Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai By Dahlan Iskan

Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai
By Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN

 

The Wall Street Journal menyebutnya seru: Ini baru pertama terjadi. Jepang terpaksa melepas perusahaan teknologinya ke negara lain. Terutama teknologi elektroniknya.

Ideologi menjaga   ”rahasia teknologi Jepang” mulai meleleh. Padahal, Jepang dikenal sangat pelit melakukan alih teknologi. Sampai sekarang pun, kita hanya jadi pasar mobil Jepang.

Pelitnya Jepang dalam ”alih teknologi” kini berubah menjadi penyerahan total. Bukan hanya alih teknologi. Sekalian dengan perusahaannya. Terpaksa.

Sharp memang dalam kesulitan besar. Belakangan terus merugi. Berbagai usaha penyelamatan gagal.

Dua kali bailout tidak menolong. Tahun lalu masih rugi  USD 918 juta. Atau sekitar Rp 12 triliun. Belum termasuk angka meragukan yang baru diketahui belakangan.

Pertolongan paling dramatis dilakukan oleh ”dewa baru” Jepang: INCJ. Juga gagal.

INCJ adalah dewa baru. Didirikan pemerintah bersama 19 perusahaan raksasa Jepang. Tugasnya: merangsang perusahaan Jepang agar tidak kalah dalam kompetisi.

Bukan main. Jepang yang kita nilai sudah sangat hebat pun masih perlu melakukan itu:   bagaimana bisa lebih kompetitif. Maksudnya, mungkin, agar jangan kalah oleh Korea.

INCJ (Innovation Network Corporation of Japan) baru dibentuk pada 2009. Ialah yang terakhir berusaha keras menyelamatkan Sharp. Agar jangan jatuh ke asing. Caranya pun drastis: menggabungkan Sharp ke dalam grup Japan Display.

Japan Display didirikan pada 1 April 2012. Empat tahun lalu. Oleh INCJ. Tugasnya menyelamatkan raksasa-raksasa elektronik Jepang. Maka, divisi-divisi layar dari Sony, Toshiba, dan Hitachi digabung ke dalam Japan Display. Panasonic menyusul belakangan.

Maunya: Sharp dimasukkan ke situ sekalian. Tapi, penawaran dari Taiwan terlalu menggiurkan. Dan lagi bank-bank yang selama ini mendanai Sharp lebih mau jalan pintas: jual saja. Sharp bisa lebih cepat selamat. Maksudnya: Banknya juga cepat selamat.

Tawaran Foxconn memang menggiurkan: USD 6,25 miliar. Jepang pun heboh. Oleh besarnya tawaran. Dan oleh ancaman asing.

Tawaran itu dua kali lipat dari harga yang disodorkan INCJ. Dan akan dibayar cepat.

Tapi, drama pun terjadi. Saat Foxconn siap mentransfer uang, muncul data baru: Ada angka yang selama itu belum terungkap. Sharp ternyata memiliki tanggungan USD 3 miliar. Atau sekitar Rp 40 triliun.

Yang bisa jadi bom sewaktu-waktu. Foxconn terbelalak. Ini bahaya. Bisa jadi ganjalan ke depan. Bos Foxconn Terry Guo berang.

Keputusan pun dia ambil: Batal.

Ganti Sharp yang panik. Berita masuknya Foxconn ke Sharp sudah terlalu luas beredar. Ke seluruh dunia.

Jepang yang dikenal sangat ulet dalam negosiasi kini harus menghadapi naga terbang. Sampai-sampai CEO Sharp Takahashi mendadak ke Shenzhen. Mencari Guo.

Foxconn memang punya pabrik besar di Tiongkok. Karyawannya sampai satu juta orang. Komponen-komponen iPhone banyak dibikin di situ. Juga produk Apple lainnya.

Guo tahu bahwa Takahashi minta ketemu dirinya. Dia memang sudah membatalkan transaksi itu, tapi tidak dalam hatinya. Melihat respons Takahashi, Guo membatalkan liburan Imlek-nya.

Tapi, yang menemui Takahashi hanya stafnya. Dia menunggu di kamar sebelah. Alot. Data yang dibawa Takahashi dipelototi.

Rapat itu berlangsung sejak pukul 23.00 sampai 09.00. Tidak ada yang tidur. Juga Guo. Yang meringkuk di kamar sebelah.

Menjelang jam makan siang, kamar Guo diketok. Takahashi bertekuk lutut. Dia menyerah. Menerima tawaran Foxconn yang terakhir: USD 3,5 miliar.

Turun dari tawaran awal yang USD 6,25 miliar. Atau turun sekitar Rp 40 triliun.

Inilah gertakan senilai Rp 40 triliun. Inilah keuletan seharga Rp 40 triliun. Inilah tidak tidur dengan imbalan Rp 40 triliun.

Takahashi memang menyerah.  Tapi bukan karena ngantuk. Harga itu memang masih lebih tinggi daripada tawaran penyelamatan oleh dewa INCJ. Terutama tidak bisa menjamin bahwa tanggungan USD 3 miliar itu tidak berbahaya.

Mengapa pemerintah Jepang tidak all-out dalam menyelamatkan Sharp? Dari tangan asing. Yang akan menguasai saham Sharp sampai 72 persen. Taiwan lagi. Wilayah jajahannya dulu.

Pemerintah Jepang rupanya memang punya agenda tersembunyi: merevolusi mental perusahaan Jepang. Yang selama ini tertutup. Pelit investasi. Kurang mengutamakan pemegang saham.

Pemerintah Jepang ingin memulai persaingan terbuka. Termasuk dalam inovasi. Terutama inovasi jenis bisnis masa depan. Singkatnya, Jepang ingin mulai terbuka pada modal asing.

Untuk membuat manajemen Jepang lebih terbiasa dengan iklim persaingan. Persainganlah yang bisa membuat orang lebih inovatif.

Korea dianggap lebih inovatif. Musuh besarnya itu.

Saat tulisan ini muncul di koran grup Jawa Pos, saya sedang di Jepang. Ingin ke Fukushima. Dan ke Fujioka. Bukan untuk membatalkan drama Sharp-Foxconn itu. Tentu saja.

