Bahan Bakar Khusus

Komentar praktisi, akademisi, dan professional tentang sebuah karya pustaka ibarat Bahan Bakar Khusus bagi penulisnya.  BBK biasanya punya nilai oktan lebih tinggi. Menambah kinerja lebih baik. Daya dorong lebih besar.  Itu juga berlaku untuk saya.

Terima kasih.

Pre-order akan dillakukan dalam bulan Agustus 2018. Insya Allah, buku edisi cetak akan hadir di tangan pembaca pada bulan Oktober 2018.

Semoga menjadi amal sholeh kita.

Perkenankan saya menuliskan kembali beberapa testimoni yang telah masuk.

“Baca buku ini, saya jadi tambah semangat. Isinya sejalan dengan wejangan guru dan motivator spiritual bisnis dalam kesempatan yang lain. Untuk bisa menghadapi dan bersaing, tidak bisa lagi dengan cara keumuman. Menilik kembali bagaimana cara Rasulullah SAW dan para sahabatnya membangun bisnis. Salah satunya dibahas di buku ini, harus punya : integritas dan kemauan berbagi.”

Unang Supriadi, Vice President – Area Banten, Global Professional Entrepreneur (GENPRO).

 

“Buku ini terbit tepat pada waktunya. Semua anak bangsa harus membaca buku ini agar negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang menjadi impian bersama segera terwujud.”

Awang Surya, Motivator Spiritual Indonesia.

 

“Buku ini renyah dan gurih untuk dikonsumsi, kombinasi pengalaman praktisi, teori dan pendekatan agama membuat buku ini tidak membosankan. Buku ini dapat menjadi salah satu referensi ditengah kondisi disruptive khususnya dalam hal pengelolaan Sumber Daya Manusia.”

Muhammad Fahmi El Mubarrak, Vice President of Human Capital, PT. Elnusa, Tbk.

 

Mau Jadi Solusi ?

“Mas, aku pusing. Proyek yang kami tangani berantakan. Aku mencium aroma tak sedap. Banyak yang main. Belum lagi hasil kerjanya, tewur (baca : ruwet)”

Dialog di ujung telpon salah seorang sobat itu menyiratkan banyak hal. “Main”, satu kata yang lebih condong berarti negatif. Sesuatu yang tidak sesuai kepatutan. Bisa jadi juga karena sumber daya yang tidak mumpuni.

Ketika program dijalankan, namun masalah manusia sebagai motor penggerak belum tuntas, bukan tidak mungkin, hasilnya berantakan. Bisa juga berhasil, namun tidak optimal. Sebenarnya, masih bisa mencapai output yang jauh lebih tinggi.

Menyiapkan sumber daya insani memang bukan perkara mudah. Tapi sejarah membuktikan, bahwa nenek moyang kita pernah melakukannya. Hasilnya pun diakui dunia internasional.

Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan organisasi/perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, kapan saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi, segera berkontribusi, dan menjadi solusi.

Bagaimana menjadi manusia pilih tanding ? Mau jadi solusi ?

Ada 5 modal kunci yang harus dimiliki.

Apa saja itu ?

Saya sangat menyarankan sahabat menyimak lebih jauh dengan mengunjungi laman :

http://www.bookoo.co.id>

Cari daftar buku. Temukan sampul dengan judul : KEY.

“KEY”

(Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan)

Pustaka yang ditawarkan untuk memberikan pembekalan kepada para sahabat mempersiapkan diri dan juga tim yang membersamai.

Itu baru 1 dari 55 solusi yang disuguhkan para trainer yang ahli di bidangnya. Sahabat juga bisa menjelajahi satu per satu karya Kami.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, mencatat sebagai amal sholeh atas upaya Kami memberikan sumbangsih untuk Indonesia.

Salah satu cara kami memaknai  Hari Ulang Tahun ke-73, Proklamasi Kemerdekaan negeri yang kita cintai ini.

Catatan :

Saya sarankan melakukan pre-order dengan klik :

http://bookoo.co.id/ari-wijaya-key/

Terima kasih atas perkenan dan perhatian, sahabat.

Selamat menikmati.

Punya Prinsip, Separuh Sukses

Punya Prinsip, Separuh Sukses

 

Masih ingatkah Anda dengan kisah ini?

