Rekan-rekan Leaders dan juga Young Guns..
.
Ada keniscayaan sangat berharga dalam sejarah yang patut menjadi pelajaran kita semua. Bahwa kemenangan, kegemilangan tidak dapat diperoleh atau terjadi dengan instan. Selalu ada peristiwa penting yang menjadi pemantik dan pembuka bagi peristiwa penting berikutnya.
..
Perjuangan para founding fathers negeri ini juga memberikan banyak contoh. Mereka berjuang silih berganti untuk melawan kolonialisme di masing2 daerah. Berhasil dipadamkan, dengan durasi perang yang berbeda. Semua berubah, ketika ada peristiwa 28 Oktober 1928. Ada sumpah persatuan. Cara berjuang pun berubah. 17 tahun kemudian Indonesia merdeka.
.
Kalau menilik jauh lebih ke belakang, Perjanjian Hudaibiyah Tahun 628 atau 6 tahun setelah Nabi Muhammad berpindah dari Mekkah ke Madinah. Sebuah perjanjian yang memberikan gencatan senjata dan kebebasan saling mengunjungi 2 kota penting itu. Seperti jeda setelah beberapa tahun terjadi perang yang dahsyat dan membawa banyak korban jiwa. Tak berselang lama, 2 tahun setelah perjanjian itu, Mekkah dapat dikuasai dengan damai. Mereka bersatu.
.
Pemboman Hirosima Nagasaki yang memilukan itu, mengakhiri Perang Dunia yang menelan korban puluhan juta manusia. Perang yang melibatkan banyak negara. Enam tahun konflik yang sangat luas dan mematikan.
.
Jika saya bawa ke konteks perusahaan yang kita cintai ini, beberapa milestone juga menandakan hal yang serupa.
.
Kita dulu didirikan oleh founding fathers adalah sebuah perusahaan penguliran. Namanya Purna Bina Nusa. Setelah 28 tahun ada perubahan, ditambahnya bisnis Fabrikasi Konstruksi. Kita pernah 1 tahun lebih ‘puasa’ karena API sebagai tool kita dicabut. Setelah itu kita mau dan mampu bangkit. Ini yang penting, mau. Alias berkeinginan kuat dan bahu membahu untuk berubah lebih baik. Kita juga diberi kepercayaan mengelola bisnis maintenance. Kita diberikan lagi ruang belajar dan alat mendapatkan keuntungan.
.
Kali ini cobaan pun datang. Ada lini bisnis yang menggerus kerja bareng kita semua. Dalam. Ya, lubang yang menganga ini membuat kita tertatih untuk naik kembali. Satu dua orang berulah, kita semua harus menanggung risiko dan bebannya. Inilah rasa satu keluarga.
.
Tak boleh menerus diratapi. Harus kita perbaiki dan bangkit lagi. Harus dimulai menyusun rencana dan aksi. Kemenangan harus kita raih kembali. Kemenangan itu kalau diperusahaan adalah revenue naik dan punya untung yang besar.
.
Keniscayaannya, tidak ada kemenangan diraih dengan instan. Tidak ada.
.
Peristiwa penting masa ini, kita jadikan titik tolak kebangkitan. Itu semua dimulai dengan ‘mau’ atau tidak. Ini bukan mau yang artinya akan, tapi mau bermakna bersedia. Karena kalau kemampuan, yakinlah kita semua punya itu. Butuh waktu pastinya. Bisa tuntas cepat? Bisa banget.
.
Bagaimana? Kita mulai lagi memantapkan amanah alias integrity. Adaptasi dengan cepat. Berubah sikap. Mengubah metoda kerja. Manambah kompetensi. Memompa semangat.
.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Maha benar Allah dengan segala firmanNYA.
.
Yuk kita saling menyemangati. Memberikan ide dan krasa. Dan tentunya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif.
.
Mau?
.
.
Catatan:
Pesan ini disampaikan kepada seluruh leader dan juga anggota tim masing-masing leader. Mencermati upaya perbaikan yang sedang dilakukan. Menambah semangat untuk terus menelurkan karsa, karaya dan doa.
