Es Legend

ES LEGEND

Oleh: Restu Respati *)

Berawal dari Pak Tamsir yang mulai berjualan sejak tahun 1959, berkeliling dari kampung ke kampung, di sekitar rumahnya di Kampung Sukun Gang 8 Malang. Saat anaknya Joni masuk sekolah dasar, sepulang sekolah diajaknya berkeliling juga. Jika di rumah Joni disuruhnya membantu membuat adonan es jualannya. Saat Joni mulai beranjak remaja, Joni mulai mandiri berjualan sendiri dengan gerobak yang berbeda. Dan pada akhirnya Joni setiap harinya mangkal berjualan di Jalan Tanimbar di depan SMK Negeri 4 Malang. Ini berlangsung sekitar tahun 1990-an.

Es Legend ini sebenarnya adalah Es Santan Ketan Hitam. Disebut Es Legend karena minuman ini merupakan kuliner tradisional jaman lawas yang masih ada sampai sekarang. Yang menamai sebagai Es Legend pun sebenarnya adalah para pelanggan yang menganggap bahwa es ini merupakan minuman legendaris khas Malang.

Es Legend atau Es Santan Ketan Hitam ini berisikan komposisi parutan es batu, santan, ketan hitam, dawet berwarna merah, yang dicampur menjadi satu dalam sebuah gelas, kemudian disiram dengan sirup berwarna merah. Sebagai pelengkap bisa ditambahkan roti tawar yang juga disiram sirup berwarna merah di atasnya. Yang menjadikan Es Legend ini sangat istimewa adalah roti dan sirup berwarna merah ini tetap tidak berubah cita rasanya dari dulu.

Pemandangan yang lucu dan membawa kita kembali ke masa kecil adalah saat para penikmat es legend ini mulai menyantapnya. Hampir semuanya memulai dengan mencelupkan roti ke dalam gelas es, baru kemudian menyantapnya.

Harga Es Legend ini cukup murah, segelas hanya Rp. 3.000, dan tambahan roti tawar hanya Rp. 1.000,. Cukuplah minum berdua bersama pasangan dengan modal Rp. 10.000 bahkan ada kembalian Rp. 2.000.

.

*) Restu Respati adalah Pemerhati Cagar Budaya. Pegiat sejarah ini juga didapuk sebagai Ketua Jelajah Jejak Malang. Ulasan terkait warisan budaya dan hasil pengamatan bangunan bersejarah khususnya di Kota Malang banyak di tulis di Teraskota.id

Gorila Tak Tampak

Tulisan ini saya salin dari FB.
.
GORILA TAK TAMPAK
Oleh: Awang Surya *)
.
Ada sebuah penelitian yang menarik. Dua tim basket yang selama ini menjadi musuh bebuyutan sedang bertanding. Pertandingan berlangsung seru. Mereka saling berbalas memasukkan bola ke jaring lawan. Menjelang akhir suasana semakin ramai. Penonton tak henti-hentinya bersorak dan bertepuk tangan memberikan dukungan.
.
Di tengah suasana ramai itu, seorang pemain badut berpakaian gorila masuk ke arena pertandingan. Ia berlari-lari di pinggir lapangan basket. Baju badut itu berwarna mencolok.
.
Pertandingan basket itu pun selesai. Semua penonton yang keluar dari gelanggang olahraga itu diwawancarai oleh beberapa anggota tim peneliti. Mereka diminta menyebutkan warna baju yang dikenakan oleh badut gorila yang beberapa saat lalu berlari -lari di pinggir lapangan.
.
Hasilnya? Hampir semua penonton tidak mengetahui bahwa ada badut gorila yang berlari di pinggir lapangan basket!
.
Kawan, ada orang-orang yang hampir tidak pernah menemukan keadaan pahit dalam hidupnya. Situasi yang terasa sulit bagi banyak orang tidak pernah terasa bagi dia. Mengapa? Karena pikirannya fokus pada impian-impian besar. Begitu fokusnya dia pada impiannya, sampai-sampai dia tidak “melihat” hal-hal lain. Persis seperti kasus penelitian di atas.
.
Kawan, milikilah impian besar. Teruslah berusaha keras mewujudkannya. Jika itu terjadi, situasi sesulit apa pun tidak akan pernah “terlihat” olehmu, seperti gorila yang tidak terlihat oleh para penonton pertandingan basket.
.
.
*) Awang Surya adalahMotivator Spiritual Indonesia. Lahir di Lamongan, Jawa Timur, 52 tahun lalu. Penulis buku best seller. Ia juga dosen di Sekolah Tinggi Teknik Muhammadiyah, Cileungsi.