Nama Terry Guo (Guo Tai Ming) kini begitu top. Dia lambang baru dari zero to hero. Lahir sebagai anak polisi rendahan di Shanxi pada 1950, dia ikut ayahnya mengungsi ke Taiwan. Terdesak oleh pemerintahan baru komunis Mao Zedong.

Di Taiwan, Guo bekerja di pabrik karet. Buruh pemutar roda. Di umur 24 tahun, Guo memutuskan untuk berhenti jadi buruh. Bikin usaha kecil. Berkembang: industri kecil bidang plastik. Dia bikin casing televisi.

Di umur 30-an tahun, Guo pergi ke AS. Selama sebelas bulan dia menjelajah berbagai sudut negara. Mencari pasar. Dengan keberanian nekatnya. Dan kegigihan gilanya. Di usia 65 tahun saat ini, Guo menjadi orang terkaya dunia urutan 250-an.

Istrinya, Serena Lim, meninggal karena kanker payudara. Sepuluh tahun yang lalu. Istri keduanya, Zheng Xinyin, seorang koreograf. Saat menikah itu, duda Guo 55 tahun. Zheng 24 tahun.

Dunia kini menanti masa depan Sharp. Sebagai perusahaan asing di Jepang. Sukses atau kempis. Naga sedang menggigit samurai. Semua ingin tahu apa lakon berikutnya.

 

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana by Gus Mus

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana
by Gus Mus

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Catatan :
Gus Mus adalah panggilan akrab dan populer KH. Ahmad Mustofa Bisri. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang. Jawa Tengah. Gus Mus dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. 

Beliau dikenal juga sebagai seorang penyair dan penulis kolom di beberapa media cetak nasional.

Keputusan itu Membuatmu Galau ? by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Pernahkah anda mendapati situasi saat pilihan, keputusan, atau proposal yang anda pilih, dibatalkan ? Ditolak ? Misal, dibatalkan pasangan anda? Tidak dikabulkan atasan anda? Ditolak partner bisnis ? Atau karena hal lain, misal salah jadwal berimbas perubahan ?

Jawaban sebagian besar orang yang saya sampling adalah pernah bahkan sering. Jika jawaban anda serupa, maka mohon perkenan untuk memutar kaset memori. Coba dikumpulkan rekaman itu. Agar lebih spesifik, mari dikerucutkan ketika keputusan itu dibatalkan oleh orang yang punya pengaruh besar kepada anda. Orang tua misalnya. Atasan di tempat kerja. Atau orang yang punya duit alias owner.

Jika anda karyawan, mohon dikerucutkan lagi. Karena bagi karyawan itu juga bisa berdampak pada kinerja.

Bagaimana perasaan anda ketika itu ? Apa reaksi anda ketika itu ?

Banyak orang yang saya temui mempunyai jawaban mirip. Merasa tidak dihargai. Kecewa. Ngedumel. Marah. Sembuhnya pun lama. Sadar atas kecewa dan marah butuh waktu. Memang, hal itu tidak perlu berlarut, harus segera berubah. Bereaksi positif. Bisa walau tidak mudah.

Ada pula memang yang bersikap easy going. Pasrah. Ada yang bersikap simple :

“Lha wong yang punya duit tidak mau, ya sudah. Kita buat kajian lain. Kita buat proposal lain. Diajukan lagi nanti”, ujar salah seorang sahabat dengan enteng menanggapi hal semacam itu.

Response yang sangat positif. Banyak sudut pandang tentang hal ini.

Saya dan tim juga pernah mengalami hal serupa. Kajian yang kami berikan sudah komprehensif. Beberapa cocerns pemegang keputusan dan wakil pemilik modal pun sudah kami tambahkan. Plus ada tim yang langsung site visit untuk melakukan perbandingan ke bisnis serupa. Menurut kacamata kami sudah sangat lengkap kajian teknis, finansial dan juga mitigasi risikonya. Tapi apa daya, ketika presentasi beberapa kali dilakukan dan presentasi final usai, keputusan manajemen telah dijatuhkan. Kami tidak diijinkan meneruskan kajian itu. Kami tidak disetujui menjalankan bisnis itu. Terlalu berisiko.

Tim pun patah arang. Tidak semangat. Bahkan ada yang marah.

“Kajian kita ini kurang apalagi ?”

“Sudah lengkap teknis, mitigasi risiko, bahkan indikator keuangan pun sudah sesuai bahkan melampaui yang disyaratkan”, tukas salah seorang anggota tim yang menjadi person in charge proyek itu.

Saya pun sempat geram. Tapi hal itu tidak boleh berlarut. Kami konsolidasi. Surat resmi sikap perusahaan, kami layangkan kepada calon partner bisnis kami.

Tim harus jalan, move-on. Masih banyak peluang lain. Kami pun melakukan persiapan pengembangan bisnis lain. Memulai kajian dari nol lagi.

Sekira 2 bulan setelah rapat keputusan itu, ada yang mengejutkan. Bisnis itu pun ternyata dibidik oleh perusahaan lain yang masih ‘saudara’ dengan kami. Infomasi disampaikan oleh pemilik bisnis yang awalnya akan kami ajak kerjasama.

Sangat memukul memang. Geram yang hilang pun timbul kembali. Ada pertanyaan besar yang menggelayut di benak saya.

“Kenapa perusahaan itu boleh memasuki bisnis itu sedangkan kami tidak ? Padahal kami serumpun. Pemilik modalnya pun boleh dikatakan sama”.

“Bukankah concern utama adalah terlalu berisiko yang tidak kuat dan sanggup dimitigasi ?”

“Apakah jika dilakukan oleh perusahaan itu, risiko menjadi turun bahkan berkurang sama sekali?”

“Ada apa sebenarnya ?”

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Karena saya yakin hal yang sama akan menjadi pertanyaan orang yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Kadang persaaan itu yang membuat galau. Pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.