Author: Ari Wijaya
Rahasia Besar Idul Fitri
Rahasia Besar di Balik Hari Raya Umat Islam
Saripati pesan-pesan Syaikh Mustafa Siba’i dalam Buku ‘Hakadza Allamatni Al Hayah’. Sebagai reminder bagi saya dan semoga bagi sahabat semua.
.
Disalin dari : Telegram Generasi Shalahuddin
.
“Bagi orang berakal, hari raya adalah kesempatan untuk taat pada Allah. Ia bisa bersilaturahim, berbagi dan menolong orang-orang. Sedangkan bagi orang bodoh, hari raya dianggapnya kesempatan untuk bermaksiat mengumbar syahwatnya. Bagi orang yang lalai, ia menganggap hari raya sebagai ajang balas dendam, sama seperti yang dipikirkan anak kecil.”
.
“Hari raya memberikan kita pelajaran sosial yang berharga: ternyata kebahagiaan masyarakat banyak lebih besar dampak positifnya daripada kebahagiaan pribadi yang tak dirasakan banyak orang. Di hari raya, rasa bahagia masuk ke hati manusia sampai pada orang-orang yang sedih, sakit dan sedang bermasalah. Hal itu terjadi karena kebahagiaan hari raya tercipta bukan dari diri pribadi tertentu, melainkan dari masyarakat. Dan kebahagiaan masyarakat ini menutup kesedihan kecil yang dirasakan sebagian orang itu.”
.
“Kalau saja orang-orang muslim bertakbir dengan hatinya sebagaimana mereka bertakbir dengan lisannya di hari raya; sungguh mereka akan mengubah wajah sejarah. Kalau saja Umat Islam menghadiri shalat jama’ah di masjid sebagaimana mereka menghadiri shalat Ied, akan hancurlah tipu daya musuh-musuh.”
.
“Berusahalah juga untuk melukis kebahagiaan di wajah anak-anak tetanggamu sebagaimana kau membahagiakan anak-anakmu sendiri di hari raya. Semua itu, agar kebahagiaan anak-anakmu pun semakin sempurna di hari kemenangan.”
.
“Kalau hari raya sudah menjadi acara seremonial semata, maka akan hilanglah rasa bahagia dari jiwa, akan tercabutlah dampak positifnya dari akar masyarakat dan jadilah hari raya hanya sebagai ajang untuk melakukan hal-hal tak berguna dan menghabiskan waktu.”
Kerikil Kecil
Tulisan yang saya terima selepas subuh via WA dari salah satu penulis, Satria Hadi Lubis, Ak., MM., MBA. Sungguh menyadarkan saya. Izinkan saya bagi kepada sahabat. Semoga berkenan. Semoga menginspirasi dan penjungkit aksi.
______
Kerikil Kecil
Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 3 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, maka dilemparnya uang logam Rp. 1.000,- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut uang tersebut dan melanjutkan pekerjaannya. Mungkin dikiranya itu uang logam yang tercecer.
Sang mandor akhirnya melemparkan uang sejumlah Rp. 100.000,- yang diramas-remas dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya, sang mandor melemparkan kerikil kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan mandornya.
Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, Allah SWT selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi “dunia” kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-Nya.
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang
Bahkan kita selalu bilang:
“Kita lagi Hoki!” . . .
“Wajar donk…logis donk …apa yang saya dapatkan!”
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rezeki yang sebenarnya milik Allah!
Jadi… jangan sampai kita mendapatkan lemparan “kerikil kecil” yang kita sebut MUSIBAH agar kita mau menoleh kepada-Nya.
Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-Nya, sehingga tak perlu ada lagi lemparan “kerikil kecil” saat Dia rindu dan ingin berkomunikasi dengan kita.
“Dan dari mana saja kamu keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (Allah). Dan dimana saja kamu kalian berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-KU (saja). Dan agar AKU sempurnakan nikmat-KU atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”
(QS. Al Baqarah ayat 150).
Muslim, Motor Penggerak Perubahan
Puja dan puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah azza wajalla Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Salah satu kesyukuran terbesar adalah masih diberi kesempatan merasakan kenikmatan dan keberkahan Bulan Ramadhan. Banyak orang tua, saudara, sahabat, dan orang yang kita cintai yang telah wafat mendahului kita sehingga tak mendapatkan kesempatan ini. Mari kita sisipkan doa untuk mereka.