Kemuliaan dan Kebebasan

Tulisan ini saya salin dari kanal24.co.id

.

Kemuliaan dan Kebebasan
Oleh : Ahmad Erani Yustika *)
.
Menjelang ulang tahun ke-16, Leland Stanford Jr wafat karena penyakit tipus. Orang tuanya, Leland Stanford dan Jane Stanford, raja kereta api dan Gubernur California, merasakan duka luar biasa. Kepada istrinya, barangkali sebagai penghiburan, Leland Sr bertitah pada hari kematian putranya: “Seluruh anak-anak California akan menjadi anak kita.” Ternyata, ucapan itu terkabulkan. Pada 1 Oktober 1891 berdirilah Universitas Stanford untuk menghormati dan mengenang putra tercinta mereka. Mahasiswa pertama berjumlah hampir 600 dan semuanya tidak dipungut biaya kuliah.
.
Selanjutnya, Universitas Stanford menjadi legenda: sampai kini menjadi kampus apik dunia. Peringkatnya selalu masuk 5 besar terbaik. Calon mahasiswa hebat dari berbagai belahan benua memimpikan bisa kuliah di sana. Perjalanan memang telah mengubah kampus tersebut, salah satunya tentu biaya kuliah yang tidak lagi murah. Ini kampus swasta sehingga tidak memperoleh donasi dari pemerintah. Namun, misi awal dibangunnya universitas ini dibaluri dengan nilai kemuliaan: memberikan kesempatan anak-anak mencecap pendidikan gratis.
.
Sejarah kampus di Indonesia belum selama di AS atau negara maju lainnya, baru seabad untuk kampus tertua (ITB). Di Bandung pada 1920 didirikan “Technische Hooge School” (THS) yang pada masa itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri. THS ini adalah kecambah ITB. Setelah itu muncul kesadaran mendirikan kampus di kota-kota lainnya, dari mulai Jakarta, Bogor, Yogyakarta, dan Malang. Pada 1957 di Malang tokoh masyarakat dan Ketua DPRD menginisiasi berdirinya kampus swasta, yang bernaung di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM), yang hanya terdiri dari Fakultas Hukum dan Ekonomi. Kuliah menumpang di gedung Balai Kota Malang.
.
Sejak itu, beberapa perubahan terjadi. YPTM membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM) pada 1 Juli 1957. Secara resmi PTHPM diakui sebagai milik Kotaparaja Malang dengan keputusan DPRD (19 Juni 1958). Saat Dies Natalis ketiga, PTHPM menggunakan nama Universitas Kotapraja Malang. Selanjutnya, pembiayaan menjadi kendala utama penyelenggaraan kuliah. Pada 11 Juli 1961 dikonversi menjadi kampus negeri dan oleh Presiden Sukarno diberi label: Universitas Brawijaya (UB). Ujungnya, UB dikukuhkan pada 5 Januari 1963 (Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan/PTIP No. 1 Tahun 1963), yang sampai sekarang diperingati sebagai hari lahir.
.
Episode kelahiran dan perkembangan UB tentu jauh lebih kaya dan rumit dari deskripsi tersebut. Tiga pesan dari sejarah UB bisa disarikan dari riwayat itu. Pertama, kampus lahir dari detak rakyat (yang diwakili tokoh masyarakat) sehingga mencerminkan kesatuan denyut nadi warga. Kedua, kampus dimintakan menjadi universitas negeri karena keterbatasan dana sehingga negara (pemerintah) mengambil alih urusan tersebut. Pendidikan ialah salah satu amanah pokok di dalam konstitusi. Ketiga, nama Brawijaya diharapkan sebagai pantulan dari nilai-nilai kepeloporan, keberanian, kesucian, keberpihakan, dan keyakinan.
.
Sekarang UB telah menjadi gurita. Prestasi dosen, mahasiswa, dan jejak alumni menjadi ular cerita. Aneka karya diproduksi dan ilmu pengetahuan dibiakkan. Ranking kampus terus menanjak dan menjadi kampus bereputasi di Indonesia. Setiap tahun animo calon mahasiswa yang ingin masuk ke UB berjubel, bahkan menjadi kampus dengan jumlah pendaftar calon mahasiswa terbanyak di Indonesia. Ketika ajang prestisius lomba riset mahasiswa nasional digelar tiap tahun (Pimnas), UB adalah langganan juara umum. Tak ada kampus lain yang bisa mengungguli. Ini sebagai pengakuan atas proses dan kredibilitas pembelajaran.
.
Sungguh pun begitu, tiga refleksi pokok perlu diajukan. Sebagai kampus negeri, yang dulu latarnya didasari oleh keterbatasan dana, apakah biaya kuliah sekarang makin bisa dijangkau oleh anak bangsa? Gedung jangkung menjulang apakah menjadi tempat yang ramah bagi kaum pinggiran yang hendak mengubah nasib ataukah semata simbol industrialisasi kampus? Sebutan kampus rakyat akan bermakna bila -salah satunya- warga negara bisa mencicipi pengetahuan tanpa dicekam oleh mahalnya ongkos. Ini yang membedakan peran etis kampus milik negara dan swasta.
.
Berikutnya, kampus tegak berdiri sebab berlangsung investasi pengetahuan dan gagasan. Nalar menjadi pedoman. Laboratorium semerbak dengan temuan dan penciptaan. Publikasi akademik dalam aneka rupa wujud wajib silih berganti dicetak. Identitas kaum yang berada di dalamnya diukur dari penguasaan dan kredibilitas pengetahuan, bukan produktivitas komentar kebencian yang diumbar dalam forum tanpa mimbar (akademik) pertanggungjawaban. Hasrat mengembangkan pengetahuan wajib melampaui keasikan mengurus kekuasaan. Semoga mandat ini dihayati dengan bening oleh penghuni Kampus Ketawanggede.
.
Terakhir, semesta bergerak dan berselancar dalam gelombang teknologi informasi. Peradaban ditopang oleh kemajuan teknologi dan ilmu yang disemai oleh penghargaan atas kemajemukan dan toleransi. Pengetahuan melahirkan kehidupan yang unggul. Kemajemukan mendorong tiap orang atau bangsa saling mentransaksikan pengalaman, kearifan, dan kebudayaan. Toleransi menjamin ruang perbedaan tumbuh dan saling memekarkan sehingga kehidupan bersama bisa disangga. Kampus biru harus menjadi tungku berkobarnya api darma tersebut, persis seperti elan masa berdirinya.
.
Sejak peringatan Dies Natalis UB ke-44, 5 Januari 2007, diperkenalkan motto anyar Universitas Brawijaya: “Building up Noble Future” (membangun kemuliaan masa depan). Kemuliaan menyembul bila nilai kerakyatan, keragaman, dan pengetahuan diletupkan dengan tangki kesadaran. Itu semua akan dicapai bila kampus menyemaikan kebebasan. Keyakinan ini pula yang diteguhkan Universitas Stanford via visi (yang dipilih oleh suami-istri Stanford) yang berasal dari percikan pemikiran Ulrich von Hutten: “Die Luft der Freiheit weht” (angin kebebasan yang berhembus). Selamat Dies Natalis ke-58, Universitas Brawijaya!
.
.
*) Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, SE.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Brawijaya 2019-2023.
Dirjen PPMD (Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) dan 2017-2018. Dirjen PKP (Pembangunan Kawasan Perdesaan), Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Staf Khusus Presiden (bidang ekonomi) 2018-2019.

