Garis Kebenaran Kita

Garis Kebenaran Kita

Oleh : Tri Astoto Kurniawan, ST., MT., Ph.D *)

Suatu ketika, sebuah usulan cerdas mengemuka dari seseorang dalam sebuah rapat penting nan genting, ” Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu ketika kami di negeri Persia, apabila kami dikepung (musuh), maka kami membuat parit di sekitar kami”. Rasulullah kemudian dengan kecerdasan (emosional dan intelektual) nya menyetujui usulan itu untuk segera dilaksanakan oleh kaum muslimin di Madinah. Dialog itu terjadi sekira bulan Syawal tahun kelima Hijriyah, sebagai persiapan umat Islam di Madinah yang mendengar akan datangnya serbuan dari pasukan sekutu gabungan dari kaum kafir Quraisy Mekah dan Yahudi Bani Nadhir. Selama beberapa hari, Rasulullah SAW bahu membahu dengan umat Islam lainnya menggali parit untuk membentengi Madinah. Pada saatnya tiba, pasukan sekutu datang dengan jumlah 10 ribu orang, jauh lebih besar dibandingkan dengan pasukan kaum muslimin yang hanya berkekuatan 3 ribu orang. Karena terhalang parit yang cukup lebar dan dalam, pasukan sekutu tidak mampu memasuki Madinah dan hanya bisa berputar-putar di seberang parit selama beberapa hari. Pada akhirnya, dengan ijin Allah SWT, strategi parit itu benar-benar jitu, sebuah strategi perang yang belum pernah dikenal di antero jazirah Arab ketika itu. Pasukan sekutu harus balik badan kembali ke Mekah dengan penuh keputusasaan dan kegagalan total, tanpa bisa memasuki Madinah. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai Perang Khandaq (Parit) atau Perang Ahzab. Seseorang yang punya ide brilian itu adalah Salman al-Farisiy, seorang nan cerdas yang harus menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan kisah berliku dari tanah kelahirannya di Kota Isfahan, Persia menuju Madinah dengan satu tujuan untuk mendapatkan kebenaran Islam.

Sahabat…, sebagai pribadi yang maksum (dijaga dari kesalahan) dan pribadi yang senantiasa dibimbing wahyu Allah SWT, sebetulnya Rasulullah SAW bisa saja menggunakan otoritasnya untuk memutuskan strategi apa yang harus diambil ketika itu. Dan, para sahabat tentu akan serta merta menjalankannya sebagai wujud ketaatan mereka, terlebih lagi dalam kondisi segenting itu. Namun, penggalan kisah itu ingin mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW memberikan ruang diskusi dan menerima pendapat dari perspektif atau paradigma lain, sebuah strategi perang yang tidak biasa dilakukan di jazirah Arab ketika itu. Sungguh, sebuah teladan yang sangat mulia dari pribadi agung, yang keagungan akhlaknya diabadikan di dalam Al Quran.

Sahabat…, dalam hidup ini, masing2 kita memasang garis kebenaran (meminjam istilah yang digunakan dalam Kajian Magnet Rezeki – Ustadz Nasrullah) nya sendiri; ada yang tinggi, sedang, ataupun rendah. Semakin tinggi garis kebenaran kita maka semakin kecil peluang kita untuk mampu menerima kebenaran dari orang lain dengan perspektif yang berbeda dan semakin mudah kita menganggap orang lain tidak benar. Begitulah, kita bisa memahami berbagai konflik yang terjadi di antara manusia atau kelompok manusia ketika garis kebenaran yang dipasang sama-sama tinggi. Begitu pun dalam keluarga, jika sang suami dan sang istri masing-masing memasang garis kebenaran yang tinggi maka bisa dipastikan keluarga tersebut akan banyak diwarnai dengan konflik dalam perbedaan pendapat, baik terbuka ataupun tidak, yang tidak berkesudahan. Hal yang sama bisa terjadi antara orang tua dengan anak, pimpinan dengan bawahan, dan seterusnya. Rasulullah SAW, pribadi yang kemaksumannya tidak bisa dibantah, telah memberikan teladan dengan menurunkan garis kebenarannya sehingga memungkinkan masuknya pendapat atau paradigma lain (dari orang biasa), dan selanjutnya beliau menerimanya. Dengan menurunkan garis kebenaran, kita akan mampu berpikir alternatif dan tidak monolitik, bisa jadi pandangan orang lain jauh lebih benar daripada apa yang kita yakini, sehingga pintu dialog bisa terbuka dan solusi terbaik bisa diambil.