Bukan masalah diskriminasi keputusan. Bukan. Tapi kami ingin belajar banyak lagi, bagaimana memberikan presentasi yang memincut manajemen bahkan pemegang saham agar bisa mendapat persetujuan. Materi sama, obyek sama, tentunya ada yang berbeda, sehingga bisa lolos di tempat lain. Besar harapan ada yang memberikan keterangan gamblang. Penjelasan itu pun sudah sangat memadai untuk saya yang sedang belajar ini. Memang itu permintaan berlebihan.

Sembari terus mencari jawabannya. Saya kontak teman. Komunikasi dengan pihak lain. Tidak lupa, saya pun membesarkan hati. Ini perlu agar energi yang dimiliki tetap punya daya dorong. Tidak sia-sia. Terlebih ada sentilan dari guru saya ketika mengikuti kajian rutin. Diskusi singkat yang justru membuat semangat itu membara.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

 

Duh, Gusti Allah, terima kasih. Setidaknya firmanMU ini membasuh kecewa saya. Melepaskan kegaluaan saya. KetetapanMU pasti ada hikmahnya bagi saya dan tentunya bagi tim dan perusahaan ini. Saya saja yang terbatas pandangan dan pengetahuan. Manusia memang tempatnya dan punya subyektivitas.

Bisa jadi proyek itu memang tidak baik bagi saya, tim dan perusahaan.

Ya Allah, mohon luaskan wawasan Kami. Bersihkan hati Kami. Senantiasa jaga hati Kami. Berikan selalu tempat sandaranMU sebagai tempat Kami hanya bergantung dan berharap . Apa pun yang melekat pada kami, amanah, tugas, jabatan, harta, apa pun itu, senantiasa bisa lebih mendekatkan diri Kami padaMU. Kami lebih menghamba dan tambah sujud kepadaMU, Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Gak Gue Banget By Jamil Azzaini

Ada sebagian orang yang bila diberi pekerjaan menantang menjawab dengan kalimat :

“Wah, gak gue banget.”

Kalimat ini bermakna bahwa pekerjaan tersebut tidak sejalan dengan passionnya, dia tidak menguasai, dia tidak mencintai dan sejenisnya.

Benarkah setiap pekerjaan yang tidak cocok dengan kita itu pertanda “gak gue banget”? Belum tentu.

Secara ringkas, dengan menggunakan ilmu Biologi, bisa dijelaskan sebagai berikut. Dulu, saat kita belajar Biologi disebutkan bahwa “fenotif” sama dengan “genetik” ditambah “pengaruh lingkungan”. Maknanya, apa yang tampak pada diri kita saat ini (fenotif) adalah karena ada faktor bawaan (genetik) sekaligus tempaan lingkungan pergaulan.

Sehingga, boleh jadi, pekerjaan atau profesi yang kita kuasai, cintai dan tekuni saat ini sejatinya bukan kita yang asli (genetik) tetapi karena dominannya pengaruh lingkungan. Dan, dalam jangka waktu tertentu, orang yang bekerja atau menekuni profesi tetapi tidak sejalan dengan genetiknya ia akan frustasi, stres dan mengalami kejenuhan yang tinggi.

Oleh karena itu, pernyataan “gak gue banget” bisa jadi keliru. Jangan-jangan justru pekerjaan yang ditawarkan kepada Anda itulah yang sejalan dengan genetiknya Anda. Sayangnya, genetik Anda yang merupaka “berlian” di dalam diri Anda tertutup oleh lumpur [pergaulan yang tidak sejalan dengan genetiknya].

Saran saya, jangan pernah menolak pekerjaan yang menantang apabila Anda belum menemukan siapa diri Anda sebenarnya, belum menemukan passion Anda, belum tahu kelebihan Anda. Dalam kondisi tersebut, pernyataan “gak gue banget” akan menjauhkan Anda dari menemukan jati diri Anda yang sesungguhnya.

Sementara bagi Anda yang sudah menemukan genetik, passion, dan kelebihan Anda, jawaban “gak gue banget” yang membuat Anda tetap fokus dengan pekerjaan dan profesi Anda, akan menjadikan Anda memiliki banyak karya yang luar biasa.

Bagaimana hidup Anda saat ini? Gak gue banget atau gue banget?

Catatan :
Ir. Jamil Azzaini, MM adalah CEO of PT. Kubik Group, perusahaan pelatihan dan konsultansi lokal yang mulai mendunia. Pengarang buku best seller seperti ‘Speak to Change’, ‘ON’, ‘Tuhan, Inilah Proposal Hidupku’, dll.

Jalan Perubahan by Salim A. Fillah

Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, penyihir, dukun, serta gila; bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, ruku’ lalu dijerat lehernya, sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya; bahkan lebih dari soal diboikot, dianiaya, diusir, dan dibunuhi pengikutnya; saya masih terngungun-ngungun membayangkan kesabaran lelaki agung itu.

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul ‘Atiq di hadapannya, berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya, tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta. Di saat lain dia seru-seru kaumnya, dia tunaikan amanat Rabbnya, dia sampaikan RisalahNya.

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika harus shalat, membaca Al Quran, dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah, di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya.

Tiga belas tahun.

Latta, ‘Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya, tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya, dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan, sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah.

Tapi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu, sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah. Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman, bukan prasarana dan bangunan.

Tanpa perubahan hati, berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari. Tanpa perubahan pemahaman, wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ﷺ terus bersabar hingga Fathu Makkah, tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai. Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap. Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim, menaburkan dinar dan dirham di kakinya, serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah.

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya. Panjang sebab bukan kayu atau batu, ladang atau hutan, dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya. Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati, perbaikan jiwa, pemulihan manusia, dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini, betapa kita menginginkan perubahan dengan segera, tapi kita lupa apa yang harus diubah.

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan, “Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan ‘aqidah.” Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang ‘aqidah. Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam, Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi ﷺ.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian. Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit. Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu? Membebaskan yang teperbudak, membagi makan pada hari susah dan sesak, pada yatim yang berkerabat, hingga orang miskin yang amat melarat.