Hama Perjuangan

Judul saya ubah sendiri untuk menambah semangat saya dan bisa jadi sahabat semua. Judul asli adalah “Mengisi Kehidupan” karya KH. Imam Zarkasyi. Beliau adalah satu dari tiga orang Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yang lebih terkenal dengan Trimurti. Beliau wafat pada 30 April 1985 dalam usia 75 tahun. Meski sudah wafat 35 tahun lalu, tapi buah pikir dan karyanya masih membekas. Begini pesan beliau:
.

Yang biasa dan pada umumnya dicari setiap orang adalah kebahagiaan. Kebahagiaan di dunia terbagi dua: kebahagiaan lahir dan kebahagiaan batin. Untuk kebahagiaan lahir perlu kemakmuran atau kebendaan. Wujud kebahagiaan lahir mudah dimengerti, tapi kebahagiaan batin bagi banyak orang msih perlu dijelaskan.

.

Kemakmuran atau kekayaan harta benda, tak mutlak dapat menjamin kebahagiaan yang sesungguhnya. Orang yang tidak merasa aman dan tenteram, seperti selalu dikejar-kejar musuh yang tampak maupun tidak. Atau tak putus dirundung kemalangan karena penyakit fisik, rohani, dan sebagainya, tak akan merasakan kebahagiaan, meski secara lahir ia berada dalam keserbaadaan dan kecukupan.