Di tepian sebuah sungai di wilayah Provinsi Sumatra Barat, tinggallah seorang guru agama. Pak Lebai namanya. Suatu hari, Pak Lebai mendapat undangan pesta dari dua orang kaya di kampungnya. Sayangnya, pesta itu berlangsung di waktu yang sama, dan tempatnya saling berjauhan. Yang satu berada di hulu sungai, sedang yang kedua berada di hilir sungai. Tuan rumah di hulu sungai akan memberinya dua kepala kerbau, tapi masakannya tidak enak. Sedangkan tuan rumah di hilir sungai dikenal punya masakan yang enak, tapi ia hanya akan memberi satu kepala kerbau. Pak Lebai bingung dibuatnya.

Dengan hati diliputi kebingungan Pak Lebai berangkat mendayung perahu menuju hulu. Sepanjang perjalanan di sungai ia terus menimbang-nimbang. Tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera memutar arah perahunya menuju hilir. Ia kembali mendayung. Ketika semakin dekat dengan lokasi di hilir Pak Lebai berjumpa dengan beberapa orang baru pulang dari tempat pesta di hilir.

“Kerbau yang dipotong di hilir, kecil, Pak Lebai!” teriak beberapa orang.

Mendengar hal itu Pak Lebai berubah pikiran. Ia berbalik arah lagi menuju ke hulu. Namun, sesampai di hulu ternyata pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Lekas-lekas Pak Lebai memutar haluan. Ia mengayuh cepat-cepat menuju hilir. Tetapi kejadian serupa terjadi. Suasana sepi saat Pak Lebai sampai. Pesta sudah usai.

Pak Lebai lemas.

Pembaca budiman, sudah pasti kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Tetapi setidaknya kisah itu memberikan pelajaran penting bahwa hidup tanpa prinsip itu seperti perjalanan tanpa tujuan  yang pasti. Seseorang yang berjalan tidak punya tujuan akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh orang lain. Dan pada akhirnya ia akan menyesal di kemudian hari.

Tetapi apakah dengan memiliki prinsip seseorang pasti akan berhasil meraih kesuksesan? Belum tentu. Tergantung apakah prinsip yang dipegangnya itu benar atau salah. Mari kita buktikan.

Ada beberapa orang yang menganut prinsip seperti berikut ini: hidup itu seperti air mengalir. Ikuti saja, nanti toh akan sampai tujuan juga. Benarkah prinsip ini?

Mari kita cermati dengan seksama.

Apakah setiap aliran air akan berujung ke laut?

Tidak! Ada juga yang ke septictank. Saat kita buang air kecil misalnya, coba cek kemana larinya air buangan itu? Ke laut? Lebih sering tidak!  Ia mengikuti air mengalir bilasan, muaranya hanya sampai kolam penampungan. Tidak sampai ke laut lepas. Artinya, perlu diperhatikan betul prinsip yang kita yakini. Mengapa?

Karena sesuatu yang kita yakini bisa menentukan jalan pikiran dan pijakan tindakan kita.

Mau tahu lebih jauh ?
Mau juga bertemu dengan pemateri dan materi lain ?

Yuk.. Gabung ke :

http://bookoo.co.id/

 

 

 

 

Tenaga Kerja Asing

Tenaga Kerja Asing

Saya pernah mendapatkan kesempatan mengisi jabatan yang boleh dikatakan prestisius. Kesempatan yang dibuka sama kepada seluruh karyawan di negara mana pun perusahaan beroperasi. Ini memang perusahaan consumer goods dengan merek ternama. Saya ketika itu adalah utusan dari manufacturing alias manajemen operasi. Tawaran yang sangat menarik. Jika lolos seleksi akan mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Negeri Paman Sam selama 18 bulan. Pelatihan di kantor pusat perusahaan tempat saya berkarya. Saya pun mengikuti tahap penyaringan hingga seleksi tahap akhir. Wakil Asia Tenggara tinggal 1 lagi. Ketika itu pabrik di Kawasan Asia bagian Tenggara yang masih berjalan normal tinggal Indonesia. Lainnya tidak beroperasi karena strategi perusahaan.

Apa daya, ternyata 2 posisi lowong jatah Asia Pasifik, dua-duanya diisi oleh kandidat dari negeri Tirai Bambu. Proses sebelumnya, 1 tempat diisi dari Asia Tenggara. Suka tidak suka, dalam hal ini saya kalah bersaing. Apa pun alasannya. Nyeseklah pokoknya.