Bapak/Ibu rekan2, sahabat semua yang dirahmati Allah. . .
Bulan ini sungguh merupakan bulan yang penuh makna.
Perubahan malam dan siang. Pergantian bulan. Dan masih banyak peristiwa tanda alam yang dihadirkan agar kita berpikir. Mengolah rasa, batin dan akal. Kita diberikan tuntunan sesuai surat Al Imron ayat 190:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (KEBESARAN ALLAH) bagi orang yang berakal”
Bulan ini kita juga melakukan banyak hal. Ibarat mesin kita melakukan overhaul. Persiapan pun dilakukan dengan cermat. Bahkan ada yang menyiapkan diri 1 bulan sebelumnya. Banyak manfaatnya. Sebuah riset yang dilakukan oleh Dokter Eric Berg DC, spesialis healthy ketosis and intermittent fasting, menyatakan bahwa puasa dapat menekan jumlah penderita kanker. Apalagi puasa penuh selama 1 bulan. Puasa yang dijalankan umat Islam adalah intermitten fasting seperti yang dikenal di dunia. Ada interval dari Subuh hingga Maghrib. Ada yang 12 jam bahkan ada yang 17 jam.
Penelitian tersebut memberikan manfaat puasa dari sisi kesehatan. Puasa menumbuhkan sel imun baru. Puasa membuat sel kanker kelaparan. Puasa meningkatkan jaringan antioksidan. Menurut penelitian beliau di Arab Saudi, dari 100.000 hanya 96 orang yang mengidap kanker. Oman dengan 104 dari 100.000 orang, Qatar 107 dari 100.000 orang, UEA 107 dari 100.000 orang, dan Kuwait 116 dari 100.000 orang. Kemudian dibandingkan dengan beberapa negara seperti Australia dengan 486 dari 100.000 orang. Irlandia yaitu dari 100.000 sekitar 347 orang mengidap kanker. Hungaria dengan 368 dari 100.000. Amerika Serikat 352 dari 100.000 orang.
Dahsyat, bukan?
Bapak/Ibu, rekan-rekan, sahabat semua . . .
Izinkan saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bulan Ramadhan menjadikan kita melakukan re-set-up hidup. Kita dipaksa. Karena ini kewajiban. Kita mau karena ketaatan kita kepada Sang Khaliq. Tapi Allah SWT selalu memberikan hikmah besar di balik setiap peristiwa.
- Saat kita Sahur dan berbuka. Kita pasti menjaga dengan baik. Tertib waktu. Tak ada yang berani setelah adzan subuh tetap makan atau minum. Sebelum adzan maghrib, meski kurang beberapa detik saja, kita tunggu. Kita sangat disiplin. Amanah atas apa yang ditetapkan.
- Kegiatan membaca dan mengaji kandungan Al Quran atau kajian kelimuan yang lain, kita lakukan. Kita meningkatkan kualitas diri kita. Ada yang mulai belajar baca dan menghafal Al Qur’an. Kompetensi kita menjadi bertambah. Tak peduli kita dicap atau dibilang mendadak alim. Karena memang ini kesempatan langka.
- Dulu ada yang suka ngerumpi nggak karuan. Diskusi yang mengalir tanpa makna. Kini kita menjaganya. Lisan kita jaga. Perasaan orang lain kita jaga. Secara tidak langsung interaksi menjadi lebi harmonis.
- Kita juga patuh dan taat pada saat berpuasa. Makanan yang enak dan lezat menggiurkan pun tidak kita sentuh. Padahal itu makanan halal. Kita juga saling menjaga puasa kita dan rekan kita. Kita loyal.
- Saat Ramadhan ada yang menjadikan titik tolak utuk melakukan perubahan. Perokok berhenti megisap sigaretnya sewaktu-waktu. Bahkan tak jarang setelah Lebaran berhenti total. Banyak penyesuaian yang dilakukan. Kita sangat adaptif. Saya mendoakan bagi para perokok agar bisa berhenti.