.

Orangtua yang terganggu oleh perbuatan anak-anaknya yang nakal dan suka membuat malu, juga tak dapat merasakan indahnya kebahagiaan yang hakiki.

.

Hidup di dunia harus diisi dengan beragam kebaikan yang kelak akan menjadi tabungan hasanat (kebaikan-kebaikan) di akhirat. Tapi jika yang menjadi pusat perhatian seseorang dalam mengisi kehidupannya hanya urusan dunia, sungguh kasihan ia tak akan mendapat bagian di akhirat (QS al Baqarah;200).

.

Dalam hidup ini, janganlah hanya memikirkan kenikmatan sesaat hingga melupakan kehidupan di kemudian hari. Kalimat ‘kemudian hari’ dapat dipahami sebagai hari tua atau pula kehidupan setelah meninggal.

.

Jadi, yang harus dicari dan diperjuangkan bukan hanya kenikmataan sesaat di dunia, tapi juga kehidupan yang baik di akhirat, agar kebahagiaan di dua dunia itu dapat diraih.

.

Kepada generasi muda yang ditimang-timang (diharapkan) atau dalam Bahasa Jawa ‘digolo-golo’, kami berpesan agar menjadi pemuda yang dapat diandalkan sebagai pejuang yang memiliki rasa tanggungjawab atas kesejahteraan umat dan kemajuan agama. Bukan kepntingan diri sendiri.

.

Tapi, dalam kehidupan dunia pasti akan ditemui bermacam-macam hama perjuangan. Dapat berupa: harta, tahta, dan wanita. Inilah ibarat wereng-werengnya manusia.

.

Semoga para generasi muda mampu berjuang dengan benar dan tahan melawan wereng-wereng itu, sehingga mampu tampil sebagai penerus perjuangan yang bisa diandalkan.

.

Dalam perjuangan, jangan mencari yang enak-enak saja. Masing-masing mesti selalu mawas diri atau mau menilai diri sendiri, sampai dimana amal dan nilai perjuangannya untuk masyarakat, negara, dan agama? Apakah hidup kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau segelintir  manusia, atau keluarga?

.

Ingat racun kolonial yang sangat berbahaya, berupa kuatnya rasa individualisme. Pertahankanlah jiwa-jiwa sosial kemasyrakatan, kegotong-royongan atau kelektivisme. Jangan biarkan jiwa-jiwa itu menipis, atau malah habis. Jangan pula biarkan bangsa ini terpecah karena bahaya laten individualisme. Seban dengan keterpecahbelahan bangsa, kemajuan dan kesejahteraan pun hanya akan menjadi angan yang tak mungkin menjadi kenyataan.

.

Untuk itu, mari kita hidupkan dan bangkitkan jiwa perjuangan serta pengorbanan, demi meraih kebahagiaan yang hakiki.

Ah… Ternyata

AH…TERNYATA…

Oleh : Satria Hadi Lubis *)

 

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa melafazkan Hermes, Chanel atau Louis Vuitton dengan benar…tapi ternyata apalah artinya saat gak bisa bedain lafadz huruf hijaiyah “da” dan “dza”, “ta” dan “tsa”, juga “sya”, “sho”… apalagi sampai usia segini belum bisa baca Qur’an dengan tartil…

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa naik pesawat melancong keluar negeri lalu foto-foto di berbagai negara….tapi ternyata apalah artinya kalau tidak pernah mengunjungi Baitullah sedang usia terus habis tak bisa dikembalikan…

Dulu dikira yang keren itu kalau anak masih kecil bisa bahasa Inggris dengan fasih… sehari-hari tinggal di Indonesia tapi ngomongnya pakai bahasa Inggris campuran…. tapi ternyata apalah artinya saat ditanya rukun iman, rukun Islam gak bisa menyebutkan dengan benar…gak tau doa sehari-hari, seolah anak gak pernah hidup untuk ibadah…

Dulu dikira yang keren itu kalau suami istri berkarir bersama…sukses dengan penampilan wah… tapi ternyata apalah artinya jika gak bisa menjadi partner untuk akhirat..tidak saling tolong dan menasihati dalam agama… lebih mentingin penampilan dibanding hakikat suami istri yang sesungguhnya…

Dulu dikira yang keren itu kalau rumah bagus.. ala-ala rancangan arsitek terkini ..tapi ternyata apalah artinya jika yang paling dibenci Allah itu adalah kemubaziran…. rumah luas dan mewah padahal tidak fungsional dan jarang dipakai …apalagi jika di dalamnya tidak dijadikan tempat ibadah dan jarang dibacakan ayat-ayat Allah…lagi pula rumah tidak akan pernah dibawa mati…..