Sahabat…, saat ini kita bersama sedang menghadapi situasi genting dengan adanya pandemi yang berlangsung secara global. Setiap bangsa mengalami ancaman yang sama meskipun dengan derajat yang berbeda yang mengakibatkan beragam aktivitas kehidupan tidak bisa dijalankan normal sebagaimana biasanya. Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, terlebih lagi kita dibayangi dengan fenomena mutasi virus penyebab pandemi ini, dimana para ahli pun tidak mampu memprediksinya. Sudah tidak terbilang, berapa dana yang telah dihabiskan untuk keperluan mitigasi selama ini, sebagaimana tidak terhitung pula berapa jiwa yang tidak bisa terselamatkan. Angka statistik korban meninggal yang terkonfirmasi positif tidak semestinya kita baca hanya sebatas deretan angka naik atau turun, karena setiap angka itu adalah nyawa manusia yang sangat berharga. Setiap angka itu harus kita pandang sebagai jiwa yang harus dilindungi karena mereka adalah makhluk Allah SWT, tanpa memandang keyakinan, jenis kelamin, strata sosial, strata pendidikan, suku dan bangsanya.

Sahabat…, dunia sedang menghadapi sebuah makhluk super kecil dan tidak kasat mata, tetapi dengan ijin Allah SWT mampu menyebabkan fatalitas yang luar biasa, sehingga kita semua dibuat kalang kabut karenanya. Boleh jadi, kita sangat yakin dengan strategi mitigasi yang selama ini kita lakukan, karena strategi yang sama diterapkan secara global terutama di negara2 maju, meskipun pada saat yang sama korban masih berjatuhan. Beberapa bulan terakhir ini, mata kita dibuka untuk bisa melihat fakta betapa fasilitas kesehatan (faskes) yang ada, berikut sarana penunjangnya (obat-obatan, vitamin, ventilator, dll.), tidak mampu merespon secara proporsional eskalasi kasus yang peningkatannya luar biasa. Situasi itu menjadikan faskes dan sarana penunjangnya menjadi sumber daya kritis, dimana tidak setiap orang (yang terpapar) bisa mengaksesnya. Jika demikian halnya, kita bisa saksikan sendiri ‘hukum alam’ berlaku sehingga memunculkan sifat dasar manusia, siapa yang kuat (kekuasaan, ekonomi, jaringan) maka dialah yang bisa mengaksesnya. Dampaknya, setiap kita akhirnya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya, yang penting bagaimana diri dan kelompoknya bisa ‘aman’, tidak peduli dengan orang/kelompok lain, berapapun harga yang harus dibayar. Sungguh situasi yang sangat mengerikan, di tengah tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung. Situasi ini semakin tidak menguntungkan akibat terjadinya panic buying sehingga seseorang (dan kelompoknya) membeli sesuatu melebihi keperluannya yang berakibat ketersediaan stok semakin terbatas, ditambah lagi dengan terganggunya rantai pasokan ( supply chain management) selama pandemi berlangsung. Lalu, apakah tidak sempat terlintas dalam pikiran kita bagaimana nasib saudara2 kita yang terpapar namun tidak memiliki ‘kekuatan’ sebagaimana yang kita miliki? Apakah mereka tidak kita anggap sebagai manusia, makhluk Allah SWT, yang jiwanya patut mendapatkan perlindungan juga? Apa yang akan kita jawab di yaumul hisab nanti ketika Allah SWT menanyakan bagaimana kita bisa ‘aman’ saat pandemi terjadi?