Tapi hikmahnya, saya menemukan bidang yang secara spesifik saya perdalam dan tekuni hingga kini.

Karir saya terpaksa berakhir, ketika perusahaan itu dinyatakan ditutup. Seluruh operasional manufakturnya di pindah ke Shanghai, RRC. Mesin yang masih terbilang berteknologi baru di kirim ke pabrik lain di Mexico. Sedangkan sisanya, dihancurkan. Dipotong jadi beberapa bagian kecil agar tidak ditiru orang. Menghindari product counterfeit. Mitigasi risiko atas upaya pemalsuan produk. Tak mengherankan, banyak pekerja yang menangis sembari memotong mesin-mesin itu. Dapat dimengerti, mereka ada yang telah membersamai mesin selama 28 tahun.

Fenomena tenaga asing lebih unggul, juga terlihat ketika saya bergabung dengan perusahaan bahan material. Saya beberapa kali ke kantor manajemen yang berada di bilangan Damansara, Kuala Lumpur. Ada rapat-rapat koordinasi yang mendadak maupun yang terjadwal. Masa itu saya sebagai pemangku jabatan bagian pengadaan di Indonesia punya atasan yang bermarkas di KL. Perusahaan ini tempat para professional lintas negara bergabung. Memang selayaknya perusahaan multi nasional.

Sebagai gambaran, di kantor manajemen yang satu lantai dengan saya itu, hanya ada 2 orang asli Melayu. Dominan adalah India, Chinese, beberapa dari Eropa. Saya bukan bicara masalah SARA. Mohon maaf, jangan sampai salah paham.

Saya salut sama mereka. Kemampuan sebagai manusia berkelas dunia, ada pada diri mereka. Penguasaan bahasa asingnya, utamanya Bahasa Inggris, bisa dibilang excellence. Layaknya mother tounge. Bahasa Ibu. Sedikit dari mereka juga menguasai Bahasa Perancis. Penguasaan teknologinya juga jempolan. Saya tidak melihat mereka gagap teknologi. Setidaknya itu saya lihat saat saya berinteraksi di ruangan kerja maupun di tempat rapat. Teleconference seperti ‘sego jangan’. Biasa dan rutin. Presentasi? Materi dan caranya ciamik. Content dan context-nya padu padan, lengkap. Di perusahaan itu saya merasa seperti orang lama. Saya tidak canggung. Mereka banyak membantu. Mereka menyambut dengan baik kedatangan saya, meski biasanya hanya kenal via surat elektronik. Mereka juga sering mengingatkan waktu sholat. Ini semua membuat saya lebih cepat berbaur, walau saya hanya berada di kantor itu paling lama 3 hari.

Saya kadang merenung. Manggut-manggut menyetujui gejala itu. Kualifikasi sekelas itulah yang membuat mereka bisa melanglang buana.

Lain lagi, saat saya berkesempatan berkunjung dan berdiskusi di Bangalore, India. Saya masuk ke pusat penelitian dan pengembangan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alfa Edison. Saya bertemu dengan tim yang berisi para peneliti dan praktisi, kebanyakan bergelar Doktor. Kebetulan juga di kota itu ada kawah candradimuka calon doktor yang terkenal di Asia dan bisa jadi dunia. Indian Institute of Science. Sejak berdiri tahun 1909, sekolah itu telah menelorkan 3 ribu lebih Master dan Doktor dari berbagai disiplin ilmu eksakta.

Saya pun mulai menelisik, bagaimana bersemangatnya anak muda di sana mengambil studi lanjut. Beberapa teman di Gedung Riset itu saya ajak mengobrol. Mereka kebanyakan bukan anak orang berada. Apalagi ada sistem kasta di India.

Mereka rela menyisihkan uang saku untuk belajar Bahasa Inggris. Dari situlah, mereka bisa membaca literatur berbahasa Inggris. Mereka mengambil juga kesempatan mendapatkan bea siswa belajar ke luar negeri.

Jika mengamati sepak terjang kualitas sumber daya negeri di Asia Selatan ini, patut kita acungi jempol. Mereka kebanyakan menggeluti bidang system informasi dan/atau teknologi informasi. Beberapa nama mereka tercatat sebagai pimpinan puncak perusahaan multi nasional. Bisa dikatakan berkelas dunia. Saya yakin sahabat bisa menyebutkan beberapa nama yang sangat populer.