Dulu dikira yang keren itu jika punya mobil mewah…Lamborghini, Ferrari, Alphard atau punya koleksi puluhan jam mewah…terus dipamerin di youtube….katanya untuk motivasi …padahal selubung untuk pamer saja….padahal Rasulullah saja malu jika di rumahnya ada uang berlebih lalu buru-buru beliau menginfakkannya….

Dulu dikira yang keren itu kalo weekend jalan-jalan dengan keluarga ke mall atau tempat rekreasi lainnya… tampak harmonis…dan sebar foto kemana-mana …tapi akankah berkumpul kelak di akherat jika suami isteri selalu mengajak anak-anaknya pada kesenangan dan lupa hakekat hidup yang sebenarnya…orang tua bahkan tak tahu jika selama ini anaknya belum bisa berwudhu dengan benar…

Dulu dikira yang keren itu jika sekolahnya tinggi…dengan gelar segambreng…tapi ternyata apalah artinya jika tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah…malah gelar segambreng itu digunakan untuk memanipulasi orang lain dan korupsi…

Dulu yang dikira keren itu kalau jadi pejabat….jadi manajer sebuah perusahaan top…rela mengeluarkan uang milyaran untuk ikut pilkada…tapi ternyata apalah artinya jika jabatan itu digunakan untuk petantang petenteng sambil menzalimi rakyat kecil….padahal Umar bin Khatab ra menangis ketika diangkat menjadi khalifah….seakan dunia mengubur akhiratnya…sampai beliau sulit tidur karena takut rakyatnya ada yang kelaparan…

Dulu dikira yang keren itu… ah banyak lagi…
Namun semua ternyata gak ada artinya jika tidak sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Apalagi jika jelas-jelas bertentangan…

Ah ternyata ……
Dunia ini menipu..
Dunia ini senda gurau belaka..

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Sedang negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (Qs. 6 ayat 32).

Renungkanlah….apa yang telah engkau langgar selama ini…wahai diri…
Dan segeralah menyerah kepada Rabbmu…
Sebelum kau tertipu lebih banyak lagi…

“Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu”

(QS Al An’am :31).

 

*) Satria Hadi Lubis, MM., MBA. adalah alumni Politeknik Keuangan Negara STAN. Beliau juga masih aktif tercatat sebagai salah satu Dosen di PKN STAN. Salah satu kesibukan lainnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U, lembaga yang menitikberatkan pada pengembangan human capital. Beliau juga salah satu penulis produktif buku-buku best seller.

Beda Rasa, Panen Pahala?

Beda Rasa, Panen Pahala?

Oleh : Masturi Istamar Suhadi *)

Masih terngiang gema takbir dan tahmid berkumandang. Meski ada beda rasa. Beda suasana. Namun, yang terpenting adalah rasa syukur kita tetap sama bahkan bertambah. Hari Lebaran, Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah telah tiba. Lebaran arti riyaya bada poso. Hari Raya setelah berpuasa penuh pada bulan penuh berkah. Puasa Ramadhan.

Allah SWT telah menjadikan bulan syawal ini penuh kebahagiaan bagi  hamba-hamba-Nya yang berpuasa. Ini juga penghargaan bagi hamba-hamba-Nya yang sudah sebulan penuh melaksanakan  sholat malam, yaitu sholat tarawih.

(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)[يونس:58]؛
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“ لِلصّائِمِ فَرْحَتانِ يَفْرَحُهُما إذا أفْطَرَ فَرِحَ، وإذا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بصَوْمِهِ”
Orang yang berpuasa akan mendapatkan 2 kebahagian. Yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa, dan kebahagiaan saat bertemu dengan  Tuhannya.

Kegembiraan kita saat ini merupakan bukti keindahan  ajaran Islam. Ajaran yang sarat dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Sahabat, selamat bagi anda, bergembiralah dan berbahagialah yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan  melaksanakan sholat malamnya diiringi dengan berbagai amal Ramadhan.