Sahabat…, di tengah ketidakpastian pandemi ini, ada baiknya kita mencoba rehat sejenak. Mari, kita mencoba menurunkan garis kebenaran kita agar ada ruang kebenaran atau paradigma lain bisa masuk untuk dikaji lebih dalam guna mencari strategi yang lebih baik yang bisa berlaku untuk setiap orang, karena dalam kenyataannya virus ini akan menyasar siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sebagai orang yang beriman, kita menurunkan garis kebenaran kita agar kebenaran Allah SWT bisa masuk.

Pertama, Maha Benar Allah SWT yang telah menyatakan dalam Al Quran bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling baik dan sempurna, baik dari sisi tampilan fisik maupun sistem yang bekerja di dalamnya.

Kedua, Maha Suci Allah SWT, DIA yang tidak akan pernah berlaku tidak adil kepada hamba-NYA, baik mereka beriman atau tidak.

Minimal dua kebenaran itulah yang perlu kita renungkan bersama sebagai dasar keimanan kita dalam berselancar di tengah ombak pandemi ini. Keimanan yang mendorong terjadinya eksplorasi keilmuan yang bisa dijelaskan secara rasional sehingga strategi yang dirumuskan akan sejalan dengan kehendak-Nya. Bukan keimanan yang berdiri di satu sisi, sementara keilmuan di sisi yang lain. Karena pada hakekatnya, pandemi dan segala sesuatu yang menyertainya saat ini pasti berada dalam pengetahuan dan kehendak-Nya yang itu diharapkan bisa menjadi instrumen peringatan kepada kita untuk kembali mengagungkan-Nya di dalam setiap langkah kehidupan kita selanjutnya. Semoga pemahaman yang baik terhadap kondisi dan sistem yang bekerja dalam tubuh kita, virus penyebab pandemi ini, dan medan amal kita akan mengantarkan kita pada tatanan kehidupan baru (new life order) yang lebih sesuai dengan kehendak-Nya. Aamiin YRA.

.

*) Tri Astoto Kurniawan adalah dosen di Universitas Brawijaya. Menempuh pendidikan S1 di Teknik Elektro UB, S2 Rekayasa Perangkat Lunak di ITB dan S3 Software Engineering di University of Wollongong. Australia. Pernah sebagai Software Engineer PT. Dirgantara Indonesia.

Kegundahan Seorang Ayah

KEGUNDAHAN SEORANG AYAH

Oleh: Satria Hadi Lubis

.

Menjelang ajalnya, lelaki tua itu merasa gundah dan gelisah. Air matanya mengalir membayangkan hisab yang akan diterimanya kelak. Tak henti-hentinya ia berzikir dengan suara bergetar diliputi rasa takut dan harap bahwa ia telah menjalankan amanah kehidupan ini dengan baik.

.

Ada satu yang masih mengganjalnya yang membuatnya begitu gundah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Lelaki tua yang sepanjang hidupnya selalu berjuang membela kebenaran ini kemudian mengumpulkan anak-anaknya. Lalu terjadilah dialog yang Allah abadikan di dalam surah al Baqarah ayat 133:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

.

Lelaki tua itu adalah Nabi Yaqub as. Kegundahan beliau bukan karena masa depan materi anak-anaknya, tapi masa depan iman dan tauhid anak-anaknya. Subhanallah….inilah kegundahan seorang ayah yang paham betul apa makna warisan sesungguhnya. Bukan harta atau materi yang perlu dikuatirkan sebagai warisan untuk masa depan anak-anaknya, tapi iman dan tauhid.

.

Kegundahan Nabi Yaqub as adalah kegundahan setiap ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kegundahan yang membuat seorang ayah berdoa siang dan malam dan menangis di sepertiga malam memikirkan iman anak-anaknya. Gelisah…apakah ia sudah menjadi ayah yang benar. Apakah upayanya sudah maksimal untuk mendidik anak-anaknya. Ia takut anak-anaknya akan menyeretnya ke neraka, karena belum maksimal mendidik anak-anaknya.

.

