ANDA.
.
Saya berkata kepada mereka, kita tidak bisa mengubah semua angkatan laut sebanyak 320.000 orang, tapi kamu tahu apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa membuat bagian kecil kita sendiri yang TERBAIK dan yang TERAMAN yang kita bisa, dan jika kita 1% bisa LEBIH BAIK hari ini dari pada kemarin, dan 1% LEBIH BAIK besok dari pada hari ini, pasti TIDAK ADA yang akan menyentuh kita. Dan apa yang terjadi, mereka mulai mengambil KENDALI atas kapal.
.
Mereka mulai bekerja sama LEBIH BAIK sebagai tim, dengan semangat yang meningkat dan mereka mulai bekerja sama LEBIH BAIK.
.
Dalam waktu 15 bulan, kru yang sama yang sedang melakukan kinerja di dekat dasar dianugerahi TROFI SPOKANE yang merupakan penghargaan yang dimulai pada tahun 1908 oleh presiden Theodore Roosevelt penghargaan itu diberikan setiap tahun kepada kapal TERBAIK di Armada Pasifik, dan dalam tiga – empat tahun setelah itu, USS Benfold memenangkan penghargaan untuk KAPAL TERBAIK di seluruh Angkatan Laut AS.

Hal itu bisa terjadi karena apa yang kami tanamkan adalah sesuatu pemahaman berfikir bahwa mereka bukanlah KORBAN tetapi sebaliknya kami menanamkan rasa keingintahuan secara intelektual dan melakukan apa pun yang kami bisa untuk menempatkan diri kami dalam posisi untuk mengendalikan TUJUAN kami sendiri.
..
Alih bahasa oleh : Rina Wirastuti, BoD Support of PT. Elnusa Fabrikasi Konstruksi