Bisa jadi masih ada pertanyaan yang menggelayut. Masih ada rasa penasaran.

“Bagaimana kita bisa gembira dan bahagia, sedangkan  berbagai kesulitan dan penderitaan hidup mengelilingi umat  dan masyarakat ini? Mulai dari musibah lokal bahkan mendunia?  Pandemi yang melanda senatero jagad? Masih ada penguasaan wilayah dengan kesewenang-senangan? Belum lagi masih ada pengusiran atas umat Islam di beberapa negeri. Bagaimana umat muslim sebagai minoritas di beberapa negeri menimpa ketidakadilan. Bagaimana kita masih bisa merasa gembira?  Masih layakkah kita berbahagia?

Perkenankan saya mengajak sahabat untuk merenungkannya.

PERTAMA

Seorang  muslim yang beriman kepada Allah swt dengan keimanan yang benar, meyakini sepenuhnya, bahwa  wabah yang sedang terjadi, ujian kesulitan hidup yang merata ini tidak akan sampai kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Allah swt berfirman:

(قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)[التوبة: 51]؛
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Ditegaskan juga oleh Rasulullah SAW tentang akidah dan keyakinan ini. Pun telah dicontohkan oleh Baginda Rasul saat mengajari sepunya Sayyidina Abdullah  Ibnu Abbas yang merupakan anak dari pamannya  yaitu Al Abbas r.a.

Rasulullah SAW bersabda:

“واعلمْ أنَّ ما أصابكَ لم يكن ليُخطِئَكَ وما أخطأكَ لم يكنْ ليصيبكَ“.
Ketahuilah bahwa apa yang menimpa kalian bukan untuk menyalahkan  kalian, dan apa yang salah pada kalian. Bukan untuk menjadi  musibah buat kalian.

KEDUA

Seorang  beriman yang benar, dia akan ridho dengan takdir yang sudah Allah SWT gariskan, sehingga ia bersyukur kala mendapatkan takdir kemudahan, dan bersabar atas takdir yang menyakitkan.
Dan kedua-duanya merupakan  kebaikan bagi seorang hamba.

Sungguh benar sabda Rasulullah SAW :
“عَجِبْتُ لأمرِ المؤمنِ، إنَّ أمرَهُ كُلَّهُ خيرٌ، إن أصابَهُ ما يحبُّ حمدَ اللَّهَ وَكانَ لَهُ خيرٌ، وإن أصابَهُ ما يَكْرَهُ فصبرَ كانَ لَهُ خيرٌ، وليسَ كلُّ أحدٍ أمرُهُ كلُّهُ خيرٌ إلّا المؤمنُ“
“Aku sungguh kagum  dengan urusan orang mukmin.  Sesungguhnya semua urusannya dalam kebaikan. Ketika mendapatkan apa yang ia suka, maka ia bersyukur  kepada Allah. Dan itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa apa yang dia tidak suka, maka ia sabar. Dan itu baik baginya. Tidakl.ah semua orang itu urusannya baik, kecuali bagi seorang mukmin”.

Sehingga seorang muslim  akan bergembira di tempat dan kondisi yang menggembirakan dan bersyukur kepada Pemberi Kegembiraan, yaitu Allah SWT. Tentunya kita harus  sabar  pada saat dan  kondisi ujian. Sehingga ia selalu hidup bahagia saat takdir baik. Hidap dalam kepasrahan penuh keridhoaan saat menjalani takdir sulit.

KETIGA

Pandemi  dengan segala efek kesulitannya walaupun sehebat apapun, pasti akan berakhir dan akan datang  solusi, kemudahan, dan kebahagiaan.  Maka seorang muslim kebahagiaannya tidak akan dirusak oleh wabah, kebahagiaan mereka tidak terhalangi oleh bala.

KEEMPAT

Sesungguhnya kehidupan ini semata-mata tempat ujian, tempat menyeleksi  hamba-hamba Allah SWT. Kadang  Allah SWT menguji hamba-Nya dengan  kemudahan, kadang menguji mereka dengan kesulitan dan  berbagai musibah. Allah swt berfirman:

(وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ)[الأنبياء: 35]؛
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya  di dunia lengkap dengan perintah dan larangan. Allah SWT juga menguji dengan berbagai kemudahan dan berbagai kesulitan. Ujian berupa kekayaan dan kemiskinan. Cobaan berupa kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian.  Semua ujian tadi dalam rangka untuk menyeleksi siapa yang terbaik dari hamba-hamba-Nya.  Laykanya ujian kenaikan kelas. Ada yang  selamat dari berbagai ujian tersebut ada yang  terjatuh dalam ujian ini.