Kegundahan seorang ayah yang hanya bisa dijawab dengan iman dan tauhid dari anak-anaknya. Kegundahan yang hanya bisa dijawab dengan perbuatan sholih anak-anaknya, baik ketika ia masih hidup maupun sesudah meninggal.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, prestasi seabreg anaknya belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kebaikan dan kecintaan anak-anak kepadanya di masa tua belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan warisan harta benda yang membuatnya kuatir menelantarkan anak-anaknya sepeninggalnya, tapi warisan iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan balas jasa materi yang ia harapkan dari anak-anaknya. Tapi doa dari anak yang sholih. Baik ketika ia baru meninggal, maupun sesudah lama ia meninggal. Ia yakin doa anak-anaknya akan mengurangi siksa kuburnya.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidurnya menjadi tidak nyenyak karena di kepalanya terus terngiang-ngiang ayat Allah berikut:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kebahagiaan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Qs. An Nisa’ : 9).

.

Wahai anak-anakku….jika engkau mencintai ayahmu buatlah ia tenang dan bangga dengan iman dan tauhidmu. Bukan oleh prestasi semu, yang hanya menipumu dan menipunya. Bukan oleh prestasi semu yang tidak berguna di hari keabadian, bagimu dan baginya.

.

*) Satria Hadi Lubis biasa disingkat SHL, adalah dosen dan juga penulis produktif dan best seller. Tulisan ini beliau dedikasikan dalam memperingati Hari Anak Nasional, 23 Juli 2021

Kaidah Amal Pengganti

KAIDAH “AMAL PENGGANTI”

Oleh: Ust. Aunur Rafiq Saleh

Dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat 92 friman Allahyang artinya:

“Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (QS. At-Taubah: 92)

• Allah memberikan berbagai kesempatan istimewa bagi orang-orang beriman, agar mereka meraih derajat sangat tinggi dan dekat di sisi-Nya. Tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya karena suatu sebab syar’i yang tidak memungkinkannya, seperti kesempatan jihad di jalan Allah dan lainnya.

• Agar semua orang bisa mendapatkan berbagai kesempatan istimewa tersebut, Allah memberikan kesempatan yang sama dalam bentuk amal pengganti. Sekalipun pahalanya tidak sama sepenuhnya tetapi mendekati keutamaannya, karena statusnya sebagai amal pengganti.

• Seperti orang-orang yang tidak bisa ikut berjihad bersama Nabi saw karena tidak punya dana untuk membiayai keberangkatan mereka, sebagaimana disebutkan ayat di atas, padahal mereka serius ingin bisa ikut berjihad. Kepada orang-orang seperti ini, Allah memberikan pahala seperti pahala yang didapat orang-orang yang berangkat ke medan jihad. Karena Allah mengetahui kesungguhan hati mereka. Sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya di kota Madinah terdapat sekelompok laki-laki, tidak ada lembah yang kalian tembus dan perjalanan yang kalian tempuh, kecuali mereka bersama kalian di dalam mendapatkan pahalanya karena udzur telah menghalangi mereka.” (Sunan Ibnu Majah 2755)

• Allah memberi keutamaan kepada muadzin. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi muadzin sekalipun banyak orang yang menginginkannya. Sebagai gantinya, Nabi saw mensyariatkan menjawab adzan agar kesempatan mendapat keutamaan adzan itu bisa didapatkan semua.orang.

• Allah memberi keutamaan kepada orang-orang yang menunaikan rangkaian ibadah haji khususnya mulai tanggal 1-10 Dzul Hijjah. Tetapi tidak semua orang bisa menunaikannya sekalipun sangat menginginkannya. Sebagai gantinya, Allah menjadikan sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sebagai hari-hari terbaik dunia untuk melaksanan berbagai amal saleh, agar mereka juga mendapat keutamaan yang didapatkan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji.

• Allah memberi keutamaan kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Tetapi tidak semua orang bisa melakukannya sekalipun menginginkannya. Sebagai gantinya, Allah memberikan pahala berperang di jalan Allah bagi orang yang ikut menyiapkan bekal atau kebutuhan orang yang berangkat ke medan jihad. Sabda Nabi SAW:

“Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah berperang (mendapat pahala berperang). Dan barang siapa yang menjaga (menanggung urusan rumah) orang yang berperang di jalan Allah dengan baik berarti dia telah berperang.”(Shahih al-Bukhari 2631)

• Demikianlah, setiap kesempatan istimewa yang tidak bisa diraih oleh semua orang, Allah selalu memberikan amal pengganti agar semua orang memiliki kesempatan yang sama. Maka jangan sia-siakan amal pengganti yang diberikan.