“..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang..” (QS Al Balad [90]: 17)

 

Catatan :

Salim A. Fillah dilahirkan di Yogyakarta, 21 Maret 1984. Almuni FT UGM dan Psikologi IAIN Sunan Kalijaga. Penulis buku best seller : Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan (2003), dan beberapa buku lainnya. Selain penulis buku, ia juga aktif sebagai pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta.

Ekspor dan Reindustrialisasi by Ahmad Erani Yustika

Perkembangan mutakhir menunjukkan kinerja perdagangan internasional masih jauh dari harapan. Ekspor bersih Indonesia melambat signifikan dan berpengaruh buruk terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2010 – 2011, ekspor bersih masih berkontribusi positif terhadap PDB (1,68% dan 1,41%). Tetapi, sejak 2012 – 2014 peranan ekspor bersih negatif terhadap PDB, masing-masing 1,4%; 1,81%; dan 1,76% (BPS, 2014).

Bagaimana jika ekspor tidak kunjung membaik? Pertama, neraca transaksi berjalan cenderung tertekan. Peranan transaksi perdagangan barang menjadi penopang utama kinerja neraca transaksi berjalan.

Kedua, stabilitas moneter akan terganggu (nilai tukar rupiah dan inflasi).

Ketiga, ketersediaan valas cenderung menurun, padahal dibutuhkan untuk pembayaran utang dan impor.

Figur Neraca Perdagangan

Memasuki 2015 kinerja ekspor-impor pun masih menunjukkan performa serupa. Sepanjang Januari-Maret, ekspor hanya US$ 39,1 miliar; menurun dari US$ 44,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (turun 9,75%, yoy). Ekspor nonmigas juga menurun sekitar 6,61% (yoy) dari posisi US$ 36,4 miliar menjadi US$ 33,4 miliar. Namun, secara bulanan total ekspor Maret 2015 meningkat 12,63% (mom) dan ekspor nonmigas naik 12,5% (mom).

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2015 adalah bahan bakar mineral, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada nikel. Pada sisi impor, sepanjang Januari-Maret 2015 total impor mencapai US$ 36,7 miliar (turun 13,39%, yoy), sedangkan total impor nonmigas mencapai US$ 30,5 miliar (turun 2,07%, yoy). Data Maret 2015 mendeskripsikan total impor maupun impor nonmigas meningkat 9,29% (mom) dan 5,32% (mom) [BPS, 2015].

Penurunan impor nonmigas terbesar pada golongan besi dan baja, sedangkan peningkatan terbesar bersumber dari golongan mesin dan peralatan mekanik.

Dengan begitu, realisasi data ekspor dan impor itu dapat dikatakan belum terdapat perkembangan berarti. Justru kinerja perdagangan internasional (terutama ekspor) merosot cukup tajam. Kecenderungan depresiasi nilai tukar (yang menjadikan harga komoditas nasional lebih murah di luar negeri) tidak terekam dari performa ekspor. Depresiasi nilai tukar malah memukul impor, padahal saat ini industri nasional masih bergantung bahan baku impor. Keadaan ini bisa memunculkan percepatan deindustrialisasi yang sudah terjadi sejak 8 tahun terakhir.

Data setelah 2007 menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat, di mana penurunan nilai ekspor beriringan dengan turunnya sumbangan sektor industri terhadap PDB. Dengan kata lain, reindustrialisasi bisa berjalan dengan cepat apabila ditopang dengan penguatan ekspor, demikian sebaliknya.

Jadi, dari sisi ekspor perekonomian nasional masih terpasung pada ekspor komoditas primer, yang harganya ditentukan oleh pasar internasional. Selain itu, pesaingnya pun sangat banyak. Crude Palm Oil (CPO), misalnya, bersaing dengan Malaysia. Pasar komoditas internasional masih cenderung lesu karena sektor keuangan mulai beriak sejalan dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat.

Faktor lainnya berhubungan dengan kelanjutan penurunan permintaan dari negara-negara tujuan impor utama, seperti China dan Uni Eropa. Sektor industri China cenderung memburuk, sedangkan ekonomi Uni Eropa terhalang persoalan deflasi.

Problem lainnya terkait dengan penurunan harga. Harga CPO, misalnya, pada Maret 2015 US$ 634,38 per metric ton atau turun hingga 21,8% (yoy) [Indexmundi, 2015].

Pasar Baru dan Logistik

Selain persoalan komoditas, ekspor nasional juga belum mampu menjangkau negara-negara tujuan baru. Sampai sekarang ekspor sebagian besar mengalir ke ASEAN (20,45%), Amerika Serikat (11,3%), Jepang (10,66%), dan Uni Eropa (10,89%) [BPS, 2015]. Ketergantungan yang begitu tinggi pada kawasan dan negara-negara tertentu akan berdampak buruk saat terjadi gejolak ekonomi.

Pada sisi impor, persoalan yang muncul adalah ketergantungan kepada sektor industri, dalam arti sektor industri sangat mengandalkan bahan baku impor. Data Maret 2015 menunjukkan total impor bahan baku/penolong mencapai US$ 27,6 miliar (75,45%); barang modal US$ 6,4 miliar (17,63%); dan barang konsumsi US$ 2,5 miliar (6,92%) (BPS, 2015).

Industri-industri utama di Indonesia justru memiliki kandungan impor yang sangat tinggi. Industri tekstil, misalnya, kandungan impor mencapai 90%. Contoh lainnya adalah industri makanan, yang sebagian besar menggunakan bahan baku gandum. Celakanya lagi, jenis-jenis industri ini berkarakteristik industri padat karya. Tingginya impor bahan modal juga berhubungan dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang mensyaratkan penggunaan teknologi dari negara asal.

Tentu saja, persoalan lainnya yang menekan perkembangan ekspor dan impor adalah keterbatasan infrastruktur. Sayangnya, berbagai indikator infrastruktur pendukung ekspor-impor masih sangat buruk. Biaya logistik di Indonesia mencapai 27% terhadap PDB (2012). Angka tersebut jauh di atas beberapa negara tetangga, seperti Korea Selatan 16,3%; Malaysia 15%. Sementara itu, biaya logistik terhadap PDB di Jepang hanya 10,6%; Amerika Serikat 9,9%; dan rata-rata Eropa 8 – 11% (Various Sources, 2013).