Barangsiapa yang meyakini, bahwa  inilah kondisi kehidupan dunia, ia akan hidup saat  datang kemudahan dalam naungan kegembiraan dan kesyukuran, dan saat-saat kesulitan ia hidup dalam kesabaran dan keridhoan. Kedua-dua kondisi tersebut mendatangkan  limpahan pahala yang sangat banyak dari Allah SWT.

Karena itu, janganlah anda bersedih kala anda dalam kesulitan, jangan putus asa, kala kesulitan dan kesedihan berkepanjangan. Jangan anda putus harapan kala wabah Covid19 ini tidak tentu kapan akhirnya.  Allah SWT menginginkan kita bersabar lebih panjang sehingga mendapatkan pahala  tidak terbatas yang lebih banyak.

KELIMA

Yakinlah sahabat,  yakinlah Allah SWT Tuhan Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi dan seluruh isinya sudah menentukan kepastiannya.  Bisa jadi tidak menentu bagi kita, namun bagi Sang Khalik sudah  ada ketentuan pastinya, kapan wabah corona ini selesai,  jam berapa, hari apa, bulan apa, tahun apa.  Bahkan  menit ke berapa, detik keberapa.

Mari kita lakukan apa yang bisa dari berbagai sarana dan prasarana syar’i  untuk menjadi sehat  sesuai dengan anjuran kesehatan. Selebihnya, serahkan kepada Allah SWT Yang Maha Pemberi Kesehatan dan Maha Pemurah.

Sahabat, semoga 5 renungan itu memberi harapan kita untuk bisa panen pahala. Perkenankan juga saya mengingatkan pada kesempatan ini untuk melanjutkan kesyukuran kepada Allah SWT. Mari melengkapi  berbagai kenikmatan Allah SWT dengan takbir, membesarkan asma Allah SWT, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

 

(وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)[البقرة: 185].
“ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. “
Teruslah berbaik sangka kepada Allah swt dengan  terus melakukan perbuatan baik dengan penghambaan kepada Allah swt. Karena Allah swt sesuai dengan persangkaan hamba-hamba-Nya. Dalam Hadis Qudsy Allah swt berfirman:
” أنا عندَ ظنِّ عبدي بي فلْيظُنَّ بي ما شاء“.
“ Aku tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”

Juga mengingatkan untuk  melaksanakan puasa 6 hari di bulan  Syawwal ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Abdullah Ibnu Umar r.a.  Rasulullah saw bersabda:
“مَن صام رمَضانَ وأتبَعه سِتًّا مِن شوّالٍ خرَج مِن ذُنوبِه كيومَ ولَدَتْه أُمُّه“.
Barangsiapa  yang berpuasa Ramadhan, dan diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, maka ia akan keluar dari dosanya seperti saat dilahirkan ibunya.

Jangan lupa juga untuk terus menyambung silaturahim walau dalam kondisi Covid 19 ini dengan sarana yang memungkinkan dengan tehnologi yang ada, seperti  telphon, video conference, video call dan lain sebagainya.  Untuk menjaga agar tetap dekat di hari, walau jarak  menjauhkan kita dan kondisi tidak memungkinkan bertemu muka, berpeluk mesra.

Mau panen pahala?

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini,  kita tidak tahu kapan berakhirnya. Mari tetap memohon perlindungan kepada Allah SWT. Sekaligus bertaubat, berdoa, beristighfar, melakukan berbagai amal sholeh, karena  amal sholeh akan menjaga kita dari berbagai  hal yang jelek.

Kita juga tetap disiplin dengan anjuran-anjuran kesehatan dan melaksanakannya dengan baik, dan kita jadikan sebagai ibadah kita  kepada Allah SWT di masa wabah.
Bagaimana menjadikan hal-hal di atas menjadi ibadah? Semua itu akan menjadi ibadah bila kita melaksanakannya dengan :
1. Niat, minimal niat dengan membaca bismillah.
2.Ikhlas, semua kita lakukan karena Allah SWT, mengharap ridho-Nya bukan karena ikut-ikuta, apalagi  iseng.
3. Tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tetap lakukan social distancing, jaga jarak, hindari  keramian dan  kumpul-kumpul  dengan orang yang banyak, hindari bersalaman. Sebesar apa pun kesulitan itu akan berlalu dan setelahnya adalah jalan keluar, solusi, kebahagiaan, kegembiraan. Kegembiraan orang yang beriman tidak akan  rusak karena wabah,  dan kebahagiaannya  tidak terhalang oleh ujian kesulitan.