Bagaimana dengan kita ?

Mari berbenah.

Jack Welch, ‘Manager Abad Ini’, pernah memberi petuah :

“Control your own destiny or someone else will”.

Road to Glory

Road To Glory

Banyak sumber yang menjadi masukan dan pelajaran. Tak jarang berasal dari orang yang saya kenal dekat. Awal perkenalan terjadi saat ia menjadi mentor saya di kampus. Saat saya mahasiswa baru. Ia salah satu pembina program mentoring agama Islam, salah satu kegiatan unggulan bagi mahasiwa baru. Ia juga senior pada beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Setelah lulus, Mas Ali, begitu saya memanggilnya, direkrut oleh Pertamina. Salah satu tempat bekerja paling diidamkan bagi kami lulusan dari kampus di kota kecil, Malang.

Ia pernah mengenyam studi lanjut di Selandia Baru. Karirnya cukup melaju pesat. Pada usia baru menginjak 40 tahun telah menduduki jabatan selevel Vice President. Ia pernah menjadi orang yang paling ditunggu kehadiran dan pernyataannya oleh awak media. Maklumlah, Arek Lamongan ini pernah menjadi juru bicara Pertamina. Saat ini, aktivis kampus itu menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pendekar Tapak Suci ini menunjukkan minat yang sangat besar di bidang geothermal. Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah energi baru dan terbarukan. Negeri kita dikaruniai banyak gunung berapi. Itu berarti potensi besar. Panas buminya bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik.

Ia memberikan wejangan bagaimana menjadi pemenang. Menjadi karyawan yang jadi pilihan utama. Siapa pun yang membutuhkan tenaga dan buah pikir kita.

Ia menyebutnya dengan: KIAT.

Kiat yang berarti cara atau taktik, tapi kali ini adalah singkatan yang bisa dijadikan modal yang lain.

  1. Knowledge. Pengetahuan itu penting. Kita harus memiliki pengetahuan yang spesifik dimiliki dan menjadi andalan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari beberapa jalur. Paling umum adalah jalur akademis. Menempuh pendidikan hingga jenjang yang dianggap mumpuni. Di samping itu, pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, kita perlu sering dan menjadwalkan diri secara khusus mendengarkan atau menimba ilmu dari pihak lain.
  2. Integrity. Memegang kuat prinsip moralitas. Ini Penting. Pengetahuan yang cukup tanpa dibarengi dengan prinsip moral yang kuat (nilai agama) akan percuma. Pemahaman terhadap agama yang kita yakini juga akan memperkuat hal ini.
  3. Attitude. Bisa diartikan sikap kita kepada orang lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga memegang peranan penting. Sebagai mahluk sosial, tidak dipungkiri selalu ada hubunagn antar manusia. Baik hubungan yang bertalian dengan karir, maupun non-karirseperti pergaulan dengan masyarakat.
  4. Teman (Teamwork). Membangun jejaring. Silaturahim. Analoginya, kumpulan orang yang tidak berkualitas bisa jauh lebih hebat dari orang jenius yang terisolasi. Apalagi jika orang hebat berkumpul dan bekerja sama, hasilnya bisa jauh lebih mantap. Tambah dahsyat.

Pak Direktur Utama ini punya visi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, ia sangat terkesan dengan nasihat orang tuanya. Orang tua adalah pusaka baginya. Mereka memberi nasihat dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan bebas:

“Menjalani kehidupan, apa pun profesinya. Harus ikhlas dan bersikap positif”.

Itulah salah satu kiat mempermulus jalan menuju kemenangan. Road to glory.

Apa yang disampaikan dan dijalankan Mas Ali ini sejalan dengan nasihat mendiang Zig Ziglar, penulis buku best seller sekaligus motivator asal Alabama, US.

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude”

Mau ?

Mari kita jalankan KIAT itu . . .

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Di dalam kehidupan ini persaingan adalah keniscayaan. Masih ingatkah kita dengan kisah dua anak Adam yang bersaing menjadi yang terbaik? Tragis memang akhir kisah itu. Salah seorang dari mereka akhirnya terbunuh. Tetapi kisah itu membuka mata kita bahwa persaingan sudah ada semenjak kehidupan ini bermula. Dan ujung dari persaingan itu adalah meninggalnya salah seorang dari dua anak Adam.