- Pada malam hari, kita juga didorong melakukan sholat berjamaah, tarawih. Plus kegiatan lainnya seperti pengumpulan Zakat dan Infaq. Tak jarang ada kepanitiaan khusus untuk mengelolanya. Kita bahu membahu dengan warga lain. Biasanya jarang ketemu, sekarang menjadi lebih sering ketemu. Kegiatan yang sangat kolaboratif.
Secara tidak langsung kita semua para pejuang yang melaksanakan Puasa Ramadhan adalah pelaksana Tata Nilai AKHLAK. Tidak dirasa, bukan?
Sekarang saya ajak bermimpi. Mari kita renungkan. Berapa persen penduduk Indonesia yang muslim? Berapa banyak umat muslim yang melakukan kegiatan itu? Kita boleh menjawab secara kualitatif: SEBAGIAN BESAR. Ya, sebagian besar umat Islam menjalankan kewajiban ini.
Fenomena ini, pengalaman 1 bulan ini, adalah bukti bahwa kita bisa. Coba dibayangkan ketika apa yang kita lakukan merasuk dan memberi contoh kepada yang lain. Implementasinya tidak berhenti pada diri sendiri, tidak berhenti saat di masjid. Saya membayangkan perubahan besar di negeri ini bukan masalah rumit. Kita bisa. Bahkan menjadi motor penggerak perubahan itu.
Bagaimana tidak? Jika ketaatan kita tidak mencuri-curi waktu berbuka, sudah mendarah daging. Kita tidak mau melakukan itu karena bisa membatalkan puasa. Lebih jauh lagi, bahwa perbuatan itu mencerminkan ketidaktaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, kita tentunya akan takut mencuri barang atau mengambil hak orang lain. Kita takut mengingkari amanah.
Jika semangat menaikkan kompetensi juga diterapkan pada bisa ilmu atau pekerjaan yang digeluti, maka bukan tidak mungkin muncul generasi-generasi yang pilih tanding. Mumpuni dalam bidangnya. Selalu menjadi nara sumber dimana-mana. Pemikir dan generasi solutif terhadap permasalahan masyarakat.
Semangat bekerja sama dengan orang lain dan saling menghargai perbedaan, dihidupkan juga pada kegiatan lain. Tidak berhenti saat bulan Ramadhan usai. Tidak hilang ditelan waktu, saat pembubaran panitia dilakukan, maka bukan mustahil, banyak masalah dapat dituntaskan dengan damai dan membahagiakan.
So . . . Bapak/Ibu, sahabat saya yang saya banggakan . .
Mari kita resapi dan maknai Ramadhan ini sebagai kawah candradimukai. Tempat pelatihan yang komprehensif. Sehingga setelah Lebaran, momen dan rasa itu tetap membara dan mendarah daging. Kita lanjutkan dengan implementasi lain yang nyata. Kita teruskan hingga kita ketemu Ramadhan lagi. Kita perbaiki lagi saat Ramadhan tiba. Begitu seterusnya. Continuous Improvement. Dan itu semua, motornya adalah kita yang melaksanaan SHAUM Ramadhan. Insya Allah akan banyak perubahan positif yang terjadi. Saya sangat yakin itu. Karena perubahan itu ada di tangan kita.
Mari kita ingat janji Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri“
Mari kita jemput janji Allah tersebut. Kita wujudkan bersama.
Semoga berkenan. Mohon maaf atas segala kekhilafan.
Wassalaam.
.
__Disampaikan pada TAKJIL (sesi berbagi Masjid Baitul Hikmah Elnusa) pada Selasa, 5 April 2022 | 3 Ramadhan 1443H.
Memilah dan Memilih Amanah
Ketika tugas itu datang, hampir dipastikan kita tak bisa menolaknya. Kita tak bisa memilih mana tugas yang enak, mana yang tidak. Semua ada tantangannya masing-masing. Kita tak pernah tahu. Sudah garis tangan. Tapi itu bukan berarti pasrah bongkokan. Amanah harus dijalankan. Itu ketetapan yang terbaik untuk kita yang diberikan kepercayaan itu.