Semoga Allah SWT melindungi dan memberi karunia keselamatan di dunia dan akhirat.

Selamat Idul Fitri 1441 H. Minal ‘aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Taqabbalallaahu minna wa minkum.

 

*)Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Salah satu lembaga yang melayani masyarakat utamanya dalam ketanggapdaruratan bencana alam. Beliau adalah alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Menyelesaikan studi S1 di Al Azhar University, Cairo, Mesir dan menamatkan program master dalam bidang hadits di International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Selain itu, Kyai Masturi adalah pengurus wilayah Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci. Masih aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan juga nara sumber di masjid dan majelis taklim.

 

Nggak Sholat Ied? Nggak Afdol?

Nggak Sholat Ied? Nggak Afdol?
Oleh: Masturi  Istamar Suhadi *)

Ada momen yang ditunggu selain adzan Maghrib, saat menjelang akhir Ramadhan? Apa itu? Hasil Sidang Isbat. Ya, tidak dapat dipungkiri, keputusan itu ditunggu jutaan umat Islam di Indonesia. Malam nya takbiran atau masih sholat tarawih?

Hasil sidang Isbat Kementerian Agama sudah turun. 1 Syawal ditetapkan bertetapan dengan Ahad, 24 Mei 2020. Kali ini ada rasa yang beda? Lho, kenapa beda? Ini yang menarik. Kita harus ingat, saat ini masih masa pendemi Covid19. Belum lagi, sudah sepekan ini, bersliweran di media, termasuk media sosial. Bagaimana menjalankan sholat Ied? Nggak lengkap nih, kalau puasa Ramadhan terus nggak Slolat Ied. Nggak afdol deh. Dan masih banyak lagi.

Saya pun mendapat banyak pertanyaan melalui WA, maupun telepon. Beberapa diantaranya seperti ini:

“Ustadz, jadi Imam dan Khotib Sholat Ied di daerah mana? Saya mau ikut sekalian silaturahim”

“Pak Dosen, saya diajak tetangga sholat Ied di gang kluster rumah kami. Lumayan ada 10 rumah. Kalau dihitung, ada 40 orang. Mohon petunjuk, apa boleh? Kalau boleh, apa tata caranya sama?”

“Pak Kyai, itu di WAGroup saya, kok katanya bisa sholat Ied di rumah masing-masing. Lha, saya gimana? Di rumah kan cuma ada suami, saya, anak perempuan dan Ibu saya. Saya bingung. Bagaimana caranya Sholat Ied di rumah?”

Sahabat, sobat muslim, muslimin/muslimat yang berbahagia. Perkenankan saya menjawab dengan syariat yang saya pahami dan sering saya utarakan pada kesempatan yang lalu. Jawaban ini saya broadcast setiap ada pertanyaan langsung wapri maupun lewat WAGroup.

“Mohon maaf Bapak/Ibu, di rumah saya tidak ada sholat Ied. Kami in sya Allah mengadakan sholat dhuha, setelah usai saya memberi kultum untuk keluarga saya. Dilanjutkan makan ketupat plus sayur lodeh menu favorit keluarga”.

Sahabat, afdol itu rasa. Lagi-lagi soal perasaan. Syariat lebih utama. Kondisi saat ini, kita harus tetap menjaga jarak. social distancing. Menjaga diri jauh lebih baik. Menjaga diri dan keluarga, berarti menjaga Indonesia.

Dan ini pesan saya, mari jangan dibikin ribet sesuatu yang sederhana.

Wallaahu a’lam.

Perkenankan dalam kesempatan ini, saya mengucapkan:

Taqabbalallaahu minna wa minkum.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Langit biru menentramkan batin,
Menambah rasa rindu di hati,
Mohon dimaafkan lahir batin,
Jauh di mata, tetap dekat di hati.

.

.

*)Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Salah satu lembaga yang melayani masyarakat utamanya dalam ketanggapdaruratan bencana alam. Beliau adalah alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Menyelesaikan studi S1 di Al Azhar University, Cairo, Mesir dan menamatkan program master dalam bidang hadits di International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Selain itu, Kyai Masturi adalah pengurus wilayah Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci. Masih aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan juga nara sumber di masjid dan majelis taklim.