• Bahkan ada amal pengganti yang agak sedikit berbeda dari kaidah di atas. Sejumlah orang miskin merasa iri kepada kesempatan amal yang dimiliki orang-orang kaya, karena bisa beramal banyak dengan hartanya sedangkan orang-orang miskin tidak bisa melakukannya. Kemudian Nabi saw memberikan amal pengganti buat mereka, sebagaimana riwayat berikut ini:

“Dari Abu Hurairah -dan ini adalah hadis Qutaibah- Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab; Baiklah wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali. Abu shalih berkata; Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya!” (Shahih Muslim 936)

Bangkitlah Negeriku

Bangkitlah Negeriku

Oleh: Tate Qomaruddin

.

Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
.
Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan
.
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
.
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
.
Selama matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah!

.

Goresan pena yang menyiratkan kondisi negeri. Untaian kata yang mampu menggelorakan semangat, menggerakkan aksi untuk negeri. Masih banyak karya dan aksi nyata beliau. Semoga karsa dan karya almarhum Kang Tate Qomaruddin menjadi amal jariyah. Allaahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Kompas Etis Kepemimpinan

KOMPAS ETIS KEPEMIMPINAN

Oleh: YUDI LATIF

Hanya karena panggilan sejarah yang tak terelakkan, demi menghindari perpecahan bangsa yang baru merdeka, pemimpin besar perang kemerdekaan Amerika Serikat George Washington mau menerima pengangkatannya sebagai presiden AS yang pertama. Setelah masa jabatan kepresidenan pertamanya berakhir, dia berniat kembali ke kompleks peternakannya. Namun, niat itu terpaksa ia urungkan, mengingat kondisi republik muda yang masih goyah dirundung konflik elit kekuasaan.

Setelah masa jabatan keduanya berakhir, dia bisa saja berkuasa lagi hingga kapan ia mau. Tapi, kompas etis kepemimpinannya mengatakan “enough is enough”. Keberlangsungan republik tak boleh bergantung pada seseorang sebesar dan sehebat apapun orang itu. Tunas-tunas baru harus meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.

Praktik kekuasaan Washington itu kemudian menjadi konvensi, standar etis masa bhakti kepresidenan, Meski Konstitusi AS aslinya tidak memberikan batasan berapa kali seseorang bisa memegang jabatan Presiden, namun setiap ada orang yang berhasrat mencalonkan lagi setelah dua kali terpilih, kepekaan rasa mahunya selalu tak sanggup menghadapi pertanyaan gaib nurani publik. “Apakah anda merasa lebih hebat dari Washington?”

Demikianlah, warisan terhebat dari seorang pemimpin adalah standar dan visi etis yang ditinggalkannya. Sumbangsih kepemimpinan tidak ditentukan oleh seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan nilai apa yang dibudayakannya selama berkuasa. Kepemimpinan negara ini pusat teladan, ibarat mata air yang darinya mengalir sungai-sungai kehidupan yang memasok air ke hilir. Seperti apa mutu air di hulu akan memengaruhi mutu kehidupan di hilir.

Dalam demokrasi luhur adab, hukum berenang di lautan etika. Defisit institusi dan peraturan selalu bisa ditutupi oleh kedalaman moralitas penyelenggara negara dan warganya. Dalam demokrasi rendah adab, surplus pasal konsitusi dan undang-undang tak membuat kepastian dan tertib hukum, melainkan selalu dicari celahnya untuk disiasati demi kepentingan sesaat. Setiap ada usulan untuk mengembalikan konsitusi ke rel yang benar, selalu ada penumpang gelap yang membonceng di belakangnya.