Charles Darwin sang penemu teori evolusi juga telah mengemukakan bahwa selalu ada persaingan di dalam kehidupan di alam semesta ini. Hal ini karena setiap makhluk ingin mempertahankan kehidupannya. Dan hanya spesies yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkunganlah yang akan bertahan. Yang kalah bersaing dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan akan lenyap dari bumi.

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”.

(Charles Darwin)

Persaingan akan selalu ada di setiap sektor kehidupan. Dalam dunia bisnis? Apalagi! Pertarungan untuk menjadi yang terbaik dalam bisnis layaknya masakan dengan garam. Tanpa kehadirannya, terasa hambar. Bahkan perusahaan yang tanpa pesaing akan kehilangan gairah, loyo. Dan akhirnya pelan-pelan akan hilang dari peredaran.

Setiap pemilik perusahaan atau tim leader, akan selalu berusaha agar timnya menjadi jawara. Untuk itu berbagai upaya dilakukan. Bisa market share yang bertambah. Ada juga dengan penetrasi pasar, agar seluruhpelosok negeri mengenal produknya. Dan ada juga yang menggunakan cara perbaikan produk. Perusahaan membuat produk yang unik dalam jumlah terbatas. Sedikit tapi tetap dicari. Limited edition. Upaya-upaya itu semua dilakukan agar mereka memenangkan “pertempuran” atau sekurang-kurangnya tetap bertahan.

Siapa yang kalah, produknya tidak laku. Penjualan tak beranjak naik. Atau malah cenderung turun. Tanda-tanda kematian sudah tampak. Jika tidak ada perubahan yang significant, sudah dapat dipastikan perusahaan akhirnya gulung tikar. Mati.

Dampaknya kekalahan sebuah perusahaan pasti cukup dahsyat. Pemutusan hubungan kerja tidak dapat dielakkan. Daftar pengangguran bisa bertambah panjang. Pasti akan timbul masalah baru. Baik masalah dalam ruang lingkup yang kecil, keluarga. Bisa juga dalam skala yang lebih besar. Ekonomi di dalam masyarakat sedikit terguncang. Jumlah belanja akan menurun. Ada penghematan baik dari frekuensi maupun nominal belanja. Suka tidak suka. Stok bisa menumpuk. Produsen juga mengerem produksinya. Jika berlangsung lama, maka banyak idle capacity. Kalau sudah begitu, pengurangan produksi. Pengurangan karyawan. Jadi, kalah dalam bersaing menciptakan pengangguran yang bisa menjadi beban ekonomi baru.

Setiap perusahaan akan selalu melakukan berbagai upaya. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia, motor penggerak utama perusahaan. Apalagi dalam ruang lingkup Manajemen Rantai Pasokan. Supply Chain Management. Proses bisnis yang kompleks, di samping mengurusi dengan internal pelanggan dan pemasok. Di dalamnya juga sangat intens berhubungan dengan pihak eksternal, baik dengan pelanggan dan dengan pemasok/vendor.

Uniknya, pola persaingan mulai bergeser, sesuai zamannya. Tidak lagi yang besar mencaplok yang kecil. Atau yang kuat mengalahkan yang lemah. Salah seorang Raja Media, Robert Murdoch, mengatakan:

“The world is changing very fast. Big will not beat small anymore. It will be the fast beating the slow”.

Benar juga. Dulu memang sering kita lihat perusahaan besar mencaplok perusahaan yang lebih kecil. Baik untuk memperbesar pangsa pasar atau strategi mematikan mereknya. Sebagai contoh kasus, ada perusahaan kecap dengan merek yang dikenal secara lokal (area cakupannya hanya se provinsi), dibeli salah satu raksasa bisnis di bidang consumer goods. Lama-lama merek pun tak nampak di pasar. Ia sengaja dibeli untuk dimatikan mereknya. Merek pembeli sebagai penggantinya. Ada yang namanya tetap, namun strategi bisnis dan lainnya diubah total. Ia tetap berkibar namanya meski pemilik telah berganti.

Akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan mapan tak lagi bisa lagi hidup tenang. Pesaing bisa berupa perusahaan yang baru lahir. Contoh kasusnya adalah sebuah perusahaan tranportasi konvensional berhadapan dengan perusahaan tranportasi berbasis teknologi informasi. Perusahaan besar dan mapan itu cenderung lambat merespon perubahan yang terjadi. Tak terelakkan, pengemudinya pun berdemo. Tak jarang terjadi konflik di lapangan. Pemicunya, tak lain tak bukan, karena tidak siap dengan persaingan. Kalah cepat mengaplikasikan teknologi. Kurang sigap melihat kebutuhan dan kecenderungan konsumen. Ini bumbu tak sedap lainnya. Intinya, yang cepat mengalahkan yang lambat.

Contoh lain, perusahaan catering, juga mulai bergeser polanya. Dominasi tidak lagi oleh perusahaan dengan asset besar. Saat ini, ada perusahaan yang tidak memiliki dapur sendiri sudah mulai menggerogoti pangsa catering besar. Perusahaan ini bermodalkan teknologi informasi dan prinsip ekonomi berbagi. Ia menggunakan dapur para jago masak di berbagai rumah tangga. Sang CEO perusahaan itu jeli. Ia tahu banyak ibu-ibu yang jago masak. Sebagian juga senang jika masakannya dijual dan dimintai. Ia memberikan standarisasi masakan. Ia memberi packaging yang menarik. Ia pooling produk itu sesuai pesanan pelanggan. Produk diantar dan siap saji. Punya usaha catering, tak harus punya dapur kan ?

So, pemenang persaingan punya syarat tambahan. Ia harus cepat dalam segala hal. Adaptasi, penguasaan teknologi, cepat menangkap perubahan pelanggan, dan lainnya. Itu semua juga perlu dukungan sumber daya manusia yang handal. SDM yang mendukung kecepatan. Ya, sumber daya manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

 

Tersadar?
Tertantang?

Sahabat, saya ajak menyimak buah pikir lain dan lebih dalam, pada buku yang akan segera terbit.

Mohon doanya.

Wassalaam,

#this.is.ariway

 

Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam,  ada beberapa pesan masuk. Salah satunya, ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Sakit tapi menyadarkan. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu. Siapa tahu ada sahabat yang punya kondisi yang serupa dengan saya.

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Bersandarlah pada Illahi Robbi. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

Insya Allah, doa sahabat bapak dan ibumu juga akan menambah kekuatanmu.

 

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pada kesempatan lain, saya sempat mengajak diskusi Sigit Afrianto. Ia mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.  Saat ini ia seorang Pneumatics Engineering Specialist di Bombardier Aerospace, Canada.

Mas Sigit, begitu saya memanggilnya, pernah berkarya di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Ia salah satu anak bangsa yang unggul justru berkarya di luar negeri, karena di Indonesia tidak mendapat kesempatan sepadan dengan keahliannya. Hal itu terjadi, saat IPTN, boleh dikatakan, sengaja dikerdilkan. Ketika pembiayaan proyek yang membanggakan sekaligus menggetarkan dunia penerbangan tersebut dihentikan atas desakan IMF. Mas Sigit, saat ini berkarya di Bombardier, Canada.  Ia memiliki beberapa hak paten di bidang penerbangan.

“Pengalaman saya, sebagai tenaga profesional, kita perlu memiliki kompetensi atau keahlian dalam hal tertentu. Seorang specialist yang kompeten tidak akan bisa digantikan oleh ratusan orang yang tidak kompeten. Kita bisa memberikan solusi atau mengatasi masalah yang sebelumnya selalu dianggap sebagai suatu masalah besar oleh orang yang tidak kompeten. Hasil karyanya diakui oleh sejawat profesional lainnya. Dampak positifnya, perusahaan besar tidak akan segan untuk mentransfer (baca: memperkerjakan) dia dengan ‘harga’ yang besar untuk bisa memanfaatkan kompetensinya,” tutur Mas Sigit.

Shakuntala Devi, “Manusia Komputer” dari India pernah mengatakan :

“I cannot transfer my abilities to anyone, but I can think of quicker ways with which to help people develop numerical aptitude”.

Ia menguatkan pernyataannya dengan memberi contoh pada klub sepak bola profesional. Ketika ingin menjadi kampiun, selain meracik tim, memanfaatkan talenta yang ada, mereka juga membeli pemain baru. Biasanya pemain bintang. Pemain yang punya talenta di atas rata-rata. Marquee player yang bisa membangkitkan semangat pemain yang lain. Juga menjadi magnet pendukung. Pendukung adalah pemain ke-12. Termasuk juga mandatangkan keuangan bagi klub. Membludaknya penonton dan penjualan merchandise adalah other income. Darah bagi kelangsungan hidup klub sepakbola. Untuk itu, pemilik klub rela mengocek kantong sangat dalam.