Bukan hanya itu, dari segi waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan nasional masih jauh dari efisien. Pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan sekitar 8-8,7 hari untuk bongkar muat; Singapura (1,5 hari); Hong Kong (2 hari); Perancis (3 hari); Los Angeles (4 hari); Australia (3 hari); Malaysia (4 hari); dan Thailand (5 hari) [ALFI, 2013]. Dengan begitu, persoalan ekspor dan impor tidak bisa dirampungkan dengan jalan pintas.

Menyimak kondisi ini, dibutuhkan kebijakan yang terukur, konsisten, dan berdimensi jangka panjang. Jika ekspor hendak digalakkan bersamaan dengan kenaikan nilai tambah, maka sektor industri harus digarap serius, salah satunya ketegasan pemerintah soal regulasi ekspor bahan mentah. Pemerintah juga harus memperluas jangkauan ekspor di luar negara-negara utama. Promosi ekspor menjadi bagian yang penting dan Kementerian Perdagangan mesti sigap mengerjakan tanggung jawab ini.

Dari sisi impor, upaya mengurangi kebergantungan impor dapat dilakukan dengan membangun struktur industri domestik yang kuat. Definisi tersebut merujuk kepada industri berbasis lokal, baik dari bahan baku maupun pelaku ekonomi. Dengan demikian ketergantungan terhadap impor sekaligus juga akan menurunkan ketergantungan terhadap PMA.

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah menyediakan dan memerbaiki infrastruktur pendukung. Tema ini nyaris menjadi klise, tapi memang faktual menjadi penyakit ekonomi nasional. Pemerintah juga telah menyadari dan menetapkan berbagai target perbaikan infrastruktur dalam RAPBN-P 2015, seperti rasio biaya logistik menjadi 23,6%; dan rata-rata dwelling time menjadi 5-6 hari.

Meskipun target ini masih jauh dari kebutuhan ideal, tapi sekurangnya telah ada tekad perbaikan dari waktu ke waktu. Sinyal baik ini tentu harus dirawat lewat realisasi yang bisa dirasakan secara nyata.

 

Catatan :

Ditulis pada 21 April 2015 by Ahmad Erani Yustika di www.ahmaderani.com
*Ahmad Erani Yustika, Ekonom Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif Indef.

Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Dirjen Pembangunan & Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi Republik Indonesia.
**Abdul Manap Pulungan, Peneliti Senior Indef

Darurat Ketimpangan Ekonomi by Mohamad Sohibul Iman

 
Ilustrasi: kompas.com

Di suatu pagi tahun 1921, Sukarno muda-yang saat itu masih kuliah-tiba-tiba ingin berkeliling naik sepeda menyusuri daerah selatan Kota Bandung. Dalam perjalanannya, Proklamator itu bertemu dengan seorang petani.

Terjadilah dialog antara keduanya, seperti tertuang dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat-nya Cindy Adams.

“Siapa pemilik tanah ini?” tanya Bung Karno.

“Saya Tuan,” jawab petani.

“Apakah kau miliki ini bersama-sama dengan orang lain?”

“Tidak Tuan. Saya memilikinya sendiri.”

“Apakah kau membelinya?”

“Tidak Tuan, saya dapatkan dari warisan orang- tua.”

“Hasil pertanianmu untuk siapa?”

“Untuk saya Tuan.”

“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”

Dengan mengangkat bahu sebagai tanda kecewa, sang petani menjawab, “Bagaimana mungkin sawah yang begini sempit lahannya bisa mencukupi kebutuhan istri dan empat orang anak?”

Di akhir dialog, Bung Karno menanyakan siapa namanya, kemudian dijawab, “Marhaen!” Sejak saat itulah Bung Karno menjadikan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangannya.

Cerita tentang Marhaen ternyata masih relevan dengan kondisi kekinian. Jika saja Bung Karno masih hidup, mungkin wajahnya murung meratapi nasib rakyatnya yang masih dalam kubangan kemiskinan meski sudah 70 tahun merdeka. Yang cukup menyedihkan, ketimpangan ekonomi justru kian menjadi-jadi.

Coba kita lihat bagaimana indeks ketimpangan distribusi pendapatan melaju pesat. Di tahun 2000, rasio gini kita masih di angka 0,30, tetapi pada 2014 sudah menembus 0,41. Di daerah perkotaan, rasio gini bahkan mencapai 0,47. Secara khusus Bank Dunia pada 2015 mencatat laju peningkatan ketimpangan ekonomi di Indonesia termasuk paling tinggi di Asia Timur.

Dalam hal distribusi aset lebih memprihatinkan. Rasio gini penguasaan lahan mencapai angka 0,72. Angka ini lebih tinggi daripada rasio gini pendapatan. Badan Pertanahan Nasional bahkan mencatat, 56 persen aset berupa tanah, properti, dan perkebunan hanya dikuasai oleh sekitar 0,2 persen penduduk. Ironis!

Agenda nasional

Mengatasi darurat ketimpangan ekonomi harus jadi agenda nasional. Pemerintah dan seluruh elite negeri ini tidak boleh menutup mata. Ketimpangan ekonomi yang kronis akan jadi faktor pendorong revolusi sosial, politik, dan krisis ekonomi.

Kita harus belajar dari krisis Musim Semi Arab di Timur Tengah dan krisis keuangan global 2008. Kedua peristiwa itu contoh gagalnya negara-negara mengatasi ketimpangan ekonomi.

Ketimpangan ekonomi juga pemicu meledaknya krisis keuangan global terburuk dalam sejarah perekonomian dunia pasca depresi besar 1930. Adalah Raghuram Rajan dari Universitas Chicago dan mantan Kepala Ekonom IMF yang pertama kali mengutarakan analisis tajamnya bahwa krisis keuangan global 2008 dipicu tingginya ketimpangan ekonomi di AS. Ketimpangan ini mendorong Pemerintah AS bersama Kongres, Bank Sentral AS, lembaga rating,dan bankir investasi secara gegabah berbondong-bondong menawarkan skema investasi properti berupa subprime mortgage, yang ternyata jadi bom waktu jatuhnya pasar keuangan AS dan negara maju lainnya.