Apa itu amanah? Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia:
amanah /ama·nah/ 1 n sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain:
Nha ini, dipercaya. Sehingga sudah ditakar sebenarnya, oleh siapa? Bisa oleh atasan orang lain yang memebri tugas. Tapi yang jelas semua itu hanya perantara. Karena pasti sudah menjadi qadar dari Tuhan Sang Maha Pencipta. Terlebih Gusti Allah sudah memberikan jaminannya. Apa itu? Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
So? Dijalani saja amanah yang hadir. Tentunya menggunakan ilmu pengetahuan, pengalaman dan mentoring. Semua resources dikerahkan. Kita bisa pilah mana yang harus dikerjakan dulu dengan cepat dan tepat. Bisa pakai Prinsip Pareto. Kita pilah sesuai skala prioritas.
Sesuai nasihat guru dan beberapa kajian, keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin suatu organsiasi atau lembaga dapat dilihat dari aspek-aspek: produktivitas dan kinerjanya, kejelian dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Tentunya juga memiliki kemampuan memimpin dan kemampuan intelektual. Mampu melakukan trasnformasi (perubahan) dalam organisasi dan juga pemikiran individu dan pihak-pihak yang ada dalam organisasi.
Perusahaan idem dito. Hanya saja sebagian besar tolok ukur itu dikonversikan dalam uang. Apa saja itu? Misalnya, revenue alias penghasilan. Cost of Revenue atau biaya pokok produksi. Net Profit atau yang sering disebut keuntungan. Semua itu dikelola dengan baik, ujungnya adalah keuntungan bagi pemegang saham.
Nggak gampang memang. Benar banget. Menjalankan amanah memimpin perusahaan pasti banyak rintangan. Karena kalau banyak rantangan, itu namanya kenduri alias pesta.
Bismillaahilladzi la yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wala fissamai wahuwassami’ul ‘alim
Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Mohon doa dan dukungannya.
Start from Your Customer’s Perspective
Start from Your Customer’s Perspective
by: Pambudi Sunarsihanto *)
.
Pada tahun 1980, tiga orang engineer di Amerika bernama Ben Bertiger, Raymond Leopold dan Ken Peterson mengembangkan sebuah system telekomunikasi ampuh yang akan membuat semua manusia di permukaan bumi bisa saling menghubungi dengan mudah menggunakan jaringan satelit. Mereka menghitung bahwa jumlah satelit yang dibutuhkan ternyata ada 77 (untuk mengcover seluruh permukaan bumi). Maka mereka menamakan system ini Iridium (sesuai dengan nama unsur ke 77 di tabel periodik kimia).
Ide brilliant, dan maka para investor pun menyetorkan ratusan juta dolar modal. Akhirnya sistem ini dilaunching dengan heboh , bahkan oleh president USA pada waktu itu.
**
Beberapa tahun kemudian, Ternyata …..
– system nya kurang bisa diandalkan
– call menggunakan jaringan ini sangat lelet
– beberapa area susah dicover
– harga handset dan call nya sangat mahal
**
Dan para investor Iridium pun menelan pil pahit. Iridium dinyatakan bangkrut. Begitulah kadang kadang kalau para enterpreneur punya ide yang (secara teknis) bagus, tetapi tidak berfikir secara bisnis. Dan banyak contoh lain dari product product technology yang kelihatannya bagus banget secara teknis, para enterpreneur itu akan dengan bangganya memamerkan kepada teman-temannya, kepada investor, bahkan di depan panggung besar pameran teknology. Tetapi kemudian pada saat diluncurkan ternyata hanya bisa menghabiskan modal para investor, dan customer tidak ternyata tidak tertarik dengan productnya.
**
Kita dengar cerita Jeff Bezos, dia adalah seorang Insinyur Elektro juga (lulusan dari Princeton University).
Setelah lulus dari kuliah, dia tidak buru-buru menjadi entrepreneur. Anyway, Jeff berfikir bahwa setelah lulus teknik, sebaiknya dia bekerja dulu menjadi investment banker di sebuah bank besar di Wall Street. Tidak tanggung-tanggung, 8 tahun dia bekerja di bank itu. Tentunya bekal 8 tahun sebagai seorang investment banker semakin memperkaya kompetensinya, dan menambah mantap systematic thinking yang dia pelajari sewaktu kuliah di Electro.
Akhirnya dia pun bermimpi membuat sebuah bisnis yang baru berbasis teknology.
Dan kemudian dia pun berfikir dengan urut-urutan seperti ini:
– bisnis apa yang akan dibutuhkan dan disukai customer?