Berbagai ekspresi ketidakpatutan etis dalam ruang publik kita mengindikasikan rendahnya literasi moral di lingkungan elit negeri. Seperti tak punya rasa malu, saut tingkat keterpaparan Covid-19 melonjak dan keterpurukan sosial-ekonomi memagut, elit politik masih berlomba mendendangkan lagu keberhasilan dalam adu pencitraan. Seperti tak bisa merasa, tingginya kedudukan dan pengaruh dulan politik seolah bisa menerabas apapun ambang kepatutan.

Tinggi rendahnya keadaban elit politik itu bisa bisa dilihat dari caranya menghormati dan memajukan dunia pendidikan. Bahkan semasa perang dunia sekalipun, lumbung ilmu seperti Universitas Heidelberg dan Sorbonne tak disentuh serangan militer.

Kebiadaban suatu bangsa terlihat dari usaha politisasi dan eksploitasi dunia pendidikan untuk tujuan tujuan pragmatis. Elit politik di negeri ini malah berlomba meraih gelar-gelar akademis dengan cara-cara yang dapat merendahkan standar mutu dan wibawa dunia akademis.

Yang lebih memprihatinkan lagi, para ilmuwan dan dunia pendidikan sendiri sebagai benteng nalar dan moral juga hanyut dalan arus pengkhianatan intelektual. Bukan bicara benar pada kekuasaan, tetapi membungkuk pada kekuasaan. Para spin doctors (konseptor, surveyor, influencer politik) menjadi instrumen rekayasa penyimpangan politik.

Para rektur perguruan tinggi tega merendahkan martahat dunia pendidikan dengan “menjual” bangku dan gelar akademik dengan harga yang murah.

Tak ada konstitusi yang bisa dipenuhi imperatifnya tanpa basis moral. Seperti diingatkan John Adams pada para milisi Massachusetts, “Konsitusi kita dibuat hanya bagi orang-orang religius dan bermoral.” Pasal konstitusi terus ditambah, berbagai undang-undang terus diproduksi, namun tak membuat negara ini berjalan di atas rel yang benar, karena kita mengalami defisit keteladanan dan semangat moral penyelenggara negara.

Jauh-jauh hari Mr. Soepomo telah mengingatkan: “Paduka Tuan Ketua, yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidup negara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun kita membikin undang-undang yang menurut kata-katanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat para penyelenggara negara, pemimpin pemerintahan itu bersifat perseorangan, undang-undang dasar tadi tentu tidak ada artinya dalam praktek.”

Tanggung jawab terpenting dari pemimpin negara adalah sebagai “penjaga konstitusi”. Dalam ketidaksempurnaan konstitusi dan kelembagaan yang ada, kepemimpinan kharismatik bisa menutupinya dengan kewibawaan moral. Dalam kaitan itu, Lyndon B. Johnson mengingatkan, “Tugas berat seorang presiden bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.”

Untuk mengetahui apa yang benar, seorang Presiden harus menemukan panduan dari norma-norma fundamental. Bahwa praktik demokrasi harus disesuaikan dengan mandat konstinusi, karena pengertian ‘demokrasi konstitusional’ tak lain adalah demokrasi yang tujuan ideologis dan teologisnya adalah pembentukan dan pemenuhan konstitusi.

Setelah mengetahui apa yang benar, Presiden harus bisa bertindak benar dengan integritas moral yang tak mudah goyah. “Sebagai presiden,” seru Abraham Lincoln, “Aku tak punya mata kecuali mata konstitusi. Dengan mata konstitusi, presiden bisa mengetahui apa yang benar Dengan integritas moral, presiden bisa bertindak benar, yang bisa mewariskan standartis dalam kehidupan republik. Bahwa hidup ini pendek, sedang kehidupan itu panjang. Maka, janganlah demi kepentingan penghidupan-kekuasaan jangka pendek. kepemimpinan mengorbankan prinsip-prinsip kehidupan untuk jangka panjang.
.

Artikel tersebut dimuat pada 24 Juni 2021: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2021/06/24/kompas-etis-kepemimpinan/

Editor: MADINA NUSRAT

*) Yudi Latif, Ph.D. Beliau menamatkan studi S1 pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (1990), S2 dalam Sosiologi Politik dari Australian National University (1999), dan S3 dalam Sosiologi Politik dan Komunikasi dari Australian National University (2004). Aktivitas lainnya: Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia). Anggota ahli Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID). Anggota Dewan Pendiri Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta . Beliau juga sebagai Pimpinan, Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan (PeKiK-Indonesia). Selain itu, beliau adalah Pemimpin Redaksi, “Biografi Politik” dan Pemimpin Redaksi Majalah ‘Kandidat’.