Saya mencoba membuka mesin pencari Google untuk mencari informasi siapa pemain termahal saat ini. Ada nama yang disebut, Phillip Coutinho yang dibeli Barcelona dari Liverpool. Nilai transfernya Rp. 2,6 Triliun. Dahsyat. Angka yang lebih besar dari APBD Kota Malang tahun 2018.

Menurut Mas Sigit, selain kompetensi perlu kemampuan bekerja sama apalagi saat bekerja dalam satu tim. Kesuksesan akan lebih mudah diraih ketika berbagai kompetensi yang dimiliki karyawan bisa disinergikan. Mereka saling melengkapi dan mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.

Ada tambahan yang tidak boleh dilupakan, bahwa kita perlu berpikiran positif dan terbuka. Terbuka utamanya sikap untuk menerima sesuatu yang baru. Ia memberikan kondisi saat ini, bahwa teknologi berkembang sangat pesat disebabkan inovasi dari orang yang mampu menemukan sesuatu yang baru. Lain daripada yang lain.

Di akhir kiriman WAnya, ia memberikan contoh nyata.

“Perusahaan tempat saya bekerja bersedia mengeluarkan biaya yang besar untuk mentransfer dan merelokasi expert dibidang aerospace,” pungkasnya.

Tertarik ?

Mari mengikuti  kisah lainnya. Tentu saja, saya berharap, sahabat berkenan menunggu buku yang akan terbit pada bulan Agustus 2018 ini.

Mohon doanya, semoga sajian cerita pengalaman dan juga buah pikir yang dituangkan menjadi salah satu sumber inspirasi.

Mimpi dan Mencoba

Mimpi dan Mencoba

“Wah, apa ya…. sepertinya mengalir aja tuh. Modal nekat dan semangat. Sembari terus cari jalan buat mencapai mimpi”.

Itulah komentar yang terlontar pertama kali ketika saya minta pendapat dan pengalamannya saat bisa berkarir di luar negeri kepada teman saya semasa SMA dan kuliah ini. Charis Soeharto, namanya.

“Kalau dulu punya mimpi pingin sekolah di luar negeri. Aku coba ikut program STAID, ee..nggak lolos,” tambahnya.

Program STAID atau Science and Technology for Industrian Development dicetuskan Prof. BJ Habibie. Program pengembangan SDM yang merekrut siswa SMA terbaik di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan S1 di luar negeri. Anak dokter yang bersahaja ini tak mengubur mimpinya. Ia terus mencoba untuk bekerja di perusahaan asing. Atau setidaknya perusahaan yang berafiliasi dengan perusahaan asing. Siapa tahu ada kesempatan program pelatihan atau sekolah lanjut di luar negeri. Mimpinya pergi ke luar negeri tak pernah dihilangkan.

Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga. Ia bekerja di perusahaan asing. Charis pun memulai perjuangannya. Ia menambah kompetensi dan kapasitasnya. Hingga ia mendapat pengakuan dari kolega dan atasannya. Ia bersyukur dipertemukan Allah SWT dengan mentor berkebangsaan Jepang. Orang Jepang itu pun hingga kini sudah ia anggap sebagai Bapak Angkat. Rupanya Sang mentor inilah yang kemudian ‘mengusir’ Charis Soeharto dari Indonesia.

“Charis, tempatmu bukan di sini kamu harus keluar. Kenapa harus takut? Ingat, semua manusia sama. Semua harus COBA. Kalau tidak pernah mencoba, kamu tidak akan pernah tahu,” tukas atasannya itu.

Sampai saat ini ada 2 kata kunci yang selalu ia ingat: MIMPI dan COBA. Kini ia selalu rajin membagikannya kepada siapa saja terutama mahasiswa Indonesia yang menemuinya di Singapura.

Ah.. jadi ingat nasihat Bung Karno :

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Di penghujung obrolan, ia menambahkan bahwa ada satu lagi yang terpenting,. Apa itu ? Doa dan restu dari Ibu. Masya Allah. Ia sangat terkesan dan ingat almarhumah ibunya yang selalu memberi wejangan dan doa bagi ia dan saudaranya.