Senada dengan Rajan, Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel Ekonomi dari Universitas Columbia, menggarisbawahi bahwa ketimpangan ekonomi tak hanya merusak sistem keuangan AS dan negara maju, juga melumpuhkan institusi-institusi demokrasi, seperti partai politik, legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Darurat ketimpangan ekonomi menyebabkan demokrasi dibajak oleh kaum oligarki. Mereka akan membuat kebijakan yang hanya menguntungkan dan melanggengkan kekuasaan serta kepentingan ekonomi mereka dan kroni-kroninya. Selain itu, tingginya ketimpangan ekonomi akan menyebabkan masyarakat mengalami ketidakpercayaan baik secara vertikal maupun horizontal. Ada kecemburuan antarsesama dan kemarahan kepada elitenya karena telah menyuguhkan dunia yang timpang. Di saat yang sama, masyarakat yang terbelah akan mengancam kohesi sosial dan menghancurkan sendi-sendi bangunan kepercayaan sebuah negara-bangsa. Sebab, darurat ketimpangan akan menciptakan darurat rasa ketidakadilan.

Transformasi struktural

Ketimpangan ekonomi yang terjadi di republik ini adalah masalah struktural. Ini buah dari kebijakan negara yang salah arah. Perlu ada transformasi struktural untuk memperbaikinya.

Transformasi struktural adalah kebijakan keberpihakan dari negara untuk menciptakan struktur perekonomian yang memberikan rasa keadilan dan kesetaraan. Keadilan dan kesetaraan tersebut tecermin dari empat hal: distribusi pendapatan, kekayaan/aset, kesempatan, dan kewilayahan yang berkeadilan.

Siapa yang harus memulai terlebih dulu? Pemerintah!

Kebijakan redistribusi aset seperti reforma agraria harus tegas memihak kepentingan publik, terutama kalangan rumah tangga petani yang termarjinalkan. Pemerintah harus berani memberikan batasan penguasaan aset dan sumber daya perekonomian nasional. Sangat tidak bijak jika para pemodal mengeksploitasi aset-aset republik ini demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang semu. Tidak ada guna pertumbuhan yang tinggi jika yang menikmati kue perekonomian nasional hanya kalangan the haves dan meninggalkan kelompok the have nots.

Dari sisi kebijakan industrial, pemerintah harus menyadari bahwa kita telah mengalami deindustrialisasi prematur. Struktur ekonomi terlalu cepat masuk sektor non-tradable atau jasa. Sementara struktur industri manufaktur kita mengalami penurunan baik secara produktivitas, daya saing maupun nilai tambah. Perlu ada upaya melakukan pendalaman struktur industri kita. Indonesia sudah saatnya jadi pusat mata rantai ekonomi global.

Dari sisi kebijakan fiskal dan moneter, harus dibuat semacam big push policy yang bisa menggerakkan sektor-sektor informal produktif dari masyarakat menengah-bawah agar terakselerasi kemampuannya dan bisa naik kelas. Desain sistem insentif lembaga keuangan harus berpihak pada mayoritas masyarakat menengah-bawah yang justru kurang tersentuh. Sekitar 60 persen masyarakat kita bekerja di sektor informal. Karena itu, transformasi struktural harus mampu mengubah informalitas ekonomi jadi formalitas ekonomi. Pemerintah harus lebih mengutamakan investasi pada sisi intangible assetdibandingkan tangible asset. Kebijakan anggaran pemerintah harus berorientasi pembangunan jangka panjang dengan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Transformasi struktural juga harus bisa mengubah perekonomian berbiaya mahal jadi efisien. Dengan begitu, negara akan mampu menciptakan ekosistem perekonomian nasional yang bisa menciptakan daya inovasi dan melahirkan apa yang disebut grassroots innovator.

Transformasi struktural juga diharapkan mampu membangun perekonomian yang tidak hanya di kota, tetapi juga mampu menstimulus pertumbuhan dari pinggiran, seperti daerah pedesaan dan sumber daya maritim kita.

Penulis yakin, kepemimpinan yang tegas dengan visi yang jelas akan mampu mendobrak kusutnya darurat ketimpangan ekonomi ini. Dibutuhkan nyali yang kuat dan nurani yang bersih untuk menjalaninya.

 

Catatan : Tulisan ini di muat di: http://print.kompas.com/baca/2016/02/16/Darurat-Ketimpangan-Ekonomi . Diterbitkan di Harian Kompas 16 Februari 2016, halaman 7

– See more at: http://sohibuliman.com/2016/02/19/darurat-ketimpangan-ekonomi/#sthash.ZNfjJEWp.dpuf

Speak to Change dan Hikmahnya

Saya bersyukur suatu ketika diberi kepercayaan menjadi komandan regu gerak jalan. Pak Wasiyo atau lebih akrab dipanggil Pak Yoyok (Doa saya untuk almarhum). Beliau adalah guru kelas lima sekaligus Pembina Pramuka. Sudah 2 tahun saya masuk tim inti gerak jalan. Salah satu kegiatan prestisius anak sekolah pada jaman itu. Pasalnya, Pemerintah Kota Malang mengadakan lomba gerak jalan setiap menjelang peringatan hari ulang tahun kota. Diikuti hampir seluruh sekolah setingkat SD, SMP, SMA di Kota Malang. Pada hari penyelenggaraan, Kota Malang berwarna warni. Bendera, umbul-umbul, kain rentang plus seragam peserta yang membuat semarak Kota Apel itu. Perhelatan lomba itu seakan daya tarik tersendiri bagi warga kota. Hiburan gratis.