Memerdekakan Pendidikan

Memerdekakan Pendidikan

Oleh : KH. Imam Zarkasyi *)

.

Pendidikan nasional kita sudah seharusnya memasukkan pendidikan jiwa merdeka, mewujudkan kepribadian sebagai warga negara yang sudah merdeka. Pendidikan ini merupakan kebalikan dari jiwa pendidikan kolonial yang hanya menyiapkan peserta didik menjadi pegawai.

.

Cita-cita anak didik yang hanya ingin menjadi pegawai, membuat mereka tak mampu membuka mata, untuk melihat apa yang harus dikerjakan, dan harus dipikirkan. Selain sekedar menjadi pegawai. Kita sudah lama merdeka. Seharusnya sudah ada perubahan. Bahkan pembaharuan dalam jiwa pendidikan.

.

Ada beberapa kerusakan mental dari pendidikan kolonial.

  1. Orang yang sudah bersekolah tak mau bekerja kalau tidak menjadi pegawai. Mata hatinya pun tertutup dan pikirannya buntu. Tidak melihat dan mengerti pekerjaan maupun usaha yang masih amat banyak dan sangat bermanfaat dikerjakan.
  2. Anak atau pemuda yang tidak diangkat atau tidak mendapat tempat dalam kepegawaian, akan kecewa dan frustasi. Yang lebih berbahaya jika kekecewaan ini menggerakkan mereka melakukan hal-hal yang merusak dan merugikan. Seperti menjadi pencopet, penggedor, penipu, atau menuntut-nuntut, dan lain-lain.
  3. Apabila mereka sudah diangkat menjadi pegawai dan sudah meraih cita-citanya itu, mereka pun mati. Tidak berbuat apa-apa jika tidak diperintah atasannya. Tidak melihat hal-hal yang masih dapat dikerjakan dan diusahakan untuk kepentingan pribadi, masyarakat, dan negara.
  4. Lemahnya perekonomian bumiputera. Karena anak-anak pribumi yang bersekolah hanya bercita-cita menjadi pegawai, tidak berpikir dan tidak mengetahui usaha-usaha perekonomian kecil dan menengah yang masih dapat dikerjakan, akhirnya perekonomian dan perdagangan kecil dan menengah dalam negeri pun sekarang ini masih dipegang orang-orang non pribumi yang tidak bersekolah. Apa sebabnya? Karena mereka tidak mungkin dan tidak ingin menjadi pegawai.

.

Ada sedikit kalangan orang bumiputera yang tidak sekolah, lalu berhasil memegang peranan dalam ekonomi. Kemudian mereka mulai menyekolahkan anaknya agar usahanya dapat meningkat. Tetapi ternyata, sesudah anak itu lulus sekolah, sangat sedikit atau bahkan tak ada yang mau meneruskan usaha orang tuanya. Mereka lebih senang menjadi pegawai, karena banyak menganggap bahwa menjadi pegawai kedudukannya lebih terhormat, dan penghidupan akan lebih terjamin.

.

Bagaimana memberantasnya? Yang jelas, caranya dengan menanamkan pendidikan nasional yang jiwa bebas merdeka, memiliki keyakinan hidup, berkepribadian, berakhlak, dan berTuhan. Sejak pendidikan di lingkungan rumah tangga, taman kanak-kanak, hingga perguruan tinggi. Ada istilah wiraswasta. Istilah ini sering hanya diartikan sebagai pengusaha swasta yang sukses. Padahal sebenarnya yang harus diambil adalah jiwa kewiraswastaannya. Dalam kata-kata ini terkandung maksud kebebasan, kepribadian, dan keyakinan hidup.

.