Charis Soeharto saat ini menduduki posisi Direktur. Posisi puncak pada perusahaan jasa engineering terintegrasi, Asia Project Engineering, Pte. Ltd. Perusahaan multi nasional Jepang yang lebih dikenal dengan APECO yang bermarkas di Singapura. Ia memimpin tim yang multi ras, suku dan agama.

 

 

2.647 Kilometer

Perjalanan mudik tahun ini berbeda dari biasanya. Lain banget.  Kami menyisipkan agenda mendorong ikhtiar anak untuk masuk pondok pesantren. Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah.

Perjalanan panjang pun ditempuh.  Jakarta – Semarang. Istirahat di Semarang, esoknya disambung ke Sidoarjo dan Bangkalan. Merayakan Hari Raya Idul Fitri dan silaturahim di Bangkalan beberapa hari. Lanjut lagi silaturahim ke Malang. Hanya 2 hari, perjalanan diteruskan keTrenggalek – Ponorogo via Blitar. Ponorogo menjadi kota singgah yang penuh makna. Setelahnya, baru kembali ke Jakarta. Total perjalanan kami, sesuai odometer : 2.647 KM. Masya Allah. Alhamdulillaah.

Di Kota Ponorogo inilah, kami berjuang lagi.  Spirit management. Mengelola semangat ternyata masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak mudah. Terutama untuk anak yang baru masuk ponpes. Ia shock ketika harus berdesakan tidur di kamar pondokan sebelum tes. Jauh di luar perkiraannya. Saya pun perlu membawanya keluar sejenak. Berkeliling pondok. Ia pun melihat, bahwa ternyata di luar sana, banyak orang tua sanak saudara yang terpaksa menginap di mobil, ada yang membawa tenda. Bahkan ada yang tidur beralaskan tikar beratap langit. Peserta dan juga pengantar membludak. Satu peserta, pengantar bisa 2,3 bahkan 4 kali lipat.

Membludaknya peserta ini juga pertanda bahwa tempat pendidikan ini, banyak diidamkan anak Indonesia. Kawah candradimuka mengolah dan mengembangkan minat dan bakat. Tempatperjuangan mewujudkan cita-cita.

Melihat kondisi itu, kecewa dan terkejutnya pun sedikit terobati. Ia pun menjalani tes meski masih dengan berat hati.

Alhamdulillaah. Meski hati bercampur aduk. Ada rasa was-was. Terselip doa dan harapan. Ternyata, saat pengumuman tiba, ia justru menangis. Bukan karena tidak diterima. Ia diterima tapi bukan di tempat pilihannya. Kami pun meyakinkan, bahwa tempat boleh beda, sistemnya sama. Pun banyak orang yang ingin masuk pesantren ini, sama seperti yang ia citakan sebelumnya. Lha kok, sekarang malah menangis. Ratusan temannya memang menangis, mereka menangis justru karena belum ditakdirkan belajar di pesantren. Belum diterima.

Malam itu pun kami terus memompa semangatnya. Secara fisik dan juga doa.

Pada kesempatan ini, saya mohon doa sahabat semua, agar ia ikhlas, kuat, cepat beradaptasi dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Kami pun sebagai orang tua juga ikhlas. Tentunya kami juga terus mengirim doa.

Selamat berjuang, Nak !

Momen penting itu, Saya dan istri mendapat penguatan. Pesan yang juga menginspirasi. Pesan yang dikirimkan melalui WA, entah siapa yang menuliskan awalnya.  Semoga menjadi amal sholeh.

Terima kasih atas pesannya, Perkenankan saya juga berbagi kepada sahabat. Siapa tahu, suatu masa mengalami hal yang serupa dengan saya.

————–

Pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Nasihat panjang yang disingkat dengan istilah TITIP.

Titip adalah kependekan dari : Tega – Ikhlas – Tawakkal -Ikhtiar – Percaya

1. Tega

Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan warteg.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman …”

(QS Ibrahim [14]: 37)

2. Ikhlas

“I” ini makanya : ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

3. Tawakkal

Huruf T kedua adalah Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

I berikutnya berarti Ikhtiar. Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

5. Percaya

Yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan saya menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang”

(Abu Dawud, Ibnu Hibban)