– bisnis apa yang akan mendatangkan profit secara long term?
– bisnis apa yang secara teknology bisa direalisasikan?
**
Lihat kan bagaimana urutan pemikiran Jeff?
Dari pemikiran itu, Jeff berfikir bahwa Internet akan mengalami booming, tetapi Jeff tidak terburu buru langsung membuat product canggih dengan berbasis Internet.
Jeff berfikir kira-kira product apa yang berpotensi untuk membuat customernya bilang “WOW” karena sangat kagum. Akhirnya Jeff melihat potensi pada pembuatan toko buku.
Customer pasti akan kagum kalau mereka mempunyai pilihan dari jutaan buku (saat ini Amazon menjual 12 juta buku), dan customer pasti akan lebih suka lagi kalau hanya dengan beberapa “click” di computer mereka, buku itu akan tiba di rumah keesokan harinya. Dan Jeff pun bekerja keras untuk membuat toko buku On Line yang paling sukses di dunia (Amazon). That’s because dia mulai berfikir dengan apa yang dibutuhkan customer.
Sementara insinyur-insinyur yang mendesain Iridium memulai dengan, saya punya sistem telekomunikasi yang canggih, bagaimana saya bisa menjualnya ke orang lain?
**
I am sure by now you understand the message:
– Always start fron your customer’s perspective
– Think how you can make it a long term success
– Develop a product that will make your customer say “WOW”
**
It is always great to have a good product.
Hanya saja, sebelum launching ke market, make sure you follow these steps ….
**
a) Understand the relevancy and the differentiators of your products
Pastikan bahwa product anda memang relevan saat ini dan memang dibutuhkan pelanggan anda.
Tentu nya saat ini di market sudah ada product yang sejenis dengan yang anda punya, atau at least bisa menjadi pengganti product anda saat ini, pastikan bahwa product anda mempunyai “differentiators” yang akan membuat pelanggan anda “switch” dari product yang biasa mereka gunakan selama ini.
**
b) Don’t get excited yet, but change your perspective, from your customer’s point of view
Sekarang anda berganti posisi dan menjadi pelanggan anda. Be the “devil advocate for yourself”.
Tanyakan kepada anda sendiri (sebagai customer), apakah product anda cukup menarik, menjawab kebutuhan anda dan anda memang akan bersedia berpindah dari product atau service yang selama ini.
**
c) Think, how can you make your customers say “WOW”
Anda suka makan kue coklat? Saya juga! Dan kue coklat yang enak memerlukan kue cherry merah di atasnya sebagai pelengkap. Agar yang makan kue bisa bilang “WOW” dengan penuh kekaguman. Product dan jasa anda juga demikian. Mestinya anda tidak puas dengan fungsional aspek yang berjalan lancar. Anda memerlukan WOW effect, sesuatu yang tadinya tidak diharapkan customer anda, tapi kemudian membuat customer anda kagum, dan langsung berpindah dari competitor anda ke anda.
**
d) Communicate consistent message to your customers and your employees
Sekarang, anda sudah jelas tentang apa saja yang menjadi differentiators anda.
Pada saat ini mestinya anda bisa menjawab 3 pertanyaan ini…
– Kenapa product anda relevant?
– Apa yang menjadi differentiator anda? (mengapa customer anda akan switch dari product lain ke anda)
– Apa yanv menjadi wow factor anda? (Apa yang akan membuat customer anda kagum, dan kalau perlu, akan membayar bahkan lebih mahal daripada product lainnya?)
Jawaban dari pertanyaan itu harus dikemas dalam message yang consisten dan anda kirimkan ke semua orang, baik itu di dalam perusahaan (seluruh karyawan anda) maupun keluar (seluruh partner, supplier dan customer anda).
**
d) Combine your “wow” product with “great” experiences
Anda sudah punya great product, anda sudah mengerti differentator dan wow effectnya.
Terakhir, anda harus make sure bahwa customer juga mempunyai great experience.
Dari segi kemudahan pemakaian, kenyamanan, dan segala aspeknya termasuk service dan support bilamana diperlukan.
**
Ingat, sebelum anda launcing product anda (yang berbasis teknologi), yakinkan anda sudah mengecek kelima hal di atas.
*) Pambudi Sunarsihanto adalah Direktur SDM Blue Birds Group. Praktisi di bidang sumber daya manusia.
Dirgahayu Indonesia
Negeri yang dijuluki untaian mutiara pada khatulistiwa ini memang menarik. Bak gadis, banyak yang melirik. Kilas balik sejarah menguatkan ungkapan itu. Sudah berapa negeri lain yang berkelana mencari sumber daya. Mereka pun kepincut menuju bumi nusantara ini. Bahkan perang pun rela mereka tempuh untuk mendapatkannya. Lada, pala, vanili, cengkeh, dan masih banyak lagi.
Tapi kini, entah kenapa komoditi itu lambat laun justru sekarang mulai pudar. Perlu usaha khusus untuk menghidupkannya kembali. Lahan dan iklim kita mendukung. Memang bukan pekerjaan mudah. Tapi peluang besar itu justru ada pada komoditi pertanian yang akan dan masih dibutuhkan manusia. Ada beberapa yang layak dikemukakan.
Lada atau sering disebut merica dikenal sebagai rajanya rempah-rempah atau King of Spiece. Produksi dunia masih dikuasai negara tetangga kita, Vietnam dan India. Di samping rasanya yang pedas sebagai salah satu bumbu masak, lada memiliki beberapa manfaat. Bagi kesehatan lada juga bisa digunakan sebagai zat pengeluaran keringat, pengeluaran angin, peluruhan air kencing, peningkatan nafsu makan, peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan ramuan obat reumatik. Lada juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan (pembunuh hama kapas).
Vanili, pemasok terbesar kebutuhan dunia dihasilkan oleh negeri kita dan saling berkejaran dengan produksi dari Madagaskar dan Meksiko. Vanili awalnya adalah tumbuhan dari Meksiko dan digunakan sebagai pewangi minuman coklat. Setelah itu disebarkan oleh orang Eropa. Vanili pun berkembang sebagai penambah aroma dan rasa yang kita rasakan hingga saat ini.
Pala tanaman asli dari Maluku ini juga telah berabad-abad menjadi komoditi dunia. Penghasil terbesar justru dari Guatemala. Biji pala dapat diolah menjadi minyak atsiri. Minyaknya sebagai campuran parfum atau bisa juga campuran sabun wangi. Bubuk Pala digunakan untuk penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar.
Kakao. Tanaman ini bijinya diolah menjadi cokelat, salah satu bahan utama makanan dan minuman. Penghasil terbesar masih didominasi oleh Pantai Gading dan Ghana. Siapa yang tak kenal manfaat produk olahannya ini.
Dan masih banyak komoditi pertanian yang mendunia dan bisa dikembangkan di Indonesia. Kalau dulu kita diincar dan dikuras habis oleh dan untuk kepentingan bangsa lain, itu artinya kita memang punya dan kaya. Seharusnya kita bisa menghasilkannya lagi. Jelas bedanya kali ini, dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Petani diberikan edukasi. Lahan dibuat lebih produktif. Bibit juga dibudidayakan dengan teknologi agar lebih unggul dan produktif.
Pemerintah memberikan arahan, koordinasi, dan juga pasar yang dikawal ketat. Pemanfaatan lahan bisa seimbang. Ekosistem terjaga, namun ekonomi terus meningkat. Ada intensifikas, ada pula ekstensifikasi. Atau apa pun namanya. Agroindustri bisa menjadi penopang sebuah negeri. Dejavu.
Kita tak kekurangan orang pintar sekaligus inovator. Pusat penelitian dan laboratorium tersebar di seantero negeri. Kalau zaman dulu saja bisa, sekarang harusnya jauh lebih bisa. Teknologi semakin canggih. Sejarah itu bisa kita ulang. Bukan sekedar siaran ulang. Kita ulang dengan tambahan sentuhan teknologi. Kita hadirkan kembali sebagai pelecut semangat dan legacy bagi generasi mendatang. Negeri gemah ripah loh jinawi, bukan impian. Jangan pernah lelah mencintai dan berkarya untuk negeri yang kita cintai ini.
Indonesia tangguh. Indonesia tumbuh.
Dirgahayu Indonesia.