Jiwa kewiraswastaan yang berdasarkan Pancasila dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), harus ditanamkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Andaikata sesudah itu mereka menjadi pegawai, in sya Allah mereka akan menjadi pegawai yang baik, yang dapat hidup tak sebagai alat yang mati.

.

.

*) KH. Imam Zarkasyi adalah salah satu pendiri Pondok Modern Darusalam Gontor,  Ponorogo, bersama KH. Ahamd Sahal dan KH Zainuddin Fananie. Lebih dikenal dengan Trimurti. Wafat di Madiun pada 30 April 1985 dalam usia 75 tahun.
Buah pena beliau ini dimuat di Majalah Gontor, Edisi 9 Tahun XVIII, Januari 2021.

Yacouba Sawadago

The Man Who Stopped The Desert
.
Namanya Yacouba Sawadogo. Dia adalah seorang luar biasa yang menghentikan penggurunan sendirian dengan waktu yang tak singkat dan akan terus berlanjut. Dia berhasil menemukan solusi untuk sebuah krisis yang membuat para ilmuwan dan organisasi pengembang meragukannya. Pertarungan melawan penggurunan di Burkina Faso Utara menuju kegersangan telah bergeser menuju kemenangan. Ini karena teknik konservasi tanah dan konservasi hutan sang petani tua tersebut.
.
Erosi tanah yang parah dan pengeringan tanah di Afrika Barat semuanya disebabkan oleh populasi yang berlebihan, pertanian berlebihan dan penggembalaan yang berlebihan juga. Para peneliti nasional dan internasional berusaha untuk memperbaiki situasi ini, namun hal itu tidak terlalu membantu. Sampai akhirnya Yacouba memulai upayanya pada tahun 1980.
.
Metode yang dia gunakan sangat aneh sehingga dia diejek oleh rekan-rekan petaninya. Namun, mereka akhirnya menyadari ketika tekniknya tersebut berhasil mengembalikan hutan. Yacouba menghidupkan kembali ‘zai’. Zai adalah praktik kuno pertanian Afrika dan ini dapat menumbuhkan hutan tumbuh dan meningkatkan kualitas tanah.
.
Zai adalah praktik pertanian yang sangat mudah dan tidak mahal. Sekop atau kapak digunakan untuk menggali lubang kecil pada tanah yang keras dan kemudian diisi dengan kompos. Biji pohon, millet atau sorgum juga ditanam ke dalam kompos. Lubang yang digali dapat menampung air yang turun saat musim hujan. Sehingga teknik tersebut mampu menjaga kelembapan dan nutrisi selama musim kemarau.
.
Zai memiliki sederatan peraturan tertentu, salah satunya Yacouba perlu menyiapkan lahan saat di musim kemarau. Itu sebenarnya berlawanan dengan kebiasaan praktik pertanian daerah setempat. Dia ditertawakan oleh para pejabat dan para petani lainnya. Lalu mereka menyadari bahwa Yacouba memang seorang jenius sejati. Hanya dalam 20 tahun, ia telah mengubah area tandus menjadi hutan yang indah seluas 12 hektar yang dilengkapi dengan lebih dari 60 jenis pohon yang berbeda.
.
Seorang spesialis pengelolaan sumber daya alam dan Pusat Kerjasama Internasional Chris Reji, mengatakan “Ribuan hektar lahan yang sama sekali tidak produktif telah dibuat produktif kembali berkat teknik Yacouba.”
.
Dia telah memilih untuk tidak menyimpan rahasia itu bagi dirinya sendiri. Dia menyelenggarakan sebuah lokakarya di pertaniannya yang mengajarkan kepada para pengunjung dan mengajak orang secara bersama-sama. “Saya ingin program pelatihan menjadi titik awal bagi banyak pertukaran yang bermanfaat di seluruh wilayah,” katanya. Para petani dari desa sekitarnya berkunjung untuk mendapatkan saran dan bibit berkualitas tinggi.
.
“Jika Anda tetap terdiam di sudut kecil Anda sendiri, semua pengetahuan Anda tidak berguna bagi kemanusiaan.”
.
Artikel saya salin dari : www.ikons.id untuk memperingati Hari Hutan Internasional, 21 Maret 2021