Khusus team SD Cor Jesu, Suster Melanie selaku kepala sekolah punya kebijakan tersendiri. Anggota tim harus punya prestasi akdemik yang baik. Hanya boleh diikuti siswa kelas 5 dan 6. Terseleksi 50 orang dari 300 siswa. 25 untuk Tim Putra. 25 lagi untuk Tim Putri. Syarat itu bukan tanpa alasan. Selama sebulan penuh, kami digembleng di area Tembalangan. Tentunya meninggalkan jam pelajaran. Tapi prestasi sekolah tidak boleh keteteran. Prestasi harus tetap moncer. Fisik juga tetap fit.

Rasa syukur itu bertambah dengan kebanggaan. Kami 2 tahun berturut menyabet juara tingkat SD se Kota Malang. Di samping itu, saya pun mulai berani bicara di depan umum dengan pede. Mau tidak mau saya harus berbicara di depan tim. Melakukan pengarahan atau hal lain sebagai penyambung pesan Pak Yoyok, Sang Pelatih. Sejak saat itulah saya acapkali mengambil peran di depan.

Pengalaman masa kecil itu hingga beberapa rentetan peristia setelahnya melintas di benak saya, ketika membaca buku ‘Speak to Change’ karya Pak Jamil Azzaini. Salah satu guru yang dikirimkan Allah kepada saya. Banyak hal dikemukakan tentang bagaimana kemampuan bicara itu bisa memberikan perubahan. Saya ingin lebih menekankan pada pokok bahasan ‘Manfaat Bicara”.

 

Self improvement.

Saya yakin setiap individu punya keunikan. Khusus hal bicara juga demikian. Bagi saya yang dulunya dapat dikatakan pendiam, ketika dipaksa harus bicara, mau tidak mau harus dilakukan. Berani ngomong saja sudah OK. Tapi setelah diberikan latihan sedikit dan meniru yang dilakukan Pak Yoyok atau guru yang lain, saya pun bisa meningkatkan kemampuan diri lebih baik lagi. Saya pun lebih banyak dikenal orang. Kalau yang ini nampak ge er sedikit ya.

 

Mengubah orang.

Alhamdulillaah, hampir setiap kelas hingga kuliah, saya dipercaya menjadi ketua kelas. Bahkan ketika kuliah ditunjuk jadi Danki (baca : komandan kompi) untuk mahasiswa Fakultas Teknik UB angkatan 1989. Ketika menjadi orang yang ditunggu bicaranya, maka saya pun mulai memilih kata atau kalimat yang tepat. Apalagi ketika diminta memberikan masukan dan memompa semangat seorang teman yang hampir terkenan DO. Drop out karena prestasinya cenderung menurun. Ternyata dengan pilihan kalimat dan momen yang pas, bisa mengubah pola pikir dan pola hidup. Puji syukur, seijin Allah SWT, ia pun berubah menjadi mahasiswa yang lolos kualifikasi. Ia pun lulus dan punya keahlian khusus. Kini ia menjadi salah satu alumni yang membanggakan almamater kami.

 

Networking.

Kegemaran suka berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada perguruan tinggi atau perusahaan lain, telah memberikan kesan tersendiri bagi orang lain. Saya tidak menyangka pernah mendapat telepon dari seseorang agar saya berkenan menjadi nara sumber. Penelpon ternyata salah satu peserta beberapa bulan sebelumnya. Ia terkesan dan ingin mendapatkan hal serupa untuk timnya. Hal itu juga berlangsung beberapa kali dengan orang yang berbeda. Bahkan pernah diundang interview karena pejabat perusahaan ini menjadi peserta salah satu seminar saya. Kemampuan bicara saya menambah teman bahkan saudara.

 

Passive Pahala.

Saya suatu ketika bertemu dengan mantan teman kerja di salah satu perusahaan. Ia ternyata menjadi pengusaha. Beberapa koleganya malah menyebutnya pengusaha sukses. Ia dengan semangat menceritakan perjalanan usahanya. Ada hal yang membuat saya trenyuh. Beliau mengungkapkan :

“Pak Haji (beliau selalu memanggil saya dengan sebutan itu), masih ingat 8 tahun lalu, ketika itu kita berdiskusi beberapa kali. Apa yang Pak Haji sampaikan, saya terapkan pada perusahaan yang saya bangun. Alhamdulillaah, jadinya seperti ini”.

Ya Allah, saya pun sudah lupa tepatnya kapan. Memang beberapa tahun lalu, saya intens diminta mendampingi proses pengembangan usahanya. Saya pun lama tidak kontak fisik lama sekali karena pindah pekerjaan dan bermigrasi ke Medan. Ternyata ide kecil itu diterapkannya. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal sholeh.

 

Menciptakan Mesin Uang.

Pernah suatu ketika saya menjadi pembicara karena direkomendasikan oleh orang lain. Pemberi rekomendasi adalah orang yang sering menyimak tulisan saya. Pun beliau beberapa kali menikmati sesi pelatihan yang saya bawakan. Saya takjub ketika disodori kontrak yang nilainya seperempat gaji saya sebagai karyawan. Padahal ketika itu saya hanya diminta mengisi 4 sesi atau selama 8 jam. Subhanallaah.

Saya pun tambah terlecut untuk menerbitkan ide dan tulisan saya menjadi buku. Mohon doanya ya, semoga bisa segera terbit. Berharap menajdi ladang amal yang lain.

 

Masih banyak butiran hikmah dan bagaimana kita dibimbing dan disemangati Pak Jamil dalam bukunya. Guidance untuk menjadikan kemampuan bicara kita yang dapat mengubah.

“Semua orang yang mau naik kelas, wajib bicara” (Jamil Azzaini)

Bicara kita adalah ide yang menggerakkan, baik tim atau masyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin, mampu memberikan kontribusi positif untuk membangun negeri yang kita cintai ini, Indonesia.

Tak lupa senantiasa memanjatkan doa :

“Ya Rabb-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

(QS. Thaha : 25-28)

From Money to Meaning by Jamil Azzaini

Dunia bisnis berubah begitu cepat. Riset yang dilakukan IBM baru-baru ini menyimpulkan: Dulu, pesaing mudah dikenali. Sekarang pesaing muncul secara tiba-tiba. Jumlah innovator meningkat ribuan kali lipat. Kekuatan social media meningkat 100 kali lipat. Perlu mengubah banyak paradigma dalam situasi seperti ini.

Beberapa paradigma baru perlu ditanam kuat dalam benak kita. Pertama, from money to meaning. Bekerja bukan hanya mengejar bayaran tetapi juga bisa memberikan arti dan manfaat kepada sekitar. Bekerja bukan hanya aktivitas rutin tetapi bisa memuaskan batin. Kubik Training bersama Telkomsel saat ini tengah mensosialisasikan “Spirituality at Work” dengan tema “From Money to Meaning” ke berbagai kota di Indonesia.

Paradigma kedua, from closing to empowering. Dulu, saat jualan yang terpikir di benak banyak penjual adalah “yang penting closing.” Sekarang, para marketer dan juga para sales perlu memikirkan empowering apa yang diterima oleh pembeli. Empowering bisa berupa kemudahan, value, manfaat, experience baru yang bisa diterima para pembeli. Para penjual bermetamorfosis menjadi seorang konsultan yang memberikan solusi dan memberdayakan para pembeli.

Paradigma ketiga yang perlu kita tanamkan di benak kita adalah from working to serving. Kita berangkat ke kantor bukan lagi untuk bekerja tetapi untuk memberikan pelayanan kepada banyak orang. Semakin bisa melayani dengan baik maka kepuasan akan datang ke diri kita. Semakin banyak yang bisa menerima manfaat dari pekerjaan kita maka kita semakin happy. Kita adalah “pelayan” bagi banyak orang.

Pahamilah tanda-tanda zaman. Bagi saya, peristiwa gerhana matahari total 9 Maret 2016 lalu bukanlah peristiwa alam biasa. Ia juga mengirim sinyal kepada kita bahwa sebesar, sekuat dan secerah apapun bisnis kita saat ini bisa tertutup oleh pendatang baru yang kemudian mengalahkan dan melumpuhkan. Mau? Tentu tidak. Segera ubah banyak paradigma yang sudah tidak relevan di era disruptive ini.

Salam SuksesMulia!

Tugas Sepele tapi Berdampak

Belanja ke pasar saat saya masih pelajar SMP adalah hal rutin. Hampir setiap pagi saya melakukan tugas itu. Ibu saya memberikan pelatihan pembelian sejak dini. Upaya itu dilakukan untuk mengoptimalkan waktu. Beliau bisa melakukan hal lain.

Bapak saya memang membuat aturan bahwa paspor kami keluar rumah adalah sarapan pagi. Jika tidak melaksanakan, jangan harap bisa keluar rumah. Apa pun alasannya, harus makan pagi.

Guna mempercepat belanja, Ibu saya memberikan catatan kecil. Daftar belanja, jumlah yang harus dibeli dan beli dimana.Khusus jumlah yang harus dibeli, Ibu memberikan perintah ringan :

“Beli sop-sopannya (sayur mayur : kol, kentang, wartel), 50 rupiah saja. Beli di Mbok Ijah. Tempe 50 di Mas Kardi, minta dipotong sekalian”, begitu biasanya.

Saya tahu tempatnya, karena saya pas es de sudah sering diajak Ibu ke pasar. Tempat penjual yang dimaksud pun jadi di luar kepala. Karena memang posisi mereka sudah paten. Tidak berpindah. Pukul 5 lebih sedikit, biasanya sudah beres belanja. Wal hasil, sebelum pukul 6 pagi, sarapan beres. Rumah pun sudah rapi. Ibu dengan tenang pergi ke kantor. Saat itu beliau masih aktif menjadi PNS di sebuah instansi militer.

Jarak pasar dengan rumah ketika itu hanya 10 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh. Secara tidak langsung juga olah raga pagi.

Proses yang dilakukan Ibu tersebut, adalah juga terobosan menurut saya. Ada 3 hal yang dapat saya petik.

Berpikir dari akhir.

Beliau punya target, pukul 6 pagi sarapan beres. Rumah Rapi. Sehingga, beliau melakukan pemetaan apa dan bagaimana pekerjaan dilakukan. Dengan diketahui lebih awal, maka bisa dihitung juga berapa lama dibutuhkan waktu untuk menuntaskannya. Jadi tidak heran, Jika beliau hampir selalu bangun pukul 4 pagi. Rentang waktu 2 jam, sudah memadai untuk menyelesaikan task force tersebut.

Delegasi .

Kita tidak dapat melaksanakan seluruh pekerjaan pada waktu yang sama. Delegasi diperlukan. Saya belanja ke pasar. Kakak ada yang membantu membersihkan kandang ayam. Bapak membersihkan kandang burung dan memberi makan. Sehingga tenggat yang diberikan tetap masuk. Sarapan tersedia sebelum pukul 6 pagi.

Efektivitas waktu.

Untuk menggunakan waktu yang efektif dan efisien, maka dilakukan urutan pekerjaan. Proses mana yang bisa dilakukan sendiri. Pekerjaan mana yang perlu dilakukan orang lain. Ada juga, task force yang dapat dilakukan paralel. Misal dalam konteks tadi, Ibu menanak nasi sembari melakukan pekerjaan lain. Maklum kami keluarga besar, proses menanak dilakukan 2 tahap. Ngaru dan adang (mengaru dalam panci besar dan menanak di dalam dandang). Saat adang, sembari membersihkan rumah.

Proses belanja pun dibuat lebih simple. Tidak ada negosiasi saat saya membeli. Karena proses negosiasi dilakukan saat awal belanja. Beliau pun sudah punya penjual tetap. Loyal vendor. Sehingga dengan harga tertentu, beliau tahu akan mendapatkan barang seberapa banyak.

Meski sederhana, proses tersebut sedikit banyak mewarnai hidup saya saat ini. Ibu mengajarkan banyak hal. Termasuk mengajari saya jadi buyer. Memberikan pelajaran jadi planner. Bisa jadi itu semua hal kecil, tapi telah memberikan sumbangsih pembentukan pribadi. Sepele tapi